Trump Disebut Pernah Tawarkan Senjata AS Secara Langsung ke Xi Jinping

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 20:45 WIB
China's President Xi Jinping (R) looks at US President Donald Trump during a welcome ceremony at the Great Hall of the People in Beijing on May 14, 2026. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI

Pernyataan Perdue muncul ketika pemerintahan Trump tengah menahan paket penjualan senjata senilai US$14 miliar atau sekitar Rp230 triliun untuk Taiwan.

AS memiliki kewajiban berdasarkan hukum sejak 1979 untuk menyediakan senjata bersifat defensif kepada Taiwan. Namun, paket terbaru yang telah disusun pejabat Kementerian Luar Negeri dan mendapat persetujuan para pemimpin Kongres itu masih tertahan.

Sejumlah senator AS juga telah mendesak Trump untuk melanjutkan penjualan tersebut. Pada Mei lalu, para senator mengirim surat untuk melanjutkan penjualan tersebut kepada Trump.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian pada Rabu pekan lalu (23/9), beberapa jam sebelum Xi tiba di Washington, empat senator Partai Republik yang dipimpin Senator Mitch McConnell kembali meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan.

Mereka juga meminta pemerintah mengalokasikan AS$300 juta untuk pembelian senjata yang sebelumnya telah disetujui Kongres untuk Taiwan. Selain itu, mereka meminta AS$1 miliar untuk Taiwan Security Cooperation Initiative, program kerja sama pertahanan AS dengan Taiwan.

Dalam wawancara dengan Fox News, Perdue mengatakan Trump sebelumnya telah menyetujui penjualan senjata senilai AS$11 miliar kepada Taiwan pada tahun lalu. Menurut dia, pembicaraan mengenai penjualan senjata kepada Taiwan juga masih berlangsung setiap kali Trump dan Xi bertemu.

"Ada pembicaraan berkelanjutan tentang penjualan lainnya. Dia dan Presiden Xi membicarakan hal itu setiap kali mereka bertemu," katanya.

Perdue menyampaikan pernyataan tersebut ketika ditanya mengenai kekhawatiran atas penundaan penjualan senjata dan bantuan militer untuk Taiwan.

Trump sebelumnya memang mengakui bahwa ia membahas penjualan senjata ke Taiwan dengan Xi. China mengatakan Xi telah menyampaikan keberatan terhadap penjualan senjata AS kepada Taiwan.

Pada Mei lalu, setelah bertemu Xi di Beijing, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa keduanya membahas penjualan senjata ke Taiwan "secara rinci".

Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena bertentangan dengan kesepakatan AS-China pada 1982. Dalam dokumen tersebut, Washington menyatakan tidak akan berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata kepada Taiwan.

Ketika ditanya mengenai komitmen tersebut pada Mei lalu, Trump menjawab, "Yah, saya pikir tahun 1980-an masih sangat jauh. Itu jarak yang sangat besar."

Dalam wawancara Fox News yang direkam saat berada di Beijing pada Mei, Trump juga mengatakan penahanan penjualan senjata ke Taiwan merupakan "alat tawar-menawar yang sangat baik" dengan China.

Namun, setelah pertemuan dengan Xi pekan lalu, Trump mengatakan keduanya tidak banyak membahas Taiwan. "Saat ini, semuanya baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar," kata Trump.

Taiwan khawatir senjata AS masih tertahan

Duta Besar de facto Taiwan untuk AS, Alexander Yui, mengatakan dirinya yakin tidak ada perubahan dalam hubungan Taiwan dan Washington. Pernyataan itu disampaikan Yui dalam program "Face the Nation" di CBS News pada Minggu.

Namun, ia berharap Taiwan dapat segera menerima paket senjata senilai AS$14 miliar yang masih tertahan. Pada Rabu (23/9), Rubio juga ditanya wartawan mengenai penundaan paket senjata tersebut di New York.

Rubio mengatakan penjualan masih ditinjau. Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan kapasitas industri pertahanan AS dan menentukan apakah sebagian senjata tersebut masih dibutuhkan oleh militer AS sendiri.

Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan mengenai alasan penundaan penjualan senjata kepada Taiwan, terutama setelah Perdue mengungkap bahwa Trump pernah menawarkan penjualan senjata kepada Xi.

(mge/dna)

HALAMAN:
1 2