Keluarga Pejabat Iran yang Sekolah-Bekerja di AS, Diusir & Dimusuhi

CNN Indonesia
Minggu, 04 Okt 2026 06:53 WIB
A man holds a Iranian flag during an anti-war protest, at Times Square in New York on January 4, 2020. - Demonstrators are protesting the US drone attack which killed Iran's Major General Qasem Soleimani in Iraq on January 3, a dramatic escalation in
Ilustrasi. (Kena Betancur / AFP)

Ada pula nama Zahra Mohaghegh Damad, putri dari Ayatollah Mostafa Mohaghegh Damad, seorang ulama Syiah terkemuka yang telah memegang berbagai posisi di pemerintahan Iran.

Zahra juga merupakan keponakan Ali Larijani dan bekerja sebagai profesor di Departemen Teknik Nuklir, Plasma, dan Radiologi di Universitas Illinois Urbana-Champaign. Ia juga menjabat sebagai direktur unit yang menganalisis risiko "sistem teknologi kompleks" termasuk pembangkit dan reaktor nuklir komersial.

Sementara Zeinab Hajjarian yang mengajar di Universitas Massachusetts, adalah putri dari Saeed Hajjarian, salah satu pendiri Kementerian Intelijen Iran pada tahun 1983. Sejak tahun 1990-an, ia memposisikan dirinya sebagai ahli strategi politik reformis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 2022, cucu perempuan Ayatollah Yazdi, seorang ulama yang menjabat sebagai kepala Majelis Pakar Iran yang meninggal 2020, dilaporkan sedang belajar dan tinggal di Amerika Serikat.

Menurut penelitian Alinejad, wartawan Iran anti rezim yang mukim di AS, dua anak dari mantan ketua komite kesehatan - Ali Nobakht Tehrani - bersekolah di AS. Ehsan Nobakht, sang putra, tinggal di Washington, sedangkan putrinya, Niloufar, tinggal di Los Angeles.

Temuan penting lainnya yang diungkapkan Alinejad kepada publik melalui layanan televisi Voice of America (VOA), tempat ia bekerja saat berada di AS, adalah keberadaan putra mantan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

"Medhi Zarif kuliah di New York City - tetapi ada perbedaan pendapat mengenai apakah biaya kuliahnya dibayar dengan uang ayahnya atau uang rakyat [Iran]," kata Alinejad.

"Tidak ada catatan bahwa dia bekerja di AS," lanjutnya, menyiratkan bahwa sebenarnya, proyek itu didanai oleh uang ayahnya, yang dibayar dalam perannya sebagai menteri luar negeri hingga Juli 2021.

Aghzadeh

Para anak dan saudara petinggi Iran itu mendapat julukan dengan nada mengejek dari sesama warga Iran di sana dengan sebutan Aghzadeh atau "bangsawan".

Mereka tidak disukai oleh rekan senegaranya karena tinggal di Barat sementara kerabat mereka yang berpangkat tinggi mempromosikan kebijakan anti-Barat di tanah air.

Secara total, diperkirakan ada antara 4.000 hingga 5.000 kerabat pemimpin dan birokrat rezim Iran terkemuka yang tinggal di AS, menurut para ahli dan pembangkang. Ratusan lainnya telah menetap di Kanada dan Australia.

Pada tahun 2022, Jenderal Garda Revolusi Iran (IRGC) Morteza Mirian, komandan operasi darat, mengklaim bahwa 4.000 kerabat "pejabat senior" IRGC tinggal di AS, Kanada, dan Eropa.

Pada tahun 2019, Brian Hook, perwakilan khusus Iran di bawah pemerintahan Trump, mengatakan kepada Iran International bahwa "anak-anak pejabat Republik Islam hidup mewah dan nyaman di AS dan negara-negara lain sementara rakyat Iran hidup dalam kondisi yang mengerikan."

Hal ini juga menunjukkan kelemahan dalam sistem imigrasi Barat, yang secara sistematis dimanfaatkan oleh Iran selama bertahun-tahun.

"Ketika kita berbicara tentang kehadiran agen-agen Republik Islam, terutama IRGC, kita harus memahami bahwa ini bukanlah hal yang acak. Mereka beroperasi secara berlapis," kata Mehdi Ghadimi, seorang jurnalis Iran yang diasingkan, kepada Fox News Digital.

"Mereka datang sebagai mahasiswa atau profesor, tetapi banyak yang memiliki hubungan sebelumnya dengan IRGC, dan sebagian dari peran mereka adalah untuk menormalisasi Republik Islam di universitas dan mengumpulkan informasi tentang para aktivis."

Media seperti Washington Times dan The Guardian pun menurunkan laporan tentang keberadaan mereka.

Dituduh munafik

Para anggota elite penguasa Iran dituduh oleh kelompok oposisi melakukan kemunafikan yang terang-terangan karena diduga menggunakan kekayaan negara untuk membantu membiayai kehidupan anak-anak mereka yang sudah dewasa di Barat, sementara di dalam negeri mereka sendiri terjadi kesengsaraan ekonomi dan penindasan yang semakin meningkat.

Kemarahan terhadap para aghazadeh sangat memuncak setelah terjadi demo besar-besaran di Iran yang kemudian mengakibatkan jumlah korban jiwa yang menurut beberapa sumber mencapai puluhan ribu.

"Masyarakat kesal karena para aghazadeh menerima tunjangan dolar untuk pergi ke barat - Amerika Serikat, Eropa, dan tempat lain - untuk belajar dengan biaya negara," kata Alex Vatanka," direktur program Iran di Middle East Institute di Washington.

Setelah protes tersebut, Washington berjanji untuk "mencabut hak istimewa para pejabat senior Iran dan anggota keluarga mereka untuk berada di Amerika Serikat," menurut sebuah unggahan di media sosial. Namun, belum jelas bagaimana langkah-langkah tersebut akan diimplementasikan.

Kambiz Ghafouri , seorang penulis dan aktivis hak asasi manusia Iran yang berbasis di Helsinki, mengatakan: "Mereka menjadikan Iran neraka bagi warga Iran dan mengirim anak-anak mereka ke barat untuk hidup bahagia. Jika ada referendum yang membahas apakah orang-orang ingin anak-anak dari pihak berwenang Iran dikembalikan ke Iran, saya pikir lebih dari 90% akan mengatakan ya."

Vatanka mengatakan gaya hidup Barat anak-anak dewasa tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tua mereka.

"Inti permasalahannya adalah kemunafikan," katanya. "Kita memiliki rezim Islam yang selama 47 tahun telah mengajarkan berbagai macam cara berperilaku, dan kemudian kita melihat, satu demi satu, anak-anak atau cucu dari anggota elit tersebut menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan yang diajarkan oleh keluarga mereka yang memiliki koneksi politik di Iran."

Aset intelijen

Meski demikian, perlakuan terhadap anak-anak para petinggi tidak seragam di AS. Hal ini, sangat mungkin berkaitan dengan aset intelijen.
Alex Vatanka mengatakan negara-negara Barat mungkin enggan mendeportasi putra dan putri rezim yang memiliki koneksi kuat, karena menganggap mereka sebagai aset intelijen potensial.

"Selalu ada nilai intelijen, baik Anda CIA, MI6, atau siapa pun," katanya. "Beberapa koneksi ini mungkin membawa informasi berharga yang bisa bermanfaat. Mereka menjadi pembawa pesan."

"Pada dasarnya belum ada kebijakan tentang bagaimana menangani keturunan dari anak-anak elit rezim. Secara umum, negara-negara Barat tidak ingin terlibat dalam hukuman kolektif atau menghukum seseorang hanya karena asal-usulnya."

(imf/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2