Tangan Remaja Prancis Putus Kena Granat Polisi saat Ikut Demo Pelajar

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 13:40 WIB
A protester throws a canister tear gas amid clashes during a gathering outside the Lycee Deodat-de-Severac high school as part of nationwide protests by high school students to demand the hiring of substitute teachers, increased resources and better
Seorang remaja mengalami cedera serius usai terkena granat polisi di demo pelajar Prancis. Foto: REUTERS/Nacho Doce
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan satu tangan setelah granat meledak saat aksi protes pelajar kembali memanas di Prancis. Insiden itu terjadi di dekat sebuah sekolah menengah kejuruan di Lens, Prancis, pada Senin (5/10).

Remaja tersebut mengalami luka serius di dekat Lycee Auguste-Behal. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit di Lille untuk mendapat perawatan.

Prefek Pas-de-Calais Francois-Xavier Lauch mengatakan kondisi remaja itu tidak mengancam nyawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan AFP yang mengutip sumber kepolisian, remaja tersebut diduga mengambil granat karet atau granat "penghalau" yang ditembakkan oleh polisi anti huru hara. Ia disebut hendak melempar kembali granat itu sebelum benda tersebut meledak di tangannya.

Namun, jaksa penuntut umum mengatakan penyidik belum dapat memastikan apakah remaja itu benar-benar mengambil granat tersebut atau benda itu jatuh dan meledak di dekatnya.

Kasus tersebut kini diselidiki oleh bagian urusan internal kepolisian. Otoritas juga tengah melakukan enam penyelidikan terkait cedera serius yang terjadi selama rangkaian protes pelajar.

Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut cedera yang dialami remaja tersebut sebagai kejadian yang "sangat dramatis secara kemanusiaan". Namun, dia mengatakan belum akan memberikan komentar lebih jauh sebelum fakta mengenai insiden itu terungkap.

Geffray mengatakan sebanyak 190 pelajar terluka sejak aksi protes dimulai.

Protes sekolah meluas

Aksi demonstrasi pelajar di Prancis telah memasuki minggu ketiga. Pemerintah memperkirakan 500 sekolah terdampak akibat aksi tersebut.

Kementerian Pendidikan mencatat 589 sekolah mengalami gangguan pada Senin (5/10), turun dari 735 sekolah pada Jumat (2/10). Sebelumnya, diperkirakan sekitar 400 hingga 500 dari 3.700 sekolah menengah atas di Prancis dapat ditutup sebagian atau seluruhnya.

Demonstrasi awalnya pecah di sebuah sekolah menengah di pinggiran Paris pada akhir September. Pelajar memprotes kekurangan guru, fasilitas sekolah yang buruk, dan ketimpangan akses pendidikan.

Sejumlah siswa mengatakan mereka sering tidak mendapatkan guru untuk mata pelajaran tertentu, termasuk matematika dan bahasa Inggris.

Aksi kemudian menyebar ke berbagai wilayah Prancis dan memicu bentrokan antara pelajar dan polisi.

Amnesty International Prancis menyoroti penggunaan kekuatan polisi selama demonstrasi. Organisasi tersebut menilai terdapat dugaan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap pelajar, termasuk anak di bawah umur.

Amnesty juga menerima laporan mengenai siswa yang dipukul menggunakan pentungan, terkena gas air mata, hingga tembakan peluru karet yang dikenal sebagai LBD.

Organisasi hak asasi manusia itu mendesak pemerintah memastikan tindakan aparat tetap proporsional dan sesuai dengan kewajiban Prancis dalam melindungi hak asasi manusia.

Juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah "memulihkan ketertiban".

Kerusuhan terjadi di sejumlah kota pada Senin. Media lokal BFMTV melaporkan bentrokan antara polisi dan pelajar di Lille, penggunaan gas air mata di Toulouse di barat daya, serta kebakaran ketika sekelompok orang berusaha masuk ke sebuah sekolah di Paris.

Kepala Lycee Vauquelin di Paris, Carole Zerbib, mengatakan sekolahnya diserang sekelompok orang yang mengenakan tudung dan masker.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api dan mengevakuasi seluruh penghuni sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut kemudian dihentikan.

Zerbib mengatakan serangan itu berlangsung "sangat brutal dan cepat". Menurutnya, para pelaku menyerang sekolah selama sekitar 15 hingga 20 menit.

Geffray mengatakan 24 sekolah telah dibakar atau dijarah selama rangkaian protes. Sebanyak 78 staf pengajar juga dilaporkan terluka.

Al Jazeera melaporkan bahwa sejak 28 September, sekitar 5.000 orang, sebagian besar remaja, telah ditangkap di berbagai wilayah Prancis. Puluhan orang lainnya dilaporkan terluka.

Guru dan anggota masyarakat juga menjadi sasaran serangan. Kerusakan properti akibat kerusuhan diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

Di tengah situasi tersebut, organisasi mahasiswa menyerukan demonstrasi nasional kembali digelar pada Selasa (6/10).

Lebih lanjut, Jurnalis Al Jazeera, Natacha Butler, mengatakan bahwa di sekolah menengah di Paris, para siswa telah membuat barikade di depan pintu masuk gedung menggunakan tempat sampah dan pagar.

"Kami telah berbicara dengan banyak siswa yang datang ke sini, dan yang mereka katakan adalah bahwa mereka di sini untuk menyampaikan tuntutan mereka kepada pemerintah. Mereka mengatakan bahwa mereka muak dengan kekurangan guru dan seringkali tidak memiliki guru untuk mata pelajaran seperti matematika dan bahasa Inggris," katanya.

"Mereka juga mengatakan bahwa mereka di sini untuk berdemonstrasi guna menunjukkan solidaritas dengan siswa sekolah menengah lainnya yang mungkin berada di daerah yang lebih miskin di Prancis dengan fasilitas yang kurang memadai atau di wilayah seberang laut Prancis," lanjutnya.

Butler menambahkan bahwa mereka menyerukan semua anak muda harus memiliki "hak yang sama atas pendidikan".

[Gambas:Video CNN]

(mge/dna)