Mengenal Kyushoku, Cara Sukses Jepang Bikin MBG di Sekolah
CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 11:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi bendera Jepang. Foto: iStockphoto/blinow61
Jakarta, CNN Indonesia --
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia memiliki perbedaan dengan sistem makan siang sekolah yang telah diterapkan Jepang selama puluhan tahun. Di Negeri Sakura, program tersebut dikenal dengan nama kyushoku.
Kyushoku berarti penyediaan makanan. Istilah ini merujuk pada makan siang hangat dan bergizi yang diberikan kepada siswa, terutama di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri.
Sistem kyushoku telah diterapkan secara luas di Jepang. Data 2021 menunjukkan 99,7 persen sekolah dasar negeri dan 98,2 persen sekolah menengah pertama menyediakan makan siang sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kyushoku bukan sekadar program pemberian makanan. Jepang menjadikannya bagian dari pendidikan di sekolah. Melalui makan siang, siswa belajar tentang pola makan sehat serta memahami pentingnya tidak menyia-nyiakan makanan.
Berawal dari program untuk anak keluarga tidak mampu
Kyushoku memiliki sejarah panjang. Program makan siang sekolah Jepang tercatat dimulai pada 1889 di Sekolah Dasar Chuai yang dikelola Kuil Daitokuji di Kota Tsuruoka, Prefektur Yamagata.
Saat itu, sekolah menyediakan makanan seperti nasi kepal, ikan bakar, dan acar untuk anak-anak dari keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Program tersebut kemudian berkembang. Pada 1923, Kementerian Pendidikan Jepang mendorong penyediaan makan siang sekolah untuk meningkatkan gizi anak.
Pada 1932, pemerintah mulai memberikan subsidi untuk program tersebut bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Program makan siang sekolah kemudian terhenti akibat kekurangan pangan selama Perang Dunia II.
Setelah perang berakhir, masalah kekurangan gizi kembali mendorong pemerintah Jepang memperkuat program tersebut. Jepang juga mendapat bantuan pasokan makanan, termasuk tepung terigu dan susu bubuk dari Amerika Serikat.
Pada 1954, Jepang memberlakukan Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah. Aturan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar sistem kyushoku.
Program tersebut kemudian semakin berkembang. Pada 2005, Undang-Undang Dasar tentang Shokuiku menjadikan pendidikan pangan dan gizi sebagai bagian dari pendidikan sekolah di Jepang. Aturan ini kemudian memperkuat posisi kyushoku sebagai bagian dari kurikulum sekolah.
Keunikan kyushoku terletak pada fungsinya yang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makanan siswa.
Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah yang direvisi pada 2009 menetapkan sejumlah tujuan. Di antaranya menjaga dan meningkatkan kesehatan melalui nutrisi yang tepat, membangun semangat sosial, serta memperkenalkan budaya makanan Jepang dan makanan khas daerah.
Kyushoku juga berkaitan erat dengan shokuiku atau pendidikan tentang makanan dan gizi.
Melalui shokuiku, siswa tidak hanya diberi tahu makanan apa yang sehat. Mereka juga belajar mengenai asal makanan, proses produksi, distribusi, budaya kuliner, hingga pentingnya mengurangi limbah makanan.
Menu makan siang juga dapat disertai informasi mengenai kandungan nutrisi. Guru kemudian membahasnya bersama siswa. Sekolah juga memperkenalkan masakan daerah Jepang dan hidangan internasional untuk memperluas wawasan kuliner siswa.
Upaya mengurangi limbah makanan juga menjadi bagian dari pembelajaran. Siswa diajarkan untuk tidak menyisakan makanan dan memahami dampak pemborosan terhadap lingkungan.
Rutinitas kyushoku melibatkan siswa secara langsung. Sekelompok siswa yang mendapat giliran bertugas menyajikan makanan disebut kyushoku-toban.
Mereka mengenakan celemek, topi, dan masker. Para siswa kemudian mengambil makanan dari tempat distribusi untuk dibawa ke kelas.
Mereka bertugas membagikan makanan kepada teman-teman sekelas. Tugas tersebut dilakukan secara bergiliran sehingga setiap siswa mendapat kesempatan untuk menjalankannya.
Kegiatan ini mengajarkan siswa cara menghidangkan makanan secara higienis dan melayani orang lain dengan penuh perhatian.
Siswa juga belajar mengenai tanggung jawab, keadilan, dan menghargai orang yang telah menyiapkan makanan.
Setelah makanan dibagikan, siswa makan bersama di meja masing-masing. Guru juga mengonsumsi makanan yang sama dengan siswa.
Dengan demikian, tidak ada menu guru yang terpisah. Kebiasaan tersebut memperkuat rasa kebersamaan dan kesetaraan di lingkungan sekolah.
Setelah makan, siswa kembali bekerja sama untuk membersihkan ruang kelas. Mereka mengumpulkan nampan, mencuci piring, mengelap meja, dan mengembalikan peralatan ke dapur.
Kegiatan bersih-bersih bersama menjadi bagian lain dari pembelajaran tentang tanggung jawab dan kebersihan.
Menu kyushoku dirancang oleh guru diet dan nutrisi atau ahli gizi sekolah. Mereka memastikan makanan memenuhi kebutuhan gizi siswa sesuai usia dan tahap perkembangan.
Menu juga disusun berdasarkan standar nutrisi yang ditetapkan pemerintah Jepang.
Secara umum, satu menu terdiri dari makanan pokok, hidangan utama, lauk, susu, serta buah atau makanan penutup. Makanan pokok dapat berupa nasi, roti, atau mi seperti udon dan ramen.
Hidangan utama dapat berupa ikan bakar, ayam karaage, tahu, atau patty hamburger. Sementara lauknya dapat berupa sayuran tumis, salad, atau acar.
Susu biasanya disajikan setiap hari. Buah musiman, yogurt, atau jeli juga dapat menjadi makanan penutup.
Menu dapat berubah mengikuti musim dan budaya daerah. Pada momen tertentu, sekolah menyajikan makanan yang berkaitan dengan tradisi Jepang seperti Hinamatsuri, Tanabata, atau Setsubun.
Menu biasanya dipublikasikan setiap bulan sehingga keluarga mengetahui makanan yang akan dikonsumsi anak mereka, lapor Japan Child Support.
Sekolah juga memperkenalkan makanan khas daerah. Beberapa sekolah bahkan menyajikan makanan internasional untuk mengenalkan siswa pada budaya kuliner negara lain.
Bahan pangan lokal juga digunakan di sejumlah sekolah. Langkah ini membantu siswa mengenal hasil pertanian dari daerah tempat mereka tinggal.
Salah satu kajian tentang kyushoku mencatat sekitar 56 persen pembelian makanan oleh sekolah Jepang pada 2021 berasal dari sumber lokal.
Hal tersebut membawa Filosofi "dari ladang ke meja". Penggunaan bahan lokal tersebut mencerminkan keterkaitan sistem makan siang sekolah dengan hasil pertanian dan bahan pangan musiman.
Kyushoku membuat makanan terhubung dengan pelajaran di kelas. Misalnya, ketika siswa mempelajari sayuran musiman dalam pelajaran sains, bahan tersebut dapat muncul dalam menu makan siang.
Dengan cara itu, siswa dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran juga dapat mencakup asal-usul bahan makanan. Siswa dapat mengetahui bagaimana makanan diproduksi dan siapa yang terlibat dalam proses tersebut.
Informasi mengenai kandungan nutrisi dalam menu juga dibahas bersama guru. Sekolah kemudian menggunakan makanan daerah dan hidangan internasional untuk memperluas wawasan siswa tentang budaya kuliner.
Pada saat yang sama, siswa diajarkan untuk mengurangi limbah makanan dan menjaga lingkungan.
Standar gizi dan kebersihan ketat
Kyushoku tidak hanya memiliki aturan mengenai menu. Jepang juga menerapkan standar dalam pengelolaan makanan sekolah.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang atau MEXT mengatur berbagai aspek keamanan makanan sekolah. Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian kepada siswa harus memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.
Menu juga dibuat berdasarkan standar kebutuhan gizi anak sesuai usia. Tujuannya untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi siswa selama masa pertumbuhan.
Jepang juga mengembangkan sistem guru diet dan nutrisi dalam pengelolaan makan tersebut.
Kyushoku pada dasarnya bukan program yang sepenuhnya gratis.
Profesor pendidikan nutrisi Universitas Ochanomizu, Akamatsu Rie, mengatakan biaya makan siang di sejumlah pemerintah daerah berada di kisaran 300 hingga 350 yen per porsi.
Orang tua pada dasarnya membayar biaya makan siang bulanan yang mencakup biaya bahan makanan.
Menurut Japan Child Support, rata-rata biaya bulanan berada di kisaran 4.000-4.500 yen untuk siswa sekolah dasar dan 4.500-5.000 yen untuk siswa sekolah menengah pertama.
Pembayaran biasanya dilakukan melalui transfer otomatis bank atau rekening yang ditunjuk sekolah pada awal atau pertengahan setiap bulan.
Namun, pemerintah daerah dapat memberikan subsidi. Beberapa pemerintah daerah bahkan menanggung seluruh biaya makan siang bagi keluarga tertentu.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kota besar, termasuk Tokyo, juga bergerak menuju penyediaan kyushoku gratis untuk mengurangi beban keluarga. Kebijakan tersebut membuat pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran tambahan.
Tantangan
Meski telah berjalan selama puluhan tahun, kyushoku tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Salah satu tantangannya adalah memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu.
Dalam sejumlah kasus, sekolah dapat menyediakan makanan yang menghilangkan bahan pemicu alergi. Namun, kemampuan setiap sekolah berbeda sehingga kebutuhan anak perlu dibicarakan dengan pihak sekolah.
Kebutuhan berdasarkan agama atau pilihan tertentu juga menjadi tantangan di sebagian sekolah negeri Jepang. Pilihan seperti halal, kosher, vegetarian, dan vegan belum selalu dapat dipenuhi oleh sekolah.
Dalam kondisi tertentu, siswa dapat diperbolehkan membawa bekal dari rumah.
Meski menghadapi berbagai tantangan, kyushoku menunjukkan bahwa makan siang sekolah di Jepang tidak hanya dirancang untuk membuat siswa kenyang.
Sistem tersebut menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan. Siswa makan bersama, belajar memilih makanan, mengenal asal pangan, memahami budaya kuliner, menjaga kebersihan, hingga bertanggung jawab terhadap limbah makanan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia memiliki perbedaan dengan sistem makan siang sekolah yang telah diterapkan Jepang selama puluhan tahun. Di Negeri Sakura, program tersebut dikenal dengan nama kyushoku.
Kyushoku berarti penyediaan makanan. Istilah ini merujuk pada makan siang hangat dan bergizi yang diberikan kepada siswa, terutama di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri.
Sistem kyushoku telah diterapkan secara luas di Jepang. Data 2021 menunjukkan 99,7 persen sekolah dasar negeri dan 98,2 persen sekolah menengah pertama menyediakan makan siang sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kyushoku bukan sekadar program pemberian makanan. Jepang menjadikannya bagian dari pendidikan di sekolah. Melalui makan siang, siswa belajar tentang pola makan sehat serta memahami pentingnya tidak menyia-nyiakan makanan.
Berawal dari program untuk anak keluarga tidak mampu
Kyushoku memiliki sejarah panjang. Program makan siang sekolah Jepang tercatat dimulai pada 1889 di Sekolah Dasar Chuai yang dikelola Kuil Daitokuji di Kota Tsuruoka, Prefektur Yamagata.
Saat itu, sekolah menyediakan makanan seperti nasi kepal, ikan bakar, dan acar untuk anak-anak dari keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Program tersebut kemudian berkembang. Pada 1923, Kementerian Pendidikan Jepang mendorong penyediaan makan siang sekolah untuk meningkatkan gizi anak.
Pada 1932, pemerintah mulai memberikan subsidi untuk program tersebut bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Program makan siang sekolah kemudian terhenti akibat kekurangan pangan selama Perang Dunia II.
Setelah perang berakhir, masalah kekurangan gizi kembali mendorong pemerintah Jepang memperkuat program tersebut. Jepang juga mendapat bantuan pasokan makanan, termasuk tepung terigu dan susu bubuk dari Amerika Serikat.
Pada 1954, Jepang memberlakukan Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah. Aturan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar sistem kyushoku.
Program tersebut kemudian semakin berkembang. Pada 2005, Undang-Undang Dasar tentang Shokuiku menjadikan pendidikan pangan dan gizi sebagai bagian dari pendidikan sekolah di Jepang. Aturan ini kemudian memperkuat posisi kyushoku sebagai bagian dari kurikulum sekolah.
Keunikan kyushoku terletak pada fungsinya yang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makanan siswa.
Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah yang direvisi pada 2009 menetapkan sejumlah tujuan. Di antaranya menjaga dan meningkatkan kesehatan melalui nutrisi yang tepat, membangun semangat sosial, serta memperkenalkan budaya makanan Jepang dan makanan khas daerah.
Kyushoku juga berkaitan erat dengan shokuiku atau pendidikan tentang makanan dan gizi.
Melalui shokuiku, siswa tidak hanya diberi tahu makanan apa yang sehat. Mereka juga belajar mengenai asal makanan, proses produksi, distribusi, budaya kuliner, hingga pentingnya mengurangi limbah makanan.
Menu makan siang juga dapat disertai informasi mengenai kandungan nutrisi. Guru kemudian membahasnya bersama siswa. Sekolah juga memperkenalkan masakan daerah Jepang dan hidangan internasional untuk memperluas wawasan kuliner siswa.
Upaya mengurangi limbah makanan juga menjadi bagian dari pembelajaran. Siswa diajarkan untuk tidak menyisakan makanan dan memahami dampak pemborosan terhadap lingkungan.
Rutinitas kyushoku melibatkan siswa secara langsung. Sekelompok siswa yang mendapat giliran bertugas menyajikan makanan disebut kyushoku-toban.
Mereka mengenakan celemek, topi, dan masker. Para siswa kemudian mengambil makanan dari tempat distribusi untuk dibawa ke kelas.
Mereka bertugas membagikan makanan kepada teman-teman sekelas. Tugas tersebut dilakukan secara bergiliran sehingga setiap siswa mendapat kesempatan untuk menjalankannya.
Kegiatan ini mengajarkan siswa cara menghidangkan makanan secara higienis dan melayani orang lain dengan penuh perhatian.
Siswa juga belajar mengenai tanggung jawab, keadilan, dan menghargai orang yang telah menyiapkan makanan.
Setelah makanan dibagikan, siswa makan bersama di meja masing-masing. Guru juga mengonsumsi makanan yang sama dengan siswa.
Dengan demikian, tidak ada menu guru yang terpisah. Kebiasaan tersebut memperkuat rasa kebersamaan dan kesetaraan di lingkungan sekolah.
Setelah makan, siswa kembali bekerja sama untuk membersihkan ruang kelas. Mereka mengumpulkan nampan, mencuci piring, mengelap meja, dan mengembalikan peralatan ke dapur.
Kegiatan bersih-bersih bersama menjadi bagian lain dari pembelajaran tentang tanggung jawab dan kebersihan.
Menu kyushoku dirancang oleh guru diet dan nutrisi atau ahli gizi sekolah. Mereka memastikan makanan memenuhi kebutuhan gizi siswa sesuai usia dan tahap perkembangan.
Menu juga disusun berdasarkan standar nutrisi yang ditetapkan pemerintah Jepang.
Secara umum, satu menu terdiri dari makanan pokok, hidangan utama, lauk, susu, serta buah atau makanan penutup. Makanan pokok dapat berupa nasi, roti, atau mi seperti udon dan ramen.
Hidangan utama dapat berupa ikan bakar, ayam karaage, tahu, atau patty hamburger. Sementara lauknya dapat berupa sayuran tumis, salad, atau acar.
Susu biasanya disajikan setiap hari. Buah musiman, yogurt, atau jeli juga dapat menjadi makanan penutup.
Menu dapat berubah mengikuti musim dan budaya daerah. Pada momen tertentu, sekolah menyajikan makanan yang berkaitan dengan tradisi Jepang seperti Hinamatsuri, Tanabata, atau Setsubun.
Menu biasanya dipublikasikan setiap bulan sehingga keluarga mengetahui makanan yang akan dikonsumsi anak mereka, lapor Japan Child Support.
Sekolah juga memperkenalkan makanan khas daerah. Beberapa sekolah bahkan menyajikan makanan internasional untuk mengenalkan siswa pada budaya kuliner negara lain.
Bahan pangan lokal juga digunakan di sejumlah sekolah. Langkah ini membantu siswa mengenal hasil pertanian dari daerah tempat mereka tinggal.
Salah satu kajian tentang kyushoku mencatat sekitar 56 persen pembelian makanan oleh sekolah Jepang pada 2021 berasal dari sumber lokal.
Hal tersebut membawa Filosofi "dari ladang ke meja". Penggunaan bahan lokal tersebut mencerminkan keterkaitan sistem makan siang sekolah dengan hasil pertanian dan bahan pangan musiman.
Kyushoku membuat makanan terhubung dengan pelajaran di kelas. Misalnya, ketika siswa mempelajari sayuran musiman dalam pelajaran sains, bahan tersebut dapat muncul dalam menu makan siang.
Dengan cara itu, siswa dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran juga dapat mencakup asal-usul bahan makanan. Siswa dapat mengetahui bagaimana makanan diproduksi dan siapa yang terlibat dalam proses tersebut.
Informasi mengenai kandungan nutrisi dalam menu juga dibahas bersama guru. Sekolah kemudian menggunakan makanan daerah dan hidangan internasional untuk memperluas wawasan siswa tentang budaya kuliner.
Pada saat yang sama, siswa diajarkan untuk mengurangi limbah makanan dan menjaga lingkungan.
Standar gizi dan kebersihan ketat
Kyushoku tidak hanya memiliki aturan mengenai menu. Jepang juga menerapkan standar dalam pengelolaan makanan sekolah.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang atau MEXT mengatur berbagai aspek keamanan makanan sekolah. Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian kepada siswa harus memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.
Menu juga dibuat berdasarkan standar kebutuhan gizi anak sesuai usia. Tujuannya untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi siswa selama masa pertumbuhan.
Jepang juga mengembangkan sistem guru diet dan nutrisi dalam pengelolaan makan tersebut.
Kyushoku pada dasarnya bukan program yang sepenuhnya gratis.
Profesor pendidikan nutrisi Universitas Ochanomizu, Akamatsu Rie, mengatakan biaya makan siang di sejumlah pemerintah daerah berada di kisaran 300 hingga 350 yen per porsi.
Orang tua pada dasarnya membayar biaya makan siang bulanan yang mencakup biaya bahan makanan.
Menurut Japan Child Support, rata-rata biaya bulanan berada di kisaran 4.000-4.500 yen untuk siswa sekolah dasar dan 4.500-5.000 yen untuk siswa sekolah menengah pertama.
Pembayaran biasanya dilakukan melalui transfer otomatis bank atau rekening yang ditunjuk sekolah pada awal atau pertengahan setiap bulan.
Namun, pemerintah daerah dapat memberikan subsidi. Beberapa pemerintah daerah bahkan menanggung seluruh biaya makan siang bagi keluarga tertentu.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kota besar, termasuk Tokyo, juga bergerak menuju penyediaan kyushoku gratis untuk mengurangi beban keluarga. Kebijakan tersebut membuat pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran tambahan.
Tantangan
Meski telah berjalan selama puluhan tahun, kyushoku tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Salah satu tantangannya adalah memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu.
Dalam sejumlah kasus, sekolah dapat menyediakan makanan yang menghilangkan bahan pemicu alergi. Namun, kemampuan setiap sekolah berbeda sehingga kebutuhan anak perlu dibicarakan dengan pihak sekolah.
Kebutuhan berdasarkan agama atau pilihan tertentu juga menjadi tantangan di sebagian sekolah negeri Jepang. Pilihan seperti halal, kosher, vegetarian, dan vegan belum selalu dapat dipenuhi oleh sekolah.
Dalam kondisi tertentu, siswa dapat diperbolehkan membawa bekal dari rumah.
Meski menghadapi berbagai tantangan, kyushoku menunjukkan bahwa makan siang sekolah di Jepang tidak hanya dirancang untuk membuat siswa kenyang.
Sistem tersebut menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan. Siswa makan bersama, belajar memilih makanan, mengenal asal pangan, memahami budaya kuliner, menjaga kebersihan, hingga bertanggung jawab terhadap limbah makanan.