6 Momen Unik Sidang PBB: Ada Pemimpin Pidato sampai 4,5 Jam
CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 08:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sidang Majelis Umum PBB menjadi saksi sejumlah pemimpin negara berpidato dan mengeluarkan pernyataan kontroversial dan menjadi bagian dari sejarah. (Foto: REUTERS/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia --
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations General Assembly (UNGA) menjadi salah satu panggung diplomasi terbesar dunia setiap tahunnya.
Sejak sidang pertamanya pada 1946, para pemimpin negara memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan kebijakan hingga mengkritik negara lain.
Di Sidang Majelis Umum PBB, seluruh pemimpin negara di dunia yang menjadi anggota PBB akan berpidato di depan podium membawa isu dan kepentingan masing-masing.
Dalam sejarahnya, sejumlah pidato di Sidang Umum PBB mencuri perhatian karena berbagai hal seperti durasi, gaya penyampaian, maupun pernyataan kontroversial yang disampaikan dari podium.
Berikut enam momen unik pemimpin negara di Sidang Umum PBB:
1. Muammar Gaddafi berpidato hampir 100 menit
Setelah lebih dari empat dekade memimpin negaranya, Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, menyampaikan pidato yang berlangsung hampir 100 menit di podium Sidang Umum PBB pada 2009.
Durasi itu jauh melampaui pedoman waktu sekitar 15 menit yang berlaku dalam debat umum PBB.
Dalam pidatonya, Gaddafi mengkritik struktur Dewan Keamanan PBB, terutama hak veto yang dimiliki lima anggota tetap.
"Hak veto harus dicabut," kata Gaddafi.
Ia menilai Dewan Keamanan PBB tidak memberikan keamanan, tetapi justru menghasilkan teror dan sanksi. Gaddafi juga mempertanyakan penerapan Piagam PBB dalam invasi Irak pada 2003 yang dipimpin Amerika Serikat.
"Dan Irak adalah negara merdeka dan anggota Majelis Umum. Bagaimana mungkin negara itu diserang dan bagaimana mungkin Piagam PBB tidak diterapkan?"
Ia membandingkan invasi tersebut dengan invasi Irak ke Kuwait pada 1990.
Menurut Gaddafi, aturan mengenai agresi diterapkan terhadap Irak ketika negara itu menyerang Kuwait, tetapi tidak diterapkan dengan cara yang sama ketika Irak kemudian diserang.
"Invasi ke Irak - tanpa pembenaran, melanggar Piagam - dilakukan oleh negara-negara adidaya di Dewan Keamanan," katanya.
Pidato Gaddafi kemudian dikenang bukan hanya karena kritiknya, tetapi juga karena durasinya yang jauh melampaui batas waktu yang biasanya digunakan dalam debat umum PBB.
2. Hugo Chavez menyebut George W. Bush sebagai "iblis"
Di tengah meningkatnya konfrontasi antara Caracas dan Washington pada 2006, Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyebut Presiden AS, George W. Bush, sebagai "iblis" di panggung PBB.
"Kemarin, iblis datang ke sini - tepat di sini. Dan bau belerang masih tercium hingga hari ini," kata Chavez.
Chavez kemudian mengkritik kebijakan luar negeri AS dan mengaitkannya dengan konflik di Irak, Lebanon, serta Palestina.
"Mereka menginginkan perdamaian. Tapi apa yang terjadi di Irak? Apa yang terjadi di Lebanon? Di Palestina? Apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi selama 100 tahun terakhir di Amerika Latin dan di dunia? Dan sekarang mengancam Venezuela - ancaman baru terhadap Venezuela, terhadap Iran?," kata Chavez.
"Pemerintah Amerika Serikat tidak menginginkan perdamaian. Mereka ingin mengeksploitasi sistem eksploitasi, penjarahan, dan hegemoni mereka melalui perang," ujar Chavez.
Ia mengatakan operasi militer Israel yang didukung AS di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Operasi tersebut menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil negara itu beberapa minggu sebelumnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen paling diingat dari pidato Chavez di PBB.
Bertahun-tahun kemudian, Chavez mengatakan pernyataannya tentang "iblis" tersebut bukan bagian dari naskah yang telah disiapkan dan ia memang mencium wangi belerang saat itu.
3. Trump mau "menghancurkan sepenuhnya" Korea Utara
Pada 2017, Presiden AS Donald Trump menggunakan podium Sidang Umum PBB untuk menyampaikan ancaman keras terhadap Korea Utara.
Dalam pidatonya, Trump bahkan mengancam akan "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya". Ia juga menyebut pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai "Manusia Roket".
"Amerika Serikat memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar, tetapi jika dipaksa untuk membela diri atau sekutunya, kita tidak akan punya pilihan selain menghancurkan Korea Utara sepenuhnya. Si Manusia Roket sedang menjalankan misi bunuh diri untuk dirinya sendiri dan untuk rezimnya," kata Trump.
"Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu, tetapi semoga hal ini tidak perlu terjadi," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Washington dan Pyongyang berada dalam kondisi tegang akibat program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.
Namun, kurang dari setahun kemudian, hubungan keduanya berubah. Trump menjadi presiden AS pertama yang bertemu langsung dengan Kim dalam pertemuan tingkat tinggi di Singapura.
Pertemuan lanjutan Trump dan Kim di Hanoi pada 2018 tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri kebuntuan terkait program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.
4. Benjamin Netanyahu menetapkan garis merah terkait program nuklir Iran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggunakan alat bantu visual ketika berbicara mengenai program nuklir Iran dalam Sidang Umum PBB pada 2012.
Netanyahu membawa gambar sederhana berbentuk bom dengan sumbu untuk menjelaskan apa yang disebut sebagai tahapan pengayaan uranium Iran.
Ia kemudian menggambar garis merah pada bagian yang menandai sekitar 90 persen pengayaan uranium.
"Jika ini adalah fakta, dan memang demikian, di mana garis merah harus ditarik? Garis merah harus ditarik tepat di sini," kata Netanyahu, sambil menggambar garis merah sungguhan di angka 90 persen.
Pidato itu menjadi salah satu momen paling mudah dikenali dalam sejarah Sidang Umum PBB karena penggunaan garis merah tersebut.
Netanyahu kemudian menjadi salah satu pengkritik utama kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Kesepakatan tersebut membuat Iran membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.
Trump kemudian menarik AS dari kesepakatan tersebut pada 2018. Setelah itu, Iran kembali meningkatkan sejumlah aktivitas nuklirnya, meski pemerintah Iran membantah memiliki tujuan untuk membuat senjata nuklir.
5. Boris Johnson memperingatkan bahaya AI
Pada 2019, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, membawa isu kecerdasan buatan (AI) ke podium Sidang Umum PBB.
Johnson memperingatkan bahwa perkembangan teknologi dapat membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan risiko jika tidak dikendalikan.
Ia menggambarkan kemungkinan masa depan ketika teknologi justru mengambil alih kendali manusia. Johnson bahkan menggunakan gambaran "ayam tanpa kaki".
Johnson juga mempertanyakan apakah robot akan digunakan untuk membantu manusia, termasuk merawat orang lanjut usia, atau justru menghasilkan teknologi yang dapat mengancam umat manusia.
Pidato Johnson pada saat itu sempat menjadi bahan ejekan karena gaya penyampaiannya. Namun, perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir membuat isu mengenai etika, keamanan, dan regulasi kecerdasan buatan semakin menjadi perhatian pemerintah di berbagai negara.
Rekor pidato terlama dalam sejarah Sidang Umum PBB menjadi milik pemimpin Kuba, Fidel Castro.
Pada 26 September 1960, Castro berbicara selama 269 menit atau sekitar 4 jam 29 menit. PBB mencatat pidato tersebut sebagai pidato terlama yang waktunya tercatat dalam sejarah Majelis Umum.
Saat itu, Castro baru sekitar setahun berkuasa setelah Revolusi Kuba. Dari podium PBB, dia menyampaikan kritik panjang terhadap ketimpangan global dan kebijakan AS terhadap Kuba serta negara-negara Amerika Latin.
Castro juga menyinggung masalah kepemilikan lahan, kemiskinan petani, rendahnya upah, eksploitasi pekerja, buta huruf, kekurangan sekolah dan tenaga medis, serta kurangnya jaminan sosial bagi masyarakat lanjut usia.
"Majelis Umum Nasional rakyat Kuba mengutuk kepemilikan lahan skala besar sebagai sumber kemiskinan bagi petani dan sistem produksi pertanian yang terbelakang dan tidak manusiawi," kata Castro, menurut transkrip pidato yang diterbitkan oleh Universitas Texas di Austin .
"Deklarasi ini mengutuk upah yang sangat rendah dan eksploitasi tenaga kerja manusia yang tidak adil oleh kepentingan-kepentingan yang tidak sah dan istimewa," lanjut Castro.
"Deklarasi ini mengutuk buta huruf, kekurangan guru, sekolah, dokter dan rumah sakit, serta kurangnya jaminan hari tua di negara-negara Amerika," katanya.
Ia juga mengecam "eksploitasi perempuan" dan "oligarki militer, yang membuat terjadi kemiskinan, menghambat perkembangan demokrasi, dan pelaksanaan kedaulatan secara penuh.
Setahun kemudian, AS melancarkan invasi Teluk Babi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Castro, tetapi operasi tersebut gagal.
Jakarta, CNN Indonesia --
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations General Assembly (UNGA) menjadi salah satu panggung diplomasi terbesar dunia setiap tahunnya.
Sejak sidang pertamanya pada 1946, para pemimpin negara memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan kebijakan hingga mengkritik negara lain.
Di Sidang Majelis Umum PBB, seluruh pemimpin negara di dunia yang menjadi anggota PBB akan berpidato di depan podium membawa isu dan kepentingan masing-masing.
Dalam sejarahnya, sejumlah pidato di Sidang Umum PBB mencuri perhatian karena berbagai hal seperti durasi, gaya penyampaian, maupun pernyataan kontroversial yang disampaikan dari podium.
Berikut enam momen unik pemimpin negara di Sidang Umum PBB:
1. Muammar Gaddafi berpidato hampir 100 menit
Setelah lebih dari empat dekade memimpin negaranya, Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, menyampaikan pidato yang berlangsung hampir 100 menit di podium Sidang Umum PBB pada 2009.
Durasi itu jauh melampaui pedoman waktu sekitar 15 menit yang berlaku dalam debat umum PBB.
Dalam pidatonya, Gaddafi mengkritik struktur Dewan Keamanan PBB, terutama hak veto yang dimiliki lima anggota tetap.
"Hak veto harus dicabut," kata Gaddafi.
Ia menilai Dewan Keamanan PBB tidak memberikan keamanan, tetapi justru menghasilkan teror dan sanksi. Gaddafi juga mempertanyakan penerapan Piagam PBB dalam invasi Irak pada 2003 yang dipimpin Amerika Serikat.
"Dan Irak adalah negara merdeka dan anggota Majelis Umum. Bagaimana mungkin negara itu diserang dan bagaimana mungkin Piagam PBB tidak diterapkan?"
Ia membandingkan invasi tersebut dengan invasi Irak ke Kuwait pada 1990.
Menurut Gaddafi, aturan mengenai agresi diterapkan terhadap Irak ketika negara itu menyerang Kuwait, tetapi tidak diterapkan dengan cara yang sama ketika Irak kemudian diserang.
"Invasi ke Irak - tanpa pembenaran, melanggar Piagam - dilakukan oleh negara-negara adidaya di Dewan Keamanan," katanya.
Pidato Gaddafi kemudian dikenang bukan hanya karena kritiknya, tetapi juga karena durasinya yang jauh melampaui batas waktu yang biasanya digunakan dalam debat umum PBB.
2. Hugo Chavez menyebut George W. Bush sebagai "iblis"
Di tengah meningkatnya konfrontasi antara Caracas dan Washington pada 2006, Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyebut Presiden AS, George W. Bush, sebagai "iblis" di panggung PBB.
"Kemarin, iblis datang ke sini - tepat di sini. Dan bau belerang masih tercium hingga hari ini," kata Chavez.
Chavez kemudian mengkritik kebijakan luar negeri AS dan mengaitkannya dengan konflik di Irak, Lebanon, serta Palestina.
"Mereka menginginkan perdamaian. Tapi apa yang terjadi di Irak? Apa yang terjadi di Lebanon? Di Palestina? Apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi selama 100 tahun terakhir di Amerika Latin dan di dunia? Dan sekarang mengancam Venezuela - ancaman baru terhadap Venezuela, terhadap Iran?," kata Chavez.
"Pemerintah Amerika Serikat tidak menginginkan perdamaian. Mereka ingin mengeksploitasi sistem eksploitasi, penjarahan, dan hegemoni mereka melalui perang," ujar Chavez.
Ia mengatakan operasi militer Israel yang didukung AS di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Operasi tersebut menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil negara itu beberapa minggu sebelumnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen paling diingat dari pidato Chavez di PBB.
Bertahun-tahun kemudian, Chavez mengatakan pernyataannya tentang "iblis" tersebut bukan bagian dari naskah yang telah disiapkan dan ia memang mencium wangi belerang saat itu.
Momen Unik dan Kontroversial di Sidang Majelis Umum PBB
Sidang Majelis Umum PBB. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
3. Trump mau "menghancurkan sepenuhnya" Korea Utara
Pada 2017, Presiden AS Donald Trump menggunakan podium Sidang Umum PBB untuk menyampaikan ancaman keras terhadap Korea Utara.
Dalam pidatonya, Trump bahkan mengancam akan "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya". Ia juga menyebut pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai "Manusia Roket".
"Amerika Serikat memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar, tetapi jika dipaksa untuk membela diri atau sekutunya, kita tidak akan punya pilihan selain menghancurkan Korea Utara sepenuhnya. Si Manusia Roket sedang menjalankan misi bunuh diri untuk dirinya sendiri dan untuk rezimnya," kata Trump.
"Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu, tetapi semoga hal ini tidak perlu terjadi," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Washington dan Pyongyang berada dalam kondisi tegang akibat program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.
Namun, kurang dari setahun kemudian, hubungan keduanya berubah. Trump menjadi presiden AS pertama yang bertemu langsung dengan Kim dalam pertemuan tingkat tinggi di Singapura.
Pertemuan lanjutan Trump dan Kim di Hanoi pada 2018 tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri kebuntuan terkait program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.
4. Benjamin Netanyahu menetapkan garis merah terkait program nuklir Iran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggunakan alat bantu visual ketika berbicara mengenai program nuklir Iran dalam Sidang Umum PBB pada 2012.
Netanyahu membawa gambar sederhana berbentuk bom dengan sumbu untuk menjelaskan apa yang disebut sebagai tahapan pengayaan uranium Iran.
Ia kemudian menggambar garis merah pada bagian yang menandai sekitar 90 persen pengayaan uranium.
"Jika ini adalah fakta, dan memang demikian, di mana garis merah harus ditarik? Garis merah harus ditarik tepat di sini," kata Netanyahu, sambil menggambar garis merah sungguhan di angka 90 persen.
Pidato itu menjadi salah satu momen paling mudah dikenali dalam sejarah Sidang Umum PBB karena penggunaan garis merah tersebut.
Netanyahu kemudian menjadi salah satu pengkritik utama kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Kesepakatan tersebut membuat Iran membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.
Trump kemudian menarik AS dari kesepakatan tersebut pada 2018. Setelah itu, Iran kembali meningkatkan sejumlah aktivitas nuklirnya, meski pemerintah Iran membantah memiliki tujuan untuk membuat senjata nuklir.
5. Boris Johnson memperingatkan bahaya AI
Pada 2019, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, membawa isu kecerdasan buatan (AI) ke podium Sidang Umum PBB.
Johnson memperingatkan bahwa perkembangan teknologi dapat membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan risiko jika tidak dikendalikan.
Ia menggambarkan kemungkinan masa depan ketika teknologi justru mengambil alih kendali manusia. Johnson bahkan menggunakan gambaran "ayam tanpa kaki".
Johnson juga mempertanyakan apakah robot akan digunakan untuk membantu manusia, termasuk merawat orang lanjut usia, atau justru menghasilkan teknologi yang dapat mengancam umat manusia.
Pidato Johnson pada saat itu sempat menjadi bahan ejekan karena gaya penyampaiannya. Namun, perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir membuat isu mengenai etika, keamanan, dan regulasi kecerdasan buatan semakin menjadi perhatian pemerintah di berbagai negara.
Rekor pidato terlama dalam sejarah Sidang Umum PBB menjadi milik pemimpin Kuba, Fidel Castro.
Pada 26 September 1960, Castro berbicara selama 269 menit atau sekitar 4 jam 29 menit. PBB mencatat pidato tersebut sebagai pidato terlama yang waktunya tercatat dalam sejarah Majelis Umum.
Saat itu, Castro baru sekitar setahun berkuasa setelah Revolusi Kuba. Dari podium PBB, dia menyampaikan kritik panjang terhadap ketimpangan global dan kebijakan AS terhadap Kuba serta negara-negara Amerika Latin.
Castro juga menyinggung masalah kepemilikan lahan, kemiskinan petani, rendahnya upah, eksploitasi pekerja, buta huruf, kekurangan sekolah dan tenaga medis, serta kurangnya jaminan sosial bagi masyarakat lanjut usia.
"Majelis Umum Nasional rakyat Kuba mengutuk kepemilikan lahan skala besar sebagai sumber kemiskinan bagi petani dan sistem produksi pertanian yang terbelakang dan tidak manusiawi," kata Castro, menurut transkrip pidato yang diterbitkan oleh Universitas Texas di Austin .
"Deklarasi ini mengutuk upah yang sangat rendah dan eksploitasi tenaga kerja manusia yang tidak adil oleh kepentingan-kepentingan yang tidak sah dan istimewa," lanjut Castro.
"Deklarasi ini mengutuk buta huruf, kekurangan guru, sekolah, dokter dan rumah sakit, serta kurangnya jaminan hari tua di negara-negara Amerika," katanya.
Ia juga mengecam "eksploitasi perempuan" dan "oligarki militer, yang membuat terjadi kemiskinan, menghambat perkembangan demokrasi, dan pelaksanaan kedaulatan secara penuh.
Setahun kemudian, AS melancarkan invasi Teluk Babi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Castro, tetapi operasi tersebut gagal.