200 Orang Diperiksa di RS usai Peneliti Tewas di Lab Akibat Virus

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 20:20 WIB
Hampir 200 orang di wilayah Irkutsk, Rusia, kini menjalani pemantauan medis setelah seorang peneliti di lembaga penelitian anti-wabah tewas. (iStock/Derek Brumby)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hampir 200 orang di wilayah Irkutsk, Siberia Timur, Rusia, kini menjalani pemantauan medis setelah seorang peneliti di lembaga penelitian anti-wabah jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sebanyak 189 orang dilaporkan berada dalam pengawasan medis karena diduga terpapar wabah pes. Namun, otoritas Rusia hingga kini belum memastikan bahwa kematian peneliti tersebut disebabkan oleh wabah pes.

Kepala Republik Buryatia, Alexei Tsydenov, mengatakan seorang pegawai perempuan di lembaga penelitian anti-wabah di Irkutsk telah meninggal setelah jatuh sakit.

Sementara itu, badan pengawas kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan pegawai tersebut didiagnosis mengalami pneumonia dengan etiologi yang belum diketahui.

Rospotrebnadzor mengatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, termasuk Kota Irkutsk dan Shelekhov, masih stabil.

Badan tersebut juga menyatakan hasil pemeriksaan lebih lanjut belum menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan pegawai tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Kasus ini sebelumnya dilaporkan media lokal pada Jumat (2/10). Seorang pegawai lembaga anti-wabah berusia 27 tahun disebut jatuh sakit setelah kembali dari perjalanan dinas ke Buryatia.

Media Rusia, Mash, melaporkan pegawai tersebut diduga mengalami pneumonia yang berkaitan dengan wabah pes. Buryatia sendiri sebelumnya melaporkan adanya wabah di wilayah dekat perbatasan Rusia dengan Mongolia.

Laporan mengenai kasus tersebut turut mendapat perhatian Amerika Serikat. Gedung Putih disebut sedang memantau perkembangan kasus dan langkah karantina yang diterapkan Rusia.

Seorang pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa pemerintah AS telah mengetahui dan memantau situasi tersebut serta sedang mengevaluasi sejumlah opsi.

Kementerian Kesehatan Rusia, pemerintah Moskow, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari CNBC.

(mge/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK