Apa Itu Terusan Pinglu, 'Jalur Sutra' Baru China Sepanjang 134 Km?
tim | CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 11:25 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
(Foto: AFP/-)
Ribuan warga direlokasi
Pembangunan Terusan Pinglu juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di wilayah proyek.
Proses relokasi melibatkan 2.764 rumah tangga atau 11.228 orang di empat kabupaten dan kota setingkat kabupaten di Guangxi, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Di Hengzhou, sebanyak 368 rumah menandatangani perjanjian relokasi. Rumah-rumah tersebut kemudian dihancurkan dari area seluas 84.200 meter persegi. Sebanyak 1.221 orang dipindahkan sementara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah tidak hanya memberikan kompensasi finansial. Sebanyak 21 model rumah dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan dan kebutuhan warga, termasuk ruang menerima tamu, tempat mengeringkan hasil panen, kandang unggas, serta tempat menyimpan bahan kimia pertanian.
Di Shaping, salah satu kota terbesar dalam proyek pemukiman kembali, warga mendapatkan rumah empat lantai dengan luas sekitar 420 meter persegi. Sebagian rumah juga dilengkapi toko yang menghadap jalan.
Meski demikian, sejumlah warga tetap merasakan kehilangan karena harus meninggalkan desa mereka.
Di Xinfu, tempat Desa Fenghuangping sebelumnya berdiri, seorang warga yang direlokasi mengatakan, "Tidak ada lagi desa bernama Fenghuangping, tetapi dengan adanya Kanal Pinglu, masa depan akan lebih baik."
Sejumlah keluarga bahkan memindahkan pohon-pohon tua dari lokasi lama ke rumah baru mereka. Salah satunya merupakan pohon kamper berusia 217 tahun.
Proses relokasi dilakukan dalam waktu 39 hari. Pemerintah juga menjanjikan lapangan kerja di lokasi pembangunan serta pelatihan kejuruan bagi warga yang terdampak.
Jalur alternatif untuk perdagangan
Terusan Pinglu juga memiliki dimensi strategis karena China berupaya mengembangkan jalur perdagangan alternatif.
Selat dan koridor maritim menjadi bagian penting dalam perdagangan global, tetapi jalur tersebut juga dapat menjadi titik lemah ketika terjadi gangguan keamanan.
Krisis di Selat Hormuz menjadi salah satu contoh bagaimana gangguan terhadap jalur pelayaran utama dapat mempengaruhi perdagangan dan mendorong perubahan rute.
Dalam konteks tersebut, berbagai negara berupaya membangun jalur alternatif, fasilitas penyimpanan, jaringan pipa, serta koridor transportasi untuk mengurangi ketergantungan pada rute tertentu.
Terusan Pinglu menjadi salah satu upaya China untuk membangun jalur alternatif yang lebih pendek menuju pasar Asia Tenggara.
Hubungkan China barat daya dengan Asia Tenggara
Terusan Pinglu tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Guangxi. Jalur tersebut terhubung dengan jaringan transportasi yang lebih luas hingga Chongqing, Chengdu di Provinsi Sichuan, Guizhou, dan Yunnan.
Barang dari wilayah-wilayah tersebut dapat dikirim menuju Pelabuhan Teluk Beibu sebelum diteruskan ke negara-negara Asia Tenggara dan pasar internasional.
Chongqing menjadi salah satu wilayah pedalaman utama yang akan memperoleh akses melalui jalur tersebut. Salah satu contoh aktivitas awal terjadi ketika kereta yang membawa natrium bisulfat dari Chongqing tiba di pelabuhan Nanning.
Setelah kanal dibuka, pelayaran komersial langsung juga dijadwalkan menuju Pelabuhan Can Tho di Vietnam selatan.
Di sisi lain, Pelabuhan Teluk Beibu telah meningkatkan kapasitas penanganan peti kemas secara signifikan. Kapasitasnya naik dari 2,28 juta TEU pada 2017 menjadi 10,06 juta TEU pada 2025. Pelabuhan tersebut kini memiliki jaringan pelayaran yang mencakup sejumlah pelabuhan utama di Asia Tenggara.
Dibuka gratis hingga akhir 2026
Guangxi menerapkan sistem biaya transit bertingkat untuk penggunaan Terusan Pinglu.
Kapal komersial yang melewati tiga pintu air di sepanjang kanal tidak dikenai biaya hingga 31 Desember 2026.
Mulai 1 Januari 2027, operator akan dikenai tarif sebesar satu yuan atau sekitar US$0,14 untuk setiap ton kapasitas kapal setiap kali melewati pintu air. Tarif percobaan tersebut akan berlaku hingga September 2031.
China dorong kawasan industri
Pemerintah Guangxi juga menyiapkan "Sabuk Ekonomi Kanal Pinglu" untuk mengembangkan industri di sepanjang koridor tersebut.
Program itu bertujuan menarik industri baru sekaligus menghubungkan kawasan produksi dengan pelabuhan, jaringan transportasi, dan rantai pasokan.
Sektor yang menjadi sasaran antara lain logam non-ferrous, mineral kritis, bahan kimia hijau, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi.
Zona industri juga dikembangkan di sekitar pelabuhan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak antara pusat produksi dan lokasi pengiriman barang.
Dorong perdagangan China-ASEAN
Pembangunan Terusan Pinglu berlangsung ketika hubungan perdagangan China dan Asia Tenggara terus berkembang.
Menurut Administrasi Umum Bea Cukai China, nilai perdagangan bilateral China dan ASEAN pada paruh pertama 2026 mencapai sekitar 4,34 triliun yuan atau sekitar US$640 miliar. Angka tersebut meningkat 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CGTN menyebut pembukaan kanal itu memiliki momentum penting karena China dan ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut.
China resmi membuka Terusan Pinglu atau Kanal Pinglu di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang untuk sebagai jalur perdagangan baru pada Rabu (16/9). Jalur ini bisa langsung terhubung dengan kawasan Asia Tenggara.
Terusan sepanjang sekitar 134 kilometer itu menghubungkan jalur Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu dan memangkas jarak pelayaran dari wilayah pedalaman China barat daya menuju laut hingga lebih dari 560 kilometer.
Pembukaan Terusan Pinglu menjadi bagian dari upaya China memperkuat jalur perdagangan dengan Asia Tenggara.
Media pemerintah China, CGTN, menyebut kanal tersebut sebagai "gerbang baru untuk perdagangan China-ASEAN".
Terusan Pinglu seluruhnya berada di Guangxi, wilayah China yang berbatasan dengan Vietnam dan menghadap Laut China Selatan. Jalur ini menghubungkan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu, bagian barat laut Teluk Tonkin yang berada di antara China selatan dan Vietnam utara.
Proyek strategis China
Terusan Pinglu merupakan proyek river-to-sea atau sungai-ke-laut utama pertama yang direncanakan China sejak 1949. Proyek tersebut juga menjadi terusan pertama yang dibangun China setelah berdirinya pemerintahan komunis.
Terusan ini merupakan bagian dari Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru. Koridor tersebut bertujuan menghubungkan wilayah China barat dan barat daya dengan negara-negara Asia Tenggara serta pasar global.
Koridor itu juga menjadi bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan yang digagas Presiden China Xi Jinping. Inisiatif tersebut mencakup pembangunan jaringan jalan raya, pelabuhan, dan jalur kereta api untuk menghubungkan China dengan berbagai kawasan, termasuk Eropa dan Afrika.
Dengan adanya Terusan Pinglu, sejumlah wilayah pedalaman seperti Chongqing, Chengdu, Guizhou, dan Yunnan bisa memperoleh akses secara langsung menuju Asia Tenggara melalui jalur laut.
Salah satu manfaat utama Terusan Pinglu adalah penghematan jarak dan biaya transportasi.
Otoritas Guangxi memperkirakan kanal tersebut dapat memangkas jarak pengiriman antara China barat daya dan negara-negara Asia Tenggara sekitar 560 kilometer.
Jalur baru itu juga diperkirakan mengurangi biaya logistik sekitar 18 hingga 30 persen.
Wakil Sekretaris Jenderal Pemerintah Guangxi Zhang Zhiwen memperkirakan penghematan biaya transportasi dapat mencapai lebih dari 5 miliar yuan atau sekitar US$700 juta setiap tahun.
Wakil Ketua Daerah Guangxi Lu Xinning menyebut penghematan tersebut sebagai "keuntungan nyata" karena dapat mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan perdagangan domestik dan luar negeri.
Terusan itu dirancang untuk dilalui kapal dengan kapasitas hingga 5.000 ton. Pembangunan proyek tersebut menghabiskan sekitar 72,7 miliar yuan atau sekitar US$10,8 miliar.
Baca halaman berikutnya >>>>
Gusur Ribuan Warga
(Foto: AFP/-)
Ribuan warga direlokasi
Pembangunan Terusan Pinglu juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di wilayah proyek.
Proses relokasi melibatkan 2.764 rumah tangga atau 11.228 orang di empat kabupaten dan kota setingkat kabupaten di Guangxi, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Di Hengzhou, sebanyak 368 rumah menandatangani perjanjian relokasi. Rumah-rumah tersebut kemudian dihancurkan dari area seluas 84.200 meter persegi. Sebanyak 1.221 orang dipindahkan sementara.
Pemerintah tidak hanya memberikan kompensasi finansial. Sebanyak 21 model rumah dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan dan kebutuhan warga, termasuk ruang menerima tamu, tempat mengeringkan hasil panen, kandang unggas, serta tempat menyimpan bahan kimia pertanian.
Di Shaping, salah satu kota terbesar dalam proyek pemukiman kembali, warga mendapatkan rumah empat lantai dengan luas sekitar 420 meter persegi. Sebagian rumah juga dilengkapi toko yang menghadap jalan.
Meski demikian, sejumlah warga tetap merasakan kehilangan karena harus meninggalkan desa mereka.
Di Xinfu, tempat Desa Fenghuangping sebelumnya berdiri, seorang warga yang direlokasi mengatakan, "Tidak ada lagi desa bernama Fenghuangping, tetapi dengan adanya Kanal Pinglu, masa depan akan lebih baik."
Sejumlah keluarga bahkan memindahkan pohon-pohon tua dari lokasi lama ke rumah baru mereka. Salah satunya merupakan pohon kamper berusia 217 tahun.
Proses relokasi dilakukan dalam waktu 39 hari. Pemerintah juga menjanjikan lapangan kerja di lokasi pembangunan serta pelatihan kejuruan bagi warga yang terdampak.
Jalur alternatif untuk perdagangan
Terusan Pinglu juga memiliki dimensi strategis karena China berupaya mengembangkan jalur perdagangan alternatif.
Selat dan koridor maritim menjadi bagian penting dalam perdagangan global, tetapi jalur tersebut juga dapat menjadi titik lemah ketika terjadi gangguan keamanan.
Krisis di Selat Hormuz menjadi salah satu contoh bagaimana gangguan terhadap jalur pelayaran utama dapat mempengaruhi perdagangan dan mendorong perubahan rute.
Dalam konteks tersebut, berbagai negara berupaya membangun jalur alternatif, fasilitas penyimpanan, jaringan pipa, serta koridor transportasi untuk mengurangi ketergantungan pada rute tertentu.
Terusan Pinglu menjadi salah satu upaya China untuk membangun jalur alternatif yang lebih pendek menuju pasar Asia Tenggara.
Hubungkan China barat daya dengan Asia Tenggara
Terusan Pinglu tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Guangxi. Jalur tersebut terhubung dengan jaringan transportasi yang lebih luas hingga Chongqing, Chengdu di Provinsi Sichuan, Guizhou, dan Yunnan.
Barang dari wilayah-wilayah tersebut dapat dikirim menuju Pelabuhan Teluk Beibu sebelum diteruskan ke negara-negara Asia Tenggara dan pasar internasional.
Chongqing menjadi salah satu wilayah pedalaman utama yang akan memperoleh akses melalui jalur tersebut. Salah satu contoh aktivitas awal terjadi ketika kereta yang membawa natrium bisulfat dari Chongqing tiba di pelabuhan Nanning.
Setelah kanal dibuka, pelayaran komersial langsung juga dijadwalkan menuju Pelabuhan Can Tho di Vietnam selatan.
Di sisi lain, Pelabuhan Teluk Beibu telah meningkatkan kapasitas penanganan peti kemas secara signifikan. Kapasitasnya naik dari 2,28 juta TEU pada 2017 menjadi 10,06 juta TEU pada 2025. Pelabuhan tersebut kini memiliki jaringan pelayaran yang mencakup sejumlah pelabuhan utama di Asia Tenggara.
Dibuka gratis hingga akhir 2026
Guangxi menerapkan sistem biaya transit bertingkat untuk penggunaan Terusan Pinglu.
Kapal komersial yang melewati tiga pintu air di sepanjang kanal tidak dikenai biaya hingga 31 Desember 2026.
Mulai 1 Januari 2027, operator akan dikenai tarif sebesar satu yuan atau sekitar US$0,14 untuk setiap ton kapasitas kapal setiap kali melewati pintu air. Tarif percobaan tersebut akan berlaku hingga September 2031.
China dorong kawasan industri
Pemerintah Guangxi juga menyiapkan "Sabuk Ekonomi Kanal Pinglu" untuk mengembangkan industri di sepanjang koridor tersebut.
Program itu bertujuan menarik industri baru sekaligus menghubungkan kawasan produksi dengan pelabuhan, jaringan transportasi, dan rantai pasokan.
Sektor yang menjadi sasaran antara lain logam non-ferrous, mineral kritis, bahan kimia hijau, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi.
Zona industri juga dikembangkan di sekitar pelabuhan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak antara pusat produksi dan lokasi pengiriman barang.
Dorong perdagangan China-ASEAN
Pembangunan Terusan Pinglu berlangsung ketika hubungan perdagangan China dan Asia Tenggara terus berkembang.
Menurut Administrasi Umum Bea Cukai China, nilai perdagangan bilateral China dan ASEAN pada paruh pertama 2026 mencapai sekitar 4,34 triliun yuan atau sekitar US$640 miliar. Angka tersebut meningkat 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CGTN menyebut pembukaan kanal itu memiliki momentum penting karena China dan ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut.