Menhan AS Pangkas 20% Posisi Jenderal-Laksamana Militer, Ada Apa?
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengonfirmasi militer AS akan memangkas 20% posisi jenderal dan laksamana.
Pernyataan itu disampaikannya pada Rabu (30/9) saat mengumumkan serangkaian kebijakan, termasuk pembentukan komando drone baru dan sejumlah langkah lainnya, dalam pidato yang ia sebut sebagai "State of the Force".
Hegseth berbicara kepada para perwira junior dan pemimpin dari kalangan tamtama di Pangkalan Korps Marinir Quantico, Virginia.
Ini merupakan tahun kedua berturut-turut ia menyampaikan pidato semacam itu. Pidato tersebut bukanlah agenda yang biasanya disampaikan para pemimpin Pentagon. Meskipun, para pendahulu Hegseth secara rutin berbicara kepada pasukan dan perwira tinggi, mereka secara tradisional melakukannya dalam forum kecil atau tertutup.
Dalam pidato itu, Hegseth kembali mengawali pidatonya dengan berkelakar mengenai bagaimana ia telah mengubah militer AS secara drastis dengan menargetkan apa yang disebutnya sebagai budaya "woke".
Langkah tersebut dilakukan melalui penghapusan program-program keberagaman, peninjauan terhadap unit-unit tempur darat yang memiliki personel perempuan, serta program pemeriksaan baru untuk mendeteksi "defisiensi testosteron" di kalangan personel laki-laki.
Dalam pidatonya itu, Hegseth juga memerintahkan militer aktif mengurangi 20% perwira jenderal bintang empat serta meminta Garda Nasional mengurangi 20% posisi jabatan teratasnya.
"Saya menyebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban dan sesuatu yang sudah lama seharusnya dilakukan,"kata Hegseth seperti dikutip ABC.
Namun, belum jelas apakah seluruh pemangkasan tersebut telah dilaksanakan. Pemangkasan baru dapat mencakup jenderal bintang satu atau lebih tinggi, maupun perwira dengan pangkat setara di Angkatan Laut.
Sementara itu, jumlah posisi perwira jenderal di militer selama ini sudah ditetapkan berdasarkan undang-undang. Namun, posisi tersebut dapat dibiarkan kosong dengan tidak mengajukan pengganti kepada Kongres.
Para pejabat Pentagon sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa Hegseth akan mengumumkan pemangkasan lebih lanjut terhadap jumlah jenderal dan laksamana.
Ia mengarahkan seluruh matra militer untuk menggandakan pemangkasan sebesar 10% yang diperintahkannya pada musim semi lalu terhadap sekitar 800 posisi perwira tinggi dan jenderal, sehingga total pengurangan menjadi 20% yang harus diselesaikan pada 1 Januari 2027.
Sementara itu, sejumlah anggota Kongres menyebut pemangkasan terbaru terhadap jajaran jenderal sebagai "pembersihan" di kalangan pimpinan tertinggi militer, yang akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
"Dia tampaknya memiliki semacam rasa keberatan yang mendalam terhadap kepemimpinan di militer," kata Senator Mark Kelly, anggota Partai Demokrat dari Arizona.
Kelly merupakan mantan pilot tempur Angkatan Laut dan mantan astronaut NASA yang selama ini getol mengkritik Hegseth.
"Dia sedang membersihkan satu generasi pemimpin militer yang hebat, dan dibutuhkan satu generasi untuk memulihkan dampaknya," ucap Kelly.
Sementara itu, Senator Republik Mike Rounds dari South Dakota, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengatakan ia ingin memahami alasan Hegseth di balik keputusan tersebut.
"Jika ini semata-mata soal mengurangi struktur pimpinan yang terlalu gemuk, mungkin ada dasar yang masuk akal untuk itu, tetapi saya ingin melihatnya terlebih dahulu," kata Rounds.
Trump atau Hegseth telah memecat atau mendorong lebih dari dua lusin pemimpin militer untuk pensiun sejak mereka mulai menjabat, termasuk perwira tertinggi Angkatan Darat, Jenderal Randy George.
Langkah tersebut memicu kemarahan baik dari anggota Kongres Partai Republik maupun Demokrat. Mereka yang meninggalkan jabatan juga mencakup sejumlah perwira senior perempuan atau berasal dari kelompok minoritas.
(rds)