Prancis menutup 400 sekolah pada Jumat (1/10) menyusul demonstrasi berhari-hari yang dilakukan para pelajar untuk mengkritik sistem pendidikan.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray meminta orang tua turut mengawasi anak-anaknya di situasi saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak berada dalam bahaya di jalanan. Orang tua harus bertindak dan memberi tahu anak-anak mereka untuk tak pergi ke lokasi blokade," kata Geffray, dikutip RFI.
Pada Kamis, Kementerian Dalam Negeri mencatat terdapat 1.027 sekolah menengah terdampak imbas kekerasan di tengah demonstrasi. Sekitar 100 sekolah juga dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Penutupan sekolah itu terjadi usai pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah menggelar aksi blokade sekolah untuk menuntut sistem pendidikan yang lebih baik. Para murid mengeluh kepadatan ruang kelas, kekurangan guru, bangunan yang bobrok, hingga menyalahkan investasi yang minim selama bertahun-tahun.
"Kami tak cukup kursi di ruang kelas. Waktu istirahat satu jam untuk semua orang mendapat makanan terlalu singkat," kata pelajar berusia 15 tahun, Kesia, dikutip Reuters.
Demo tersebut mulanya berlangsung damai. Namun, situasi di lapangan berubah, polisi menembakkan gas air mata bahkan peluru karet ke kerumunan untuk membubarkan massa. Petugas juga menangkap 1.949 orang dan mayoritas adalah pelajar.
Kelompok hak asasi manusia menuduh polisi menggunakan taktik kasar ke anak di bawah umur, termasuk penggunaan kekerasan, penembakan gas air mata, dan peluru karet non mematikan.
Pihak berwenang Prancis telah membuka beberapa penyelidikan untuk memeriksa tuduhan kekerasan polisi. Salah satunya akan menyelidiki kasus remaja berusia 16 tahun, yang mengalami cedera mata setelah polisi menembakkan peluru karet ke kerumunan demonstran.
(isa/asr)
