Kelompok Houthi diduga mulai menggunakan rudal jelajah hasil modifikasi senjata pertahanan udara buatan Iran dalam perang di Yaman. Senjata tersebut disebut mampu melacak sumber panas yang berpotensi mengancam penerbangan sipil di atas Yaman dan Laut Merah.
Tuduhan itu disampaikan pemerintah Yaman dan didukung Arab Saudi. Pemerintah Yaman menyebut modifikasi senjata tersebut dilakukan dengan bantuan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Brigadir Jenderal Majed al-Nazili, mengatakan rudal tersebut dapat beroperasi hingga 25 menit. Rudal tersebut dapat melacak sumber panas tanpa membedakan target militer dan sipil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini merupakan ancaman langsung dan serius terhadap keselamatan penerbangan sipil dan nyawa penumpang," kata al-Nazili, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Houthi kembali serang Arab Saudi
Tuduhan mengenai kemampuan rudal baru itu muncul ketika pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman kembali meningkat.
Pada Kamis, Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke Taif di wilayah barat negara tersebut dan kawasan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Houthi juga mengklaim telah menyerang sejumlah "target sensitif" di Riyadh serta fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco di Yanbu.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompok tersebut menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone dalam dua operasi tersebut.
Houthi dan pemerintah Yaman telah terlibat konflik sejak 2014. Pertempuran kemudian mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diumumkan pada 2022.
Namun, pertempuran kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Houthi dilaporkan merebut wilayah pesisir Laut Merah Yaman, termasuk kota strategis Mocha dan Pulau Mayyun di Selat Bab al-Mandeb. Selat tersebut merupakan pintu masuk selatan menuju Laut Merah.
Pada Juli, Houthi juga mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Situasi itu menambah tekanan di kawasan. Laut Merah menjadi jalur ekspor alternatif penting bagi Arab Saudi setelah Selat Hormuz ditutup selama perang.
Arab Saudi juga baru memulai kembali operasi Pipa Timur-Barat yang mengangkut minyak dari ladang minyak di bagian timur negara tersebut menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Pipa itu sebelumnya rusak akibat serangan drone.
Belum ada bukti konklusif
Peneliti senior di Institut Studi Politik Internasional Italia, Eleonora Ardemagni, mengatakan belum ada bukti konklusif bahwa Houthi telah memodifikasi sistem pertahanan udara Iran menjadi rudal jelajah.
Namun, dia mengatakan kemungkinan tersebut tidak dapat dikesampingkan.
Menurut Ardemagni, Houthi selama ini menunjukkan kemampuan untuk berinovasi dan mengembangkan persenjataan dalam berbagai kondisi perang.
Dia juga mengatakan penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan Houthi tidak selalu menerima rudal dalam bentuk utuh dari Iran. Kelompok tersebut disebut menerima sejumlah komponen asal Iran yang kemudian dirakit.
Kondisi itu membuat Houthi memiliki kemampuan teknis untuk merakit dan mengembangkan senjata.
Pada Juni 2025, pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman menyita sekitar 750 ton senjata dan peralatan militer yang ditujukan untuk Houthi, menurut Komando Pusat militer Amerika Serikat.
Pengiriman tersebut dilaporkan mencakup ratusan rudal jelajah, rudal antikapal, dan sistem pertahanan udara.
Pada Juli tahun ini, sejumlah laporan media, menyebut penerbangan Mahan Air dari Iran menuju Sanaa membawa komandan IRGC, penasihat militer, dan senjata.
Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Al Jazeera.
Analisis militer dan strategis Yaman, Brigadir Jenderal Mohammed Al-Kumaim, mengatakan Houthi mulai mengembangkan kemampuan di luar penggunaan rudal balistik dan drone.
Menurut dia, kelompok tersebut mulai menggunakan teknologi pertahanan udara yang berbasis pada rudal jelajah "berkeliaran".
Rudal tersebut disebut dapat bertahan di udara hingga 25 menit. Senjata kemudian dapat melacak jalur penerbangan target berdasarkan emisi elektrotermalnya.
Pakar militer dan strategi Yaman, Ali Al-Dhahab, mengatakan kemampuan tersebut dapat menciptakan ancaman terhadap objek yang bergerak di udara.
Menurut dia, keberadaan senjata semacam itu dapat membatasi pergerakan pesawat militer untuk sementara waktu.
Houthi punya beragam rudal
Houthi diketahui memiliki persenjataan rudal yang beragam, mulai dari rudal balistik jarak pendek dan menengah, rudal jelajah antikapal, hingga sistem permukaan-ke-udara yang telah dimodifikasi.
Persenjataan tersebut berkembang dari stok militer Yaman yang diwarisi dan direbut Houthi setelah mereka menguasai Sanaa pada 2014. Persenjataan lama itu antara lain mencakup rudal rancangan Soviet dan China. Houthi kemudian juga mengembangkan sistem yang disebut memiliki desain atau komponen asal Iran.
Menurut pernyataan mereka, berikut persenjataan rudal yang dimiliki Houthi:
- Palestine-2: sebuah rudal dua tahap berbahan bakar padat itu memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer dan menyebutnya sebagai rudal hipersonik.
- Toufan: sebuah rudal jarak jauh dengan jangkauan diperkirakan sekitar 1.350 hingga 1.950 kilometer. International Institute for Strategic Studies (IISS) menilai Toufan tampaknya merupakan rudal Ghadr buatan Iran yang diberi nama baru.
- Seri Burkan: sebuah rudal balistik jarak pendek hingga menengah.
- Seri Quds: sebuah rudal jelajah yang kerap disebut juru bicara kelompok tersebut dalam klaim serangan terhadap fasilitas minyak dan ekonomi.
- Persediaan lama: sebuah rudal yang mencakup sejumlah rudal seperti Scud-B, Scud-C, Tochka, Qaher-1, serta rudal jelajah antikapal C-802.

