Apa Itu Terusan Pinglu, 'Jalur Sutra' Baru China Sepanjang 134 Km?

tim | CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 11:25 WIB
This aerial photo taken on May 9, 2026 shows construction on the Pinglu Canal in Qinzhou, in Chinas southern Guangxi region. China opened a major canal on September 16, 2026 that will provide landlocked areas with direct access to the sea, state medi
(Foto: AFP/-)

Ribuan warga direlokasi

Pembangunan Terusan Pinglu juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di wilayah proyek.

Proses relokasi melibatkan 2.764 rumah tangga atau 11.228 orang di empat kabupaten dan kota setingkat kabupaten di Guangxi, seperti dilaporkan Al Jazeera.

Di Hengzhou, sebanyak 368 rumah menandatangani perjanjian relokasi. Rumah-rumah tersebut kemudian dihancurkan dari area seluas 84.200 meter persegi. Sebanyak 1.221 orang dipindahkan sementara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah tidak hanya memberikan kompensasi finansial. Sebanyak 21 model rumah dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan dan kebutuhan warga, termasuk ruang menerima tamu, tempat mengeringkan hasil panen, kandang unggas, serta tempat menyimpan bahan kimia pertanian.

Di Shaping, salah satu kota terbesar dalam proyek pemukiman kembali, warga mendapatkan rumah empat lantai dengan luas sekitar 420 meter persegi. Sebagian rumah juga dilengkapi toko yang menghadap jalan.

Meski demikian, sejumlah warga tetap merasakan kehilangan karena harus meninggalkan desa mereka.

Di Xinfu, tempat Desa Fenghuangping sebelumnya berdiri, seorang warga yang direlokasi mengatakan, "Tidak ada lagi desa bernama Fenghuangping, tetapi dengan adanya Kanal Pinglu, masa depan akan lebih baik."

Sejumlah keluarga bahkan memindahkan pohon-pohon tua dari lokasi lama ke rumah baru mereka. Salah satunya merupakan pohon kamper berusia 217 tahun.

Proses relokasi dilakukan dalam waktu 39 hari. Pemerintah juga menjanjikan lapangan kerja di lokasi pembangunan serta pelatihan kejuruan bagi warga yang terdampak.

Jalur alternatif untuk perdagangan

Terusan Pinglu juga memiliki dimensi strategis karena China berupaya mengembangkan jalur perdagangan alternatif.

Selat dan koridor maritim menjadi bagian penting dalam perdagangan global, tetapi jalur tersebut juga dapat menjadi titik lemah ketika terjadi gangguan keamanan.

Krisis di Selat Hormuz menjadi salah satu contoh bagaimana gangguan terhadap jalur pelayaran utama dapat mempengaruhi perdagangan dan mendorong perubahan rute.

Dalam konteks tersebut, berbagai negara berupaya membangun jalur alternatif, fasilitas penyimpanan, jaringan pipa, serta koridor transportasi untuk mengurangi ketergantungan pada rute tertentu.

Terusan Pinglu menjadi salah satu upaya China untuk membangun jalur alternatif yang lebih pendek menuju pasar Asia Tenggara.

Hubungkan China barat daya dengan Asia Tenggara

Terusan Pinglu tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Guangxi. Jalur tersebut terhubung dengan jaringan transportasi yang lebih luas hingga Chongqing, Chengdu di Provinsi Sichuan, Guizhou, dan Yunnan.

Barang dari wilayah-wilayah tersebut dapat dikirim menuju Pelabuhan Teluk Beibu sebelum diteruskan ke negara-negara Asia Tenggara dan pasar internasional.

Chongqing menjadi salah satu wilayah pedalaman utama yang akan memperoleh akses melalui jalur tersebut. Salah satu contoh aktivitas awal terjadi ketika kereta yang membawa natrium bisulfat dari Chongqing tiba di pelabuhan Nanning.

Setelah kanal dibuka, pelayaran komersial langsung juga dijadwalkan menuju Pelabuhan Can Tho di Vietnam selatan.

Di sisi lain, Pelabuhan Teluk Beibu telah meningkatkan kapasitas penanganan peti kemas secara signifikan. Kapasitasnya naik dari 2,28 juta TEU pada 2017 menjadi 10,06 juta TEU pada 2025. Pelabuhan tersebut kini memiliki jaringan pelayaran yang mencakup sejumlah pelabuhan utama di Asia Tenggara.

Dibuka gratis hingga akhir 2026

Guangxi menerapkan sistem biaya transit bertingkat untuk penggunaan Terusan Pinglu.

Kapal komersial yang melewati tiga pintu air di sepanjang kanal tidak dikenai biaya hingga 31 Desember 2026.

Mulai 1 Januari 2027, operator akan dikenai tarif sebesar satu yuan atau sekitar US$0,14 untuk setiap ton kapasitas kapal setiap kali melewati pintu air. Tarif percobaan tersebut akan berlaku hingga September 2031.

China dorong kawasan industri

Pemerintah Guangxi juga menyiapkan "Sabuk Ekonomi Kanal Pinglu" untuk mengembangkan industri di sepanjang koridor tersebut.

Program itu bertujuan menarik industri baru sekaligus menghubungkan kawasan produksi dengan pelabuhan, jaringan transportasi, dan rantai pasokan.

Sektor yang menjadi sasaran antara lain logam non-ferrous, mineral kritis, bahan kimia hijau, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi.

Zona industri juga dikembangkan di sekitar pelabuhan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak antara pusat produksi dan lokasi pengiriman barang.

Dorong perdagangan China-ASEAN

Pembangunan Terusan Pinglu berlangsung ketika hubungan perdagangan China dan Asia Tenggara terus berkembang.

Menurut Administrasi Umum Bea Cukai China, nilai perdagangan bilateral China dan ASEAN pada paruh pertama 2026 mencapai sekitar 4,34 triliun yuan atau sekitar US$640 miliar. Angka tersebut meningkat 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

CGTN menyebut pembukaan kanal itu memiliki momentum penting karena China dan ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut.

(mge/rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2