Apa itu Ceuta di Spanyol yang Jadi Tujuan Ribuan Migran Maroko?
Wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, menjadi sorotan usai puluhan ribu warga Maroko menyeberangi laut untuk mencapai daerah tersebut.
Sekitar 60.000 warga di Maroko mempertaruhkan nyawa demi ke Ceuta pada pekan lalu. Namun dalam waktu 48 jam, lebih dari 48.000 orang yang menyeberang telah dikembalikan ke Maroko, demikian dikutip Al Jazeera, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, migrasi massal ini telah menyebabkan 72 orang tewas dan lebih dari seribu orang dirawat layanan kesehatan. Sebagian migran yang tewas karena tenggelam di laut hingga terinjak-injak saat mencoba memanjat pemecah gelombang dan pagar perbatasan.
Ceuta dan wilayah lain Melilla merupakan kota otonom Spanyol yang berada di Afrika Utara. Kedua kota itu sering mengalami peningkatan jumlah orang yang menyeberang dan ingin bermigrasi ke Eropa.
Untuk mencapai Ceuta, para migran sering berenang sekitar 5 km dari kota Fnideq di Maroko.
Apa itu Ceuta?
Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara. Wilayah ini dikelilingi pagar ganda dengan kawat berduri.
Ceuta menjadi target bangsa-bangsa yang ingin melakukan ekspansi atau koloni karena letaknya yang strategis dan dekat dengan Selat Gibraltar. Wilayah ini dikenal sebagai pusat perdagangan gading, emas, dan budak, demikian dikutip Britannica.
Sebelum dikuasai Eropa, Ceuta pernah berada di bawah naungan dinasti Islam di Afrika Utara termasuk Dinasti Marinid dari Maroko.
Kemudian pada 1415, Portugal sukses menguasai Ceuta. Setelah berhasil, Portugal terus menjajah kota-kota pesisir Maroko seperti Tangier, Casablanca, serta Safi dan membangun benteng-benteng militer di sana.
Pada 1580, wilayah tersebut jatuh ke tangan Spanyol usai Raja Philip II naik takhta. Dia naik ke tampuk kekuasaan saat Portugal dilanda krisis, sehingga selama memimpin Spanyol dan Portugal ada di gengamannya.
Lalu pada 1640, warga Portugal memberontak ingin memisahkan diri dari Spanyol. Namun, mayoritas penduduk dan bangsawan di Ceuta memilih untuk tetap berada di bawah kendali Spanyol.
Kemudian pada 1668, Spanyol mengakui secara penuh kemerdekaan Portugal melalui Perjanjian Lisbon. Dengan kesepakatan ini pula lah, Ceuta diserahkan ke Spanyol.
Sekitar dua setengah abad kemudian, Spanyol dilanda Perang Saudara antara pemerintah yang berhaluan kiri dengan kubu militer yang berhaluan kanan atau nasionalis.
Pada 1936, Jenderal Francisco Franco dan perwira militer meluncurkan serangan dari Afrika Utara termasuk Ceuta untuk menggulingkan pemerintah sah. Kala itu, Ceuta jadi basis pertahanan Fanco. Dia bahkan dibantu pasukan dari wilayah tersebut.
Ceuta semacam jadi tempat perjuangan awal Franco dan merasa berutang budi. Jenderal militer itu akhirnya berhasil menguasai utuh Spanyol pada 1939 hingga 36 tahun kemudian.
Di masa kepemimpinan Franco pula lah, Spanyol membuat Ceuta jadi bagian provinsi mereka.
Namun, di tengah kepemimpinan Franco pula, Maroko (yang sebagian wilayahnya dijajah Spanyol) berusaha memerdekakan diri. Spanyol mulanya menguasai wilayah utara dan selatan Maroko, sementara bagian tengah dikuasai Prancis.
Saat gejolak itu memuncak, Prancis melepas wilayah jajahannya. Spanyol pun akhirnya mengikuti langkah serupa. Maroko merdeka pada 1956.
Meski sudah merdeka, Maroko tak mengakui Ceuta sebagai bagian dari Spanyol. Wilayah itu pula yang kerap jadi titik konflik kedua negara itu hingga sekarang.
Kemudian pada 1975, Franco meninggal dan Spanyol berubah jadi negara Demokrasi. Negara ini lantas membuat Konstitusi Baru pada 1978 yang mencakup pembagian wilayah otonom.
Lalu pada 1995, Spanyol mengesahkan undang-undang status Kota Otonom untuk Ceuta dan Melilla karena ingin memperkuat hukum atas kedua wilayah ini.


