Kepala Sipir AS Resign Gegara Suntik Mati Napi Tetapi Tak Meninggal
Kepala sistem pemasyarakatan Tennessee Amerika Serikat mengundurkan diri setelah proses eksekusi terhadap narapidana hukuman mati, Christa Pike, gagal.
Gubernur Tennessee Bill Lee mengumumkan hal tersebut pada Sabtu (3/10), di tengah penyelidikan mengenai apa yang menyebabkan proses hukuman mati Pike gagal.
Kepapa sipir itu ialah Commissioner of the Tennessee Department of Correction, Frank Strada. Lee menuturkan Strada mengajukan pengunduran dirinya dan akan meninggalkan jabatannya pada akhir bulan ini.
Dikutip Anadolu Agency, Lee mengatakan bahwa ia menerima pengunduran diri Strada. Pejabat setempat menyebutkan bahwa seorang komisaris sementara akan ditunjuk untuk menggantikannya.
Strada mengatakan bahwa ia tetap meyakini departemennya telah mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Namun, menurutnya, mengundurkan diri merupakan langkah yang terbaik bagi negara bagian tersebut selama peninjauan independen dilakukan.
Eksekusi Pike dengan suntikan mematikan pada Rabu dihentikan setelah dua upaya untuk memberikan obat eksekusi mengalami kegagalan.
Sebagai informasi, Tennessee menggunakan pentobarbital dalam prosedur hukuman mati dengan suntik mati. Obat tersebut seharusnya masuk melalui jalur intravena (IV) langsung ke aliran darah.
Namun, terjadi masalah ketika petugas berusaha memberikan obat pada Pike, terpidana hukuman mati sejak 1995 karena membunuh Colleen Slemmer yang saat itu berusia 19 tahun.
Menurut tim kuasa hukum Pike, ada masalah dengan pemasangan atau posisi jalur IV. Mereka menduga obat tersebut tidak masuk sebagaimana mestinya ke pembuluh darah, tetapi bisa masuk ke jaringan di sekitar pembuluh darah.
Petugas kemudian mencoba memberikan dosis kedua kepada Pike namun perempuan itu tak kunjung meninggal.
Prosedur penyuntikan itu berlangsung sekitar dua jam sebelum akhirnya dihentikan setelah dua kali percobaan dan gagal.
Pike kemudian dibawa ke rumah sakit. Pengacara Pike mengatakan dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan pada Jumat bahwa kondisi Pike kritis, tidak sadarkan diri, dan menggunakan ventilator di sebuah rumah sakit di wilayah Nashville.
Pengacara berpendapat bahwa keteledoran dalam melakukan penyuntikan bisa menyebabkan terpidana merasakan penderitaan yang serius tanpa meninggal.
Gubernur Lee memerintahkan peninjauan independen terhadap upaya eksekusi tersebut dan menangguhkan seluruh eksekusi yang tersisa di negara bagian itu hingga akhir tahun sebelum mengetahui penyebab kegagalan ini.
Pasalnya, "botched execution" ini bukan yang pertama kali terjadi di Tennessee.
Beberapa bulan sebelum Pike, Tennessee juga mengalami kegagalan serupa saat mengeksekusi Tony Carruthers.
Pada Mei 2026, petugas berusaha melakukan eksekusi Carruthers, tetapi mereka dilaporkan menghabiskan sekitar 90 menit untuk mencari pembuluh darah yang bisa digunakan untuk memasang IV.
Mereka akhirnya tidak berhasil mendapatkan akses IV yang diperlukan hingga proses eksekusi mati pun juga dihentikan.
Sebelum bertugas di Tennessee, Strada juga pernah menjadi pejabat senior penjara di Arizona.
Beberapa eksekusi yang dilakukan ketika ia menjadi pejabat senior di Arizona juga pernah dikategorikan sebagai "botched executions" oleh Death Penalty Information Center.
(rds/rds)