HARI TANI 2026

Cerita WNI Jadi Petani Sukses di Jepang, Kini Garap Lahan Sendiri

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 16:20 WIB
WNI Jadi Petani Sukses di Jepang
Ilustrasi. (AFP/PHILIP FONG)

Saat ini, Anas menanam padi dan ubi jalar. Ia juga bekerja sama dengan lembaga riset di Jepang untuk mengembangkan penanaman singkong.

Menurut Anas, hasil pertanian tidak bisa dihitung dengan angka yang sama setiap tahun karena harga komoditas, termasuk beras, mengalami perubahan.

"Kalau rata-rata hasil panen tidak bisa jadi patokan karena harga beras juga naik turun, jadi tidak menentu juga per tahunnya," tuturnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, jika dihitung berdasarkan luas lahan, pendapatan dari hasil pertanian yang dikelolanya dapat mencapai sekitar Rp200 juta hingga Rp250 juta per hektar.

Hasil panen tersebut kemudian dijual melalui sejumlah jalur. Sebagian hasil pertanian dijual kepada koperasi pertanian di Jepang, termasuk koperasi yang terkait dengan pemerintah Jepang. Selain itu, ada pula pengepul dan perusahaan beras yang datang langsung untuk membeli hasil panennya.

"Untuk penjualannya tidak ada masalah di Jepang," ujar Anas.

Ia juga menilai berbagai komoditas yang ditanamnya sama-sama memberikan keuntungan.

"Sama saja, semuanya menguntungkan," katanya.

Tantangan karena perubahan iklim

Meski demikian, usaha pertanian di Jepang tidak lepas dari tantangan. Salah satu persoalan yang hampir muncul setiap tahun adalah faktor cuaca, terutama ketika memasuki musim panen.

Anas mengatakan badai taifun dan curah hujan tinggi kerap terjadi pada akhir Agustus hingga September. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi hasil pertanian.

"Permasalahan yang hampir datang setiap tahun itu di Jepang karena faktor cuaca. Hampir setiap musim panen, khususnya di bulan 9, akhir bulan 8, bulan 9, itu sering datangnya badai taifun dan juga curah hujan yang tinggi," katanya.

Meski menghadapi ancaman cuaca, Anas bersyukur hingga kini belum pernah mengalami gagal panen.

Untuk menunjang aktivitas pertaniannya, Anas menggunakan berbagai mesin pertanian berteknologi tinggi yang tersedia di Jepang. Ia menggunakan traktor, combine harvester, rice dryer, serta berbagai peralatan lainnya.

"Semua saya menggunakan mesin-mesin berteknologi canggih di Jepang. Ada traktor, combine, ada rice dryer. Intinya belum ada di Indonesia yang saya pakai mesin-mesinnya," ujarnya.

Dalam menjalankan usaha tersebut, Anas tidak bekerja seorang diri. Ia selama ini mengelola pertanian bersama istrinya.

Sejak tahun lalu, ia juga mengajak keponakannya yang baru selesai pesantren untuk ikut membantu. Namun, keponakannya terlebih dahulu mengikuti program pelatihan, termasuk pelatihan bahasa, sebelum masuk ke Jepang.

Anas mengatakan pemerintah Jepang sebenarnya menyediakan berbagai program dan subsidi untuk membantu petani, termasuk petani asing. Namun, ia memilih menjalankan usahanya secara mandiri.

"Sebetulnya ada. Semua subsidi, berbagai macam subsidi itu ada dari pemerintah. Hanya saja saya tidak terbiasa tergantung atau bergantung," katanya.

"Saya tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah. Saya tidak pernah mengambil kesempatan-kesempatan seperti itu. Jadi murni mandiri saja," lanjutnya.

Ke depan, ia ingin mengikuti perkembangan usahanya sambil terus memperluas lahan pertanian yang dikelolanya.

"Kalau rencana, seiring berjalannya waktu mengikuti saja. Tambah lahan seperti itu," kata Anas.

(mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2