Maskapai Diboikot, AS Bingung Delegasi Iran Pulang dari PBB Pakai Apa

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 19:35 WIB
Menkeu AS Scott Bessent mempertanyakan bagaimana delegasi Iran di Majelis Umum PBB di New York bisa pulang karena maskapai Teheran sudah dilarang beroperasi. (Foto: Getty Images via AFP/ALEXI J. ROSENFELD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mempertanyakan bagaimana delegasi Iran yang menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York akan kembali ke negaranya.

Kebingungan Bessent itu terjadi mengingat Presiden Donald Trump baru-baru ini melarang seluruh maskapai Iran beroperasi di seluruh dunia, sebuah sanksi baru yang menargetkan Teheran.

"Melalui Operasi Economic Outcast, kami saat ini memberikan tekanan kepada Iran dengan intensitas yang belum pernah mereka alami sebelumnya," kata Bessent.

Bessent mengatakan kampanye tersebut telah berdampak pada konektivitas penerbangan internasional Iran. Ia mengklaim lebih dari 80 hingga 90 persen penerbangan internasional dari Iran telah dihentikan imbas sanksi baru AS ini.

Bessent juga mengancam AS akan menargetkan kegiatan operasional setiap lembaga keuangan, perusahaan, dan pelaku usaha asing yang masih berhubungan dengan Iran.

"Kami telah menyampaikan dengan sangat jelas kepada seluruh dunia, baik kepada para penyandang dana, pihak-pihak yang berbisnis maupun mereka yang memasok kebutuhan Iran, bahwa kami tahu siapa kalian, dan kalian sendiri tahu siapa kalian," katanya seperti dikutip Anadolu Agency.

Ia menggambarkan strategi AS ini sebagai perpaduan antara operasi militer, blokade laut, dan tekanan finansial.

"Jadi, kami telah menjalankan operasi militer selama enam minggu. Kami memiliki blokade. Dan sekarang kami melancarkan upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mempersempit ruang gerak mereka dan memutus aliran dana yang menjadi sumber kehidupan finansial mereka," katanya.

Bessent mengatakan rangkaian sanksi tekanan Washington ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Dari sanksi ini, ia menambahkan bahwa AS menginginkan salah satu dari tiga kemungkinan hasil: perpecahan di dalam kepemimpinan Iran, pemberontakan rakyat Iran, atau tercapainya kesepakatan yang mengharuskan Teheran memenuhi komitmennya.

Bessent juga mengatakan AS telah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran pada awal tahun ini, tetapi menuduh Teheran kemudian malah meningkatkan serangan di Selat Hormuz.

"Jika kesepakatan tercapai, saya jamin mereka akan mematuhinya," katanya.

AS meluncurkan Operasi Economic Outcast pada Agustus sebagai kampanye besar-besaran untuk mengisolasi Iran secara ekonomi serta menargetkan perusahaan, lembaga keuangan, dan entitas lain yang membantu Teheran menghindari sanksi AS.

Sejak saat itu, Kementerian Keuangan AS telah memperluas kampanye tersebut dengan menargetkan jaringan penerbangan Iran, lembaga keuangan, hingga infrastruktur yang berkaitan dengan mata uang kripto.

(rds/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK