Trump Disebut Pernah Tawarkan Senjata AS Secara Langsung ke Xi Jinping
CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 20:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Pernyataan Perdue muncul ketika pemerintahan Trump tengah menahan paket penjualan senjata senilai US$14 miliar atau sekitar Rp230 triliun untuk Taiwan.
AS memiliki kewajiban berdasarkan hukum sejak 1979 untuk menyediakan senjata bersifat defensif kepada Taiwan. Namun, paket terbaru yang telah disusun pejabat Kementerian Luar Negeri dan mendapat persetujuan para pemimpin Kongres itu masih tertahan.
Sejumlah senator AS juga telah mendesak Trump untuk melanjutkan penjualan tersebut. Pada Mei lalu, para senator mengirim surat untuk melanjutkan penjualan tersebut kepada Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pada Rabu pekan lalu (23/9), beberapa jam sebelum Xi tiba di Washington, empat senator Partai Republik yang dipimpin Senator Mitch McConnell kembali meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan.
Mereka juga meminta pemerintah mengalokasikan AS$300 juta untuk pembelian senjata yang sebelumnya telah disetujui Kongres untuk Taiwan. Selain itu, mereka meminta AS$1 miliar untuk Taiwan Security Cooperation Initiative, program kerja sama pertahanan AS dengan Taiwan.
Dalam wawancara dengan Fox News, Perdue mengatakan Trump sebelumnya telah menyetujui penjualan senjata senilai AS$11 miliar kepada Taiwan pada tahun lalu. Menurut dia, pembicaraan mengenai penjualan senjata kepada Taiwan juga masih berlangsung setiap kali Trump dan Xi bertemu.
"Ada pembicaraan berkelanjutan tentang penjualan lainnya. Dia dan Presiden Xi membicarakan hal itu setiap kali mereka bertemu," katanya.
Perdue menyampaikan pernyataan tersebut ketika ditanya mengenai kekhawatiran atas penundaan penjualan senjata dan bantuan militer untuk Taiwan.
Trump sebelumnya memang mengakui bahwa ia membahas penjualan senjata ke Taiwan dengan Xi. China mengatakan Xi telah menyampaikan keberatan terhadap penjualan senjata AS kepada Taiwan.
Pada Mei lalu, setelah bertemu Xi di Beijing, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa keduanya membahas penjualan senjata ke Taiwan "secara rinci".
Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena bertentangan dengan kesepakatan AS-China pada 1982. Dalam dokumen tersebut, Washington menyatakan tidak akan berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata kepada Taiwan.
Ketika ditanya mengenai komitmen tersebut pada Mei lalu, Trump menjawab, "Yah, saya pikir tahun 1980-an masih sangat jauh. Itu jarak yang sangat besar."
Dalam wawancara Fox News yang direkam saat berada di Beijing pada Mei, Trump juga mengatakan penahanan penjualan senjata ke Taiwan merupakan "alat tawar-menawar yang sangat baik" dengan China.
Namun, setelah pertemuan dengan Xi pekan lalu, Trump mengatakan keduanya tidak banyak membahas Taiwan. "Saat ini, semuanya baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar," kata Trump.
Taiwan khawatir senjata AS masih tertahan
Duta Besar de facto Taiwan untuk AS, Alexander Yui, mengatakan dirinya yakin tidak ada perubahan dalam hubungan Taiwan dan Washington. Pernyataan itu disampaikan Yui dalam program "Face the Nation" di CBS News pada Minggu.
Namun, ia berharap Taiwan dapat segera menerima paket senjata senilai AS$14 miliar yang masih tertahan. Pada Rabu (23/9), Rubio juga ditanya wartawan mengenai penundaan paket senjata tersebut di New York.
Rubio mengatakan penjualan masih ditinjau. Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan kapasitas industri pertahanan AS dan menentukan apakah sebagian senjata tersebut masih dibutuhkan oleh militer AS sendiri.
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan mengenai alasan penundaan penjualan senjata kepada Taiwan, terutama setelah Perdue mengungkap bahwa Trump pernah menawarkan penjualan senjata kepada Xi.
(mge/dna)
Jakarta, CNN Indonesia --
Duta Besar Amerika Serikat untuk China, David Perdue, mengungkap Presiden AS Donald Trump pernah menawarkan penjualan senjata AS kepada Presiden China, Xi Jinping.
Perdue mengatakan Trump menyampaikan tawaran itu secara langsung kepada Xi.
"Presiden Trump terus mengatakan, 'Hei, kami menjual senjata kepada orang lain di seluruh dunia,'" kata Perdue dalam program Fox News Sunday, Minggu (21/9), seperti dikutip The New York Times.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia bahkan pernah bertanya kepada Presiden Xi apakah beliau ingin membeli beberapa senjata," ujarnya. Perdue tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia juga tidak mengungkapkan respons Xi.
Pengakuan tersebut menjadi sorotan karena China selama ini dipandang AS sebagai salah satu pesaing utama di bidang militer, ekonomi, dan diplomasi.
China memiliki salah satu kekuatan militer yang berkembang paling cepat di dunia. Sementara, AS telah menjadi kekuatan militer dominan di kawasan Asia-Pasifik, tetapi kekuatan itu memudar terhadap China, terutama karena pemerintahan Trump mengalihkan sumber daya dari kawasan tersebut untuk digunakan dalam perang melawan Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri pertahanan AS juga kesulitan memproduksi sistem senjata dengan kecepatan yang dianggap cukup untuk kebutuhan global oleh para pejabat AS.
"Jika ada keraguan tentang apakah Presiden Trump memandang China sebagai ancaman keamanan, pengungkapan oleh @USAmbChina Perdue ini menepis pertanyaan tersebut," tulis Mantan diplomat dan pejabat keamanan nasional Gedung Putih yang kini menjabat sebagai direktur pusat China di Brookings Institution, Ryan Hass.
"Tawaran Trump untuk menjual senjata ke China akan meresahkan mitra Amerika yang berada di ujung tombak China," tambahnya. Para mitra tersebut termasuk Filipina, Jepang, dan Taiwan, pulau yang secara de facto merdeka dan negara demokrasi yang ingin diperintah oleh Partai Komunis China.
Selama bertahun-tahun, Washington juga memperingatkan potensi konflik dengan Beijing, terutama terkait Taiwan serta aktivitas China di Laut China Selatan dan Laut China Timur.
Gedung Putih kemudian menyatakan AS tidak memiliki rencana untuk menjual senjata kepada China. Kementerian Luar Negeri AS juga mengatakan hukum AS melarang penjualan senjata ke China.
"Hukum AS melarang penjualan senjata ke China dan tidak ada tawaran atau rencana untuk menjual senjata ke China," kata Kementerian Luar Negeri AS dalam pernyataan.
Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah AS menuding sejumlah perusahaan pertahanan China membantu negara-negara yang menjadi lawan Washington, termasuk Iran dan Rusia.
Menurut pejabat AS, perusahaan-perusahaan tersebut menjual peralatan dwiguna, menyediakan citra satelit, serta merencanakan ekspor senjata secara rahasia. Washington juga telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China.
Tawaran Senjata Muncul di Tengah Penundaan Bantuan AS ke Taiwan
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Pernyataan Perdue muncul ketika pemerintahan Trump tengah menahan paket penjualan senjata senilai US$14 miliar atau sekitar Rp230 triliun untuk Taiwan.
AS memiliki kewajiban berdasarkan hukum sejak 1979 untuk menyediakan senjata bersifat defensif kepada Taiwan. Namun, paket terbaru yang telah disusun pejabat Kementerian Luar Negeri dan mendapat persetujuan para pemimpin Kongres itu masih tertahan.
Sejumlah senator AS juga telah mendesak Trump untuk melanjutkan penjualan tersebut. Pada Mei lalu, para senator mengirim surat untuk melanjutkan penjualan tersebut kepada Trump.
Kemudian pada Rabu pekan lalu (23/9), beberapa jam sebelum Xi tiba di Washington, empat senator Partai Republik yang dipimpin Senator Mitch McConnell kembali meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan.
Mereka juga meminta pemerintah mengalokasikan AS$300 juta untuk pembelian senjata yang sebelumnya telah disetujui Kongres untuk Taiwan. Selain itu, mereka meminta AS$1 miliar untuk Taiwan Security Cooperation Initiative, program kerja sama pertahanan AS dengan Taiwan.
Dalam wawancara dengan Fox News, Perdue mengatakan Trump sebelumnya telah menyetujui penjualan senjata senilai AS$11 miliar kepada Taiwan pada tahun lalu. Menurut dia, pembicaraan mengenai penjualan senjata kepada Taiwan juga masih berlangsung setiap kali Trump dan Xi bertemu.
"Ada pembicaraan berkelanjutan tentang penjualan lainnya. Dia dan Presiden Xi membicarakan hal itu setiap kali mereka bertemu," katanya.
Perdue menyampaikan pernyataan tersebut ketika ditanya mengenai kekhawatiran atas penundaan penjualan senjata dan bantuan militer untuk Taiwan.
Trump sebelumnya memang mengakui bahwa ia membahas penjualan senjata ke Taiwan dengan Xi. China mengatakan Xi telah menyampaikan keberatan terhadap penjualan senjata AS kepada Taiwan.
Pada Mei lalu, setelah bertemu Xi di Beijing, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa keduanya membahas penjualan senjata ke Taiwan "secara rinci".
Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena bertentangan dengan kesepakatan AS-China pada 1982. Dalam dokumen tersebut, Washington menyatakan tidak akan berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata kepada Taiwan.
Ketika ditanya mengenai komitmen tersebut pada Mei lalu, Trump menjawab, "Yah, saya pikir tahun 1980-an masih sangat jauh. Itu jarak yang sangat besar."
Dalam wawancara Fox News yang direkam saat berada di Beijing pada Mei, Trump juga mengatakan penahanan penjualan senjata ke Taiwan merupakan "alat tawar-menawar yang sangat baik" dengan China.
Namun, setelah pertemuan dengan Xi pekan lalu, Trump mengatakan keduanya tidak banyak membahas Taiwan. "Saat ini, semuanya baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar," kata Trump.
Duta Besar de facto Taiwan untuk AS, Alexander Yui, mengatakan dirinya yakin tidak ada perubahan dalam hubungan Taiwan dan Washington. Pernyataan itu disampaikan Yui dalam program "Face the Nation" di CBS News pada Minggu.
Namun, ia berharap Taiwan dapat segera menerima paket senjata senilai AS$14 miliar yang masih tertahan. Pada Rabu (23/9), Rubio juga ditanya wartawan mengenai penundaan paket senjata tersebut di New York.
Rubio mengatakan penjualan masih ditinjau. Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan kapasitas industri pertahanan AS dan menentukan apakah sebagian senjata tersebut masih dibutuhkan oleh militer AS sendiri.
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan mengenai alasan penundaan penjualan senjata kepada Taiwan, terutama setelah Perdue mengungkap bahwa Trump pernah menawarkan penjualan senjata kepada Xi.