Nyaris 2 Ribu Orang Ditangkap dalam Aksi Protes Siswa di Prancis

CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 07:30 WIB
ilustrasi penangkapan
Ilustrasi. Sebanyak hampir 2 ribu orang ditangkap dalam aksi unjuk rasa siswa dan mahasiswa yang meluas di Prancis pada Jumat (2/10). (iStockphoto/SimonSkafar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak hampir 2 ribu orang ditangkap dalam aksi unjuk rasa siswa dan mahasiswa yang meluas di Prancis pada Jumat (2/10).

Aksi protes yang merespons kekurangan guru dan bangunan sekolah itu telah meletus di Paris sejak September lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, aksi protes berubah menjadi kekerasan yang meluas ke sejumlah wilayah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada minoritas yang aktif dan melakukan kekerasan [yang berpartisipasi dalam protes]. Kami bahkan tidak yakin apakah mereka adalah siswa sekolah menengah atas," ujar Menteri Kehakiman Gerald Darmanin kepada radio RTL, melansir NBC News.

Darmanin juga menambahkan, sebanyak hampir 2 ribu orang telah ditangkap sejak protes dimulai. Sekitar dua per tiga di antaranya ditahan oleh polisi.

"Ini telah beralih dari demonstrasi siswa SMA menjadi gangguan ketertiban umum. Orang-orang menargetkan bus dan membakar sekolah. Itu bukan lagi sekadar masalah protes," tambah dia.

Menukil CNN, aksi protes itu diwarnai dengan pembakaran sejumlah fasilitas dan bentrokan dengan polisi sejak Rabu (30/9). Sejumlah video bermunculan di media sosial, salah satunya memperlihatkan seorang guru yang diserang oleh aksi massa.

Berdasarkan laporan The Independent, sejumlah lembaga intelijen mengklaim bahwa politisi sayap kiri garis keras ikut berkontribusi dalam memicu kerusuhan. Namun, anggota parlemen membantah tuduhan tersebut.

Aksi protes ini dimulai di sejumlah sekolah Prancis sejak pekan lalu. Namun, eskalasi mulai meningkat pada Selasa (29/9). Situasi di luar sekolah memburuk hingga hari-hari berikutnya.

Pada Kamis, bentrokan dengan polisi meningkat di beberapa kota di Prancis. Mahasiswa juga ikut bergabung dalam protes.

Sektor pendidikan yang kekurangan sumber daya menjadi akar kemarahan pada siswa. Mereka mengeluh banyak guru yang tidak diganti dan mengkritik banyaknya bangunan sekolah yang rusak.

(asr)