Cerita WNI Jadi Petani Sukses di Jepang, Kini Garap Lahan Sendiri
Warga negara Indonesia (WNI) asal Lumajang, Jawa Timur, berhasil membangun usaha pertanian di Jepang setelah melihat peluang dari lahan yang ditinggalkan para petani lanjut usia.
Setelah sekitar 15 tahun tinggal di Jepang, ia menggarap lahan pertanian yang sebagian merupakan miliknya dan sebagian lainnya masih disewa.
Cak Anas pertama kali datang ke Jepang pada 25 Februari 2011.
Saat itu, ia datang bukan dengan tujuan menjadi petani atau menetap di Jepang, melainkan untuk mengurus administrasi dan melegalkan status pernikahannya dengan sang istri yang merupakan warga Jepang.
"Awal mula kedatangan saya ke Jepang itu untuk melegalkan status pernikahan atau untuk mengurus administrasi pernikahan di Jepang. Jadi, awalnya tidak ada niatan untuk tinggal di Jepang," kata Anas kepada CNN.
Sebelum menjadi petani, Anas bekerja sebagai mekanik di sebuah showroom alat-alat pertanian di Jepang. Pekerjaan tersebut justru membuatnya semakin dekat dengan kehidupan para petani setempat.
Menangkap peluang dari keluhan petani lansia
Hampir setiap hari, ia mendengar keluhan para petani yang sudah lanjut usia. Mereka khawatir tidak ada keturunan mereka yang bersedia meneruskan lahan pertanian milik keluarga.
"Kekhawatiran dari beliau-beliau bahwa anak-anak atau keturunan beliau itu tidak ada yang ingin melanjutkan bertani. karena anak-anaknya sudah punya pekerjaan masing-masing, jadi tidak ingin bertani," ujarnya.
Anas kemudian melihat peluang emas.
Ia membayangkan jika ada 10 petani yang masing-masing menggarap lahan seluas satu hektar kemudian berhenti bertani, akan ada sekitar 10 hektar lahan yang berpotensi terbengkalai.
Anas kemudian berpikir untuk menjadi orang ke-11 yang mengambil alih lahan tersebut.
"Kalau saya siap menjadi orang yang ke-11 dan menggarap lahan 10 hektar yang terbengkalai tersebut, ya insya Allah saya akan jadi orang," katanya.
Menurutnya, keputusan menjadi petani di Jepang berawal dari keberanian membaca dan mengambil peluang.
"Jadi hanya dari membaca peluang dan berani mengambil peluang tersebut," ujar Anas.
Ia memulai usaha pertanian dengan menggarap lahan peninggalan almarhum kakek istrinya seluas sekitar setengah hektar. Namun, luas lahan yang dikelolanya terus bertambah dari tahun ke tahun.
Anas kemudian mulai menyewa dan membeli lahan milik petani Jepang yang sudah lanjut usia dan berhenti bertani. Dalam setahun, luas lahan yang dikelolanya bisa bertambah sekitar 1 hingga 2 hektar.
"Sebagian hak milik, sebagian masih menyewa juga. Tergantung orang Jepang sendiri, petani-petani yang sudah sepuh yang berhenti itu mau menjual atau menyewakan lahannya. Kalau beliau mau menjual, ya saya beli. Kalau beliau ingin menyewakan, ya saya sewa," jelas Anas.
Pada tahun-tahun awal, Anas lebih banyak memilih menyewa lahan karena keterbatasan modal untuk membeli sawah. Saat mulai serius bertani, ia mengelola sekitar tiga hektar lahan melalui sistem sewa.
"Yang pasti karena permodalan untuk membeli sawahnya, saya tidak ada modal. Jadi saya putus usaha untuk menyewa di tahun awal itu. Kurang lebih tahun awal itu ada sekitar 3 hektar," katanya.
Memasuki tahun kedua, Anas mulai mampu membeli lahan sekaligus tetap menyewa lahan lain untuk memperluas usahanya.
Modal tersebut berasal dari tabungan pribadi dan penghasilan yang diperolehnya dari menggarap lahan sebelumnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...