Novel-novel satir karya sastrawan Inggris George Orwell makin laris dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Donald Trump naik jadi Presiden Amerika Serikat sejak 2017.
Para penerbit di AS dan Inggris sejak awal 2026 mengeluarkan edisi cetak ulang eksklusif.
Salah satu contohnya adalah edisi Vintage Collector's Classics dari Animal Farm yang diterbitkan ulang pada 29 Januari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada April lalu, novel yang rilis pertama pada 1954, sudah diangkat ke layar lebar disutradarai oleh Andy Serkis.
Lihat Juga :![]() KILAS INTERNASIONAL Ijazah Wapres RI Dipajang Kampus Top sampai Malaysia Desak RI |
Sementara karya lain Orwell yaitu "1984", bukan saja sudah cetak ulang sejak 2017, namun diluncurkan edisi khusus 75 tahun pada 2023.
Novel yang dicetak pertama kali pada 1949 itu dianggap relevan dengan kondisi dunia, khususnya AS. Sebab di dalamnya memuat apa yang disebut Kementerian Kebenaran, di mana penguasa akan mengontrol semua aktivitas warganya.
"Sebuah visi dunia yang mengejutkan dan menghantui, 1984 begitu kuat sehingga benar-benar meyakinkan dari awal hingga akhir. Tidak seorang pun dapat menyangkal pengaruh novel ini, daya tariknya pada imajinasi berbagai generasi pembaca, atau ketahanan peringatannya-sebuah warisan yang tampaknya hanya tumbuh seiring berjalannya waktu," tulis laman abebooks.com itu.
Mengapa ramai lagi di era Donald Trump?
Dua novel itu mendapatkan momentum cetak ulang saat Donald Trump naik jadi Presiden. Misalnya, ketika penasihat Gedung Putih Kellyanne Conway mengatakan bahwa juru bicara Donald Trump, Sean Spicer, "memberikan fakta alternatif" saat menjelaskan pelantikan 2017 sebagai yang terbesar dalam sejarah.
Nah, kalimat itu dianggap familiar dengan novel "1984".
Direktur penghargaan Orwell, Jean Seaton, sampai perlu membaca ulang 1984 dan mengatakan pengalamannya sangat berbeda dari saat pertama kali ia membaca novel tersebut di awal hidupnya.
"Rasanya tidak lagi jauh bagi saya," kata Seaton sebab dalam novel 1984 tentang masyarakat di mana fakta-fakta diputarbalikkan dan ditekan dalam kabut 'bahasa baru'.
Ada juga peristiwa ketika H
akim Distrik AS Cynthia Rufe memutuskan semua materi edukasi di sebuah rumah bekas presiden pertama AS George Washington harus dikembalikan ke kondisi aslinya, ketika pemerintah Trump ingin mengubahnya sesuai narasi pemerintah pada Juli 2026 lalu.
Tapi Cynthia melarang pejabat Trump memasang panel pengganti yang menjelaskan sejarah secara berbeda.
Nah Cynthia memulai perintah tertulisnya dengan kutipan dari novel distopia karya George Orwell "1984" dan membandingkan pemerintahan Trump dengan rezim totaliter dalam buku tersebut yang disebut Kementerian Kebenaran, yang merevisi catatan sejarah agar sesuai dengan narasi mereka sendiri.
"Seolah-olah Kementerian Kebenaran dalam novel 1984 karya George Orwell kini benar-benar ada, dengan mottonya 'Ketidaktahuan adalah Kekuatan,' Pengadilan ini sekarang diminta untuk menentukan apakah pemerintah federal memiliki kekuasaan yang diklaimnya - untuk menyembunyikan dan membongkar kebenaran sejarah ketika pemerintah memiliki kendali atas fakta-fakta sejarah," tulis Rufe.
"Pemerintah tidak memilikinya."
(imf/bac)


