Pidato di Sidang PBB, Menlu RI Sugiono Bawa Pesan Prabowo

CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 08:40 WIB
Menteri Luar Negeri RI Sugiono membawa pesan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. (Antara/Nabil Ihsan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri RI Sugiono membawa pesan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pesan tersebut menekankan politik luar negeri Indonesia yang terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak dan menjaga ruang dialog.

Sugiono mengutip pesan Prabowo yang disampaikan dalam pidatonya di PBB tahun lalu bahwa Indonesia memiliki prinsip untuk membangun sebanyak mungkin pertemanan dan menghindari permusuhan.

"Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya tahun lalu, 1.000 teman masih terlalu sedikit, dan satu musuh terlalu banyak," kata Sugiono dalam pidatonya di Majelis Umum PBB ke-81, New York, AS, Sabtu (26/9) waktu setempat.

Menurut Sugiono, prinsip tersebut menjadi dasar Indonesia dalam menjalin hubungan dengan seluruh mitra. Indonesia akan menggunakan berbagai forum, mulai dari ASEAN, G20, D-8, BRICS, MIKTA, hingga PBB, untuk memperluas kerja sama dan menghasilkan kerja sama yang konkret.

Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga menyampaikan pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029-2030. Ia mengatakan pencalonan tersebut membawa komitmen Indonesia untuk mendorong persatuan dan memajukan perdamaian.

"Komitmen kami jelas, memperkuat persatuan, memajukan perdamaian," ujarnya.

Sugiono menjelaskan bahwa memperkuat persatuan berarti membangun kembali kepercayaan terhadap sistem multilateral sekaligus menjaga saluran dialog tetap terbuka. Sementara itu, upaya memajukan perdamaian dilakukan dengan menegakkan hukum internasional dan menggunakan instrumen yang tersedia secara efektif.

"Indonesia akan bekerja untuk menjaga dialog tetap terbuka, membangun titik temu, dan mengubah tanggung jawab bersama menjadi kerja sama yang konkret. Kami akan menegakkan Piagam PBB secara konsisten untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional," imbuh dia lebih lanjut.

Sugiono kemudian menyoroti pentingnya kepemimpinan yang efektif dalam sistem multilateral. Menurut dia, sistem multilateral yang efektif membutuhkan kepemimpinan yang juga efektif.

Ia mengatakan filosofi kepemimpinan Indonesia yang diwariskan lintas generasi mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu memberi contoh dari depan, membangun kepercayaan ketika berada di tengah masyarakat, serta memberikan ruang dan kekuatan bagi pihak lain untuk bergerak.

"Kepemimpinan bukan sekadar tentang memerintah. Kepemimpinan adalah tentang menggunakan kebijaksanaan dan memberikan kekuatan kepada orang lain untuk bergerak maju," kata Sugiono.

Ia menambahkan kepemimpinan yang efektif juga harus disertai komitmen penuh dari negara-negara anggota agar sistem multilateral dapat berjalan. Indonesia, menurut Sugiono, siap mengambil bagian dalam tanggung jawab tersebut.

Komitmen itu disebut sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk berkontribusi terhadap tatanan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

(del/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK