Trump Kesal London Bebaskan Tersangka Teror Pangkalan AS di Inggris

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 07:05 WIB
Presiden AS Donald Trump kesal dan mengkritik respons Inggris usai melepas para tersangka yang diduga berencana menyerang pangkalan udara AS di Fairford. (REUTERS/Eric Lee)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kesal dan mengkritik respons Inggris usai melepas para tersangka yang diduga berencana menyerang pangkalan udara Royal Air Force (RAF) Fairford.

Pangkalan udara RAF Fairford di Gloucestershire, Inggris telah lama digunakan pasukan AS dan NATO. Sejak Maret, Washington memakai pangkalan tersebut untuk melancarkan serangan terhadap situs rudal Iran yang menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz.

Saat berbicara ke awak media di Ruang Oval Gedung Putih, Trump mengatakan tak akan melepas pelaku dan mengisyarakatkan tindakan mereka "mungkin" terkait Iran.

"Saya tahu jawabannya. Saya bisa sangat spesifik, tetapi saya lebih suka tidak mengatakannya," kata Trump, dikutip CNN, Selasa (29/8).

Trump sebelumnya padahal memuji respons cepat Inggris yang menangkap para pelaku pada Minggu. Dia bahkan menyebut London "luar biasa."

[Gambas:Video CNN]

Insiden itu bermula saat Kepolisian Gloucestershire menerima laporan mengenai "tiga kendaraan mencurigakan" yang tampaknya menuju pangkalan udara Fairford pada Minggu dini hari.

Setelah petugas dikerahkan, lima orang ditangkap karena dicurigai melanggar Undang-Undang Bahan Peledak. Kasus ini kemudian diambil alih kepolisian antiterorisme Inggris untuk didalami.

Kelima orang tersebut semuanya warga negara Inggris dari wilayah London, berusia antara 23 hingga 25 tahun.

Namun, Inggris membebaskan mereka dengan jaminan dan menegaskan persoalan ini belum selesai serta masuk tahap penyelidikan.

Perwira polisi senior antiterorisme Laurence Taylor mengatakan petugas sedang mempertimbangkan insiden tersebut dari setiap sudut pandang.

"Termasuk kemungkinan bahwa ini dilakukan secara aktif oleh pihak ketiga atau individu yang secara sadar atau tidak sadar bekerja atas nama negara asing," kata Taylor.

(isa/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK