Kenapa Milisi Houthi Serang Arab Saudi?
Milisi Houthi di Yaman kembali menyerang Arab Saudi dengan rudal dan drone pada Sabtu (19/9).
Serangan terbaru menyasar Riyadh dan fasilitas minyak di Yanbu. Hal tersebut menandai eskalasi besar setelah konflik kedua pihak kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim menembakkan "sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan drone" ke sejumlah "lokasi sensitif" di Riyadh.
Ia juga mengatakan menargetkan fasilitas perusahaan minyak nasional Arab Saudi di Yanbu, terminal penting di pesisir Laut Merah.
Sementara itu, Arab Saudi mengkonfirmasi bahwa pertahanan udaranya mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh.
Lihat Juga : |
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengatakan pertahanan udara juga menggagalkan serangan terhadap "warga sipil dan infrastruktur sipil" di sejumlah wilayah lain.
Peringatan darurat berbunyi. Sementara, warga melaporkan mendengar ledakan keras.
Dua ledakan juga dilaporkan mengguncang bagian barat Riyadh, lokasi sejumlah kedutaan asing.
FlightRadar24 menunjukkan terjadi penundaan besar-besaran di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh pada Sabtu (19/9).
Reuters juga memperlihatkan asap membumbung di sekitar kawasan bandara.
Belum ada laporan langsung mengenai korban akibat serangan ke Riyadh.
Lihat Juga : |
Berawal dari demonstrasi Arab Spring
Konflik ini berakar dari demonstrasi Arab Spring pada 2011.
Saat itu, Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, menghadapi demonstrasi besar setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Saleh akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi, melalui proses transisi.
Hadi kemudian menjadi presiden dalam masa transisi.
Namun, pemerintahannya menghadapi banyak persoalan, mulai dari korupsi, kerawanan pangan, serangan kelompok militan hingga perpecahan di tubuh militer.
Kelompok Houthi memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperluas pengaruhnya.
Houthi merupakan gerakan politik dan bersenjata yang berasal dari komunitas Zaydi di Yaman utara. Kelompok ini secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah.
Gerakan tersebut telah lama menentang pengaruh pemerintah Arab Saudi di Yaman. Ketegangan juga berkaitan dengan persoalan politik, agama, ekonomi dan marginalisasi masyarakat di wilayah utara Yaman.
Pada 2014, Houthi bergerak semakin jauh dari basisnya di Provinsi Saada. Mereka merebut sejumlah wilayah dan akhirnya memasuki Sanaa, ibu kota Yaman.
Pada September 2014, Houthi menguasai Sanaa. Hadi kemudian kehilangan kendali atas pemerintahannya.
Situasi kemudian berubah menjadi perang terbuka.
Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melakukan intervensi di Yaman.
Koalisi ini terdiri dari Arab Saudi dan delapan negara Arab lainnya yang mayoritas Sunni serta didukung oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Koalisi tersebut melancarkan serangan udara terhadap Houthi dengan tujuan mengembalikan pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional.
Arab Saudi juga melihat perkembangan Houthi sebagai persoalan keamanan nasional.
Arab Saudi menuduh Iran memberikan senjata dan logistik kepada Houthi. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut.
Arab Saudi berharap kekuatan militer koalisi dapat membantu pemerintah Yaman merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Namun, perang justru berlangsung jauh lebih lama.
Di kubu anti-Houthi sendiri terdapat berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda, termasuk kelompok separatis yang menginginkan kemerdekaan untuk Yaman selatan.
Setelah bertahun-tahun berperang, kedua pihak memasuki periode deeskalasi.
Pada 2022, Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kesepakatan itu awalnya berlaku selama dua bulan dan kemudian menciptakan periode relatif lebih tenang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Lihat Juga : |
Situasi kembali memburuk
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di Yaman kembali memburuk.
Houthi berhasil memperluas penguasaan mereka di wilayah pesisir Laut Merah, termasuk kawasan strategis di sekitar Mokha dan Bab el-Mandeb.
Ketegangan kemudian merembet langsung ke wilayah Arab Saudi.
Houthi melancarkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal terhadap fasilitas militer, bandara, kota-kota Saudi serta infrastruktur energi.
Arab Saudi merespons dengan meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman. Kedua pihak pun kembali saling menuduh sebagai pihak yang memulai eskalasi.
Houthi menyebut serangan mereka sebagai respons terhadap operasi Arab Saudi di Yaman. Sebaliknya, Arab Saudi menilai serangan Houthi sebagai ancaman terhadap warga sipil dan infrastruktur.
Selain ibu kota Saudi, Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas minyak di Yanbu.
(mge/bac)