Stres Perangi Iran, AS Akui Ada 8 Upaya Bunuh Diri di Abraham Lincoln

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 05:00 WIB
Personnel and aircraft on the deck of the U.S. Navy Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln as it docks at Laem Chabang Port for a rest stop following a long deployment in the Middle East, in Chonburi province, Thailand, September 3, 2026.
AS mengakui terdapat delapan upaya bunuh diri yang dilakukan personel militernya yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln selama perangi Iran. (Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat mengakui terdapat delapan upaya bunuh diri yang dilakukan personel militer yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln saat ditugaskan di kawasan Timur Tengah.

Kapal induk tersebut dikerahkan untuk memerangi Iran selama sembilan bulan atau tepatnya 286 hari bertugas di atas perairan tanpa jeda atau pulang ke daratan. Pengakuan itu disampaikan anggota Kongres pada Rabu (23/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Informasi tersebut terungkap melalui surat Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao kepada Senator Demokrat Kirsten Gillibrand. Surat itu dibuat sebagai tanggapan atas pertanyaan Gillibrand terkait kondisi personel di kapal induk USS Abraham Lincoln.

"Sejak awal penugasan Lincoln, telah terjadi total delapan upaya bunuh diri di seluruh kelompok serang," tulis Cao dalam surat tersebut.

Namun, ia menegaskan tidak ada anggota militer yang meninggal akibat bunuh diri selama penugasan tersebut.

"Tidak ada kasus bunuh diri di atas kapal selama penugasan ini," tegas Cao.

Surat itu juga merinci beberapa insiden. Salah satu pelaut yang bertugas di sayap udara dilaporkan jatuh ke laut dari kapal pada awal Agustus.

Pelaut tersebut berhasil diselamatkan oleh helikopter pencarian dan penyelamatan, kemudian dievakuasi dari kapal untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Insiden lain terjadi pada Maret ketika seorang pelaut mencoba melompat ke laut, tetapi berhasil dicegah oleh rekan-rekannya sebelum kemudian dikembalikan ke pangkalan asal.

USS Abraham Lincoln mulai berlayar dari California pada November 2025 untuk menjalankan misi di Laut China Selatan.

Namun, kapal tersebut kemudian dialihkan menuju Timur Tengah menjelang serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026.

Kapal induk tersebut akhirnya tiba di Thailand pada awal September setelah berada di laut selama 286 hari.

Selama masa penugasan itu, laporan mengenai kondisi kehidupan di kapal memicu perhatian publik, termasuk kekhawatiran soal kesehatan mental, keterbatasan makanan, hingga masalah kebersihan.

Pada Agustus, keluarga prajurit dan sejumlah anggota parlemen AS menyampaikan kekhawatiran terkait laporan tersebut.

Namun, Trump membantah adanya masalah serius di kapal induk itu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengatakan kondisi di USS Abraham Lincoln telah "disalahartikan."

(mge/rds)
placeholder