Orang Tua di China Rela Bayar Rp26 Juta Demi Latih Anak Hidup Susah

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 15:45 WIB
Sejumlah orang tua di China rela merogoh kocek hingga 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta untuk melatih anak-anak mereka 'hidup susah'. (AFP/FRED DUFOUR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah orang tua di China rela merogoh kocek hingga 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta untuk melatih anak-anak mereka 'hidup susah'.

South China Morning Post (SCMP) melaporkan beberapa anak di China dikirim ke kamp musim panas untuk terlibat dalam pekerjaan kasar, seperti memotong kayu dan memberi pakan babi.

Tujuannya, untuk mengajarkan mereka realita kehidupan dan menumbuhkan rasa syukur serta terima kasih kepada keluarga mereka.

Program ini dikenal sebagai "kamp kesulitan". Lokasinya tersebar di provinsi-provinsi barat daya seperti Sichuan, Guizhou, dan Yunnan, yang iklimnya relatif menyenangkan selama musim panas.

Anak-anak yang didaftarkan ke program ini akan diminta terjun langsung ke sawah dan perkebunan. Mereka akan menjalankan pekerjaan sehari-hari para petani, seperti menggali dan menjual kentang, mengupas kulit kayu, dan memberi makan ternak.

Salah satu kamp mematok tarif sebesar 4.000 yuan lebih (sekitar Rp10 juta) untuk pengalaman selama 10 hari. Sedangkan masa inap selama satu bulan dikenakan biaya lebih dari 10.000 yuan (sekitar Rp26 juta).

[Gambas:Video CNN]

Anak-anak yang berpartisipasi dalam program harus mengikuti aturan ketat. Jika mereka gagal menyelesaikan tugas, mereka bisa dihukum hanya makan kentang seharian.

Selain itu, ponsel mereka akan disita selama program dan kebutuhan mereka diberikan sesuai jumlah tugas yang telah diselesaikan, dikutip dari SCMP.

Panitia penyelenggara mengaku tujuan perkemahan ini yaitu untuk menanamkan pemahaman tentang sulitnya mencari nafkah. Meski begitu, panitia meyakinkan orang tua bahwa aktivitas di kamp tidak akan sesulit itu.

Video-video yang viral dari kamp menunjukkan anak-anak ada yang menangis dan memohon untuk pulang karena tidak betah. Beberapa bahkan menyatakan bersedia mengerjakan pekerjaan rumah apa pun, asal bukan bertani.

Beberapa kamp ada yang meminta anak-anak menuliskan surat kepada orang tua mengenai kegiatan yang mereka jalani.

Seorang staf di salah satu kamp mencatat bahwa orang tua sering kali tersentuh oleh video dan surat anak-anak mereka sehingga merekomendasikan kegiatan ini kepada orang tua lainnya.

Banyak warganet mengapresiasi kegiatan ini karena bisa mengajarkan anak cara menghargai kehidupan.

"Pengalaman anak-anak kita di perkemahan musim panas ini mencerminkan kesulitan nyata yang dihadapi generasi kita. Kita ingin memberi mereka kehidupan yang lebih baik, tetapi mungkin tanpa sengaja telah memanjakan mereka. Mungkin menghadapi kesulitan penting bagi anak-anak agar bisa menghargai kehidupan nyaman mereka," kata salah seorang netizen.

Namun, ada pula yang memperingatkan agar tidak membebani anak secara berlebihan.

"Banyak anak hanya menerima pendidikan di ruang kelas perkotaan. Beban kerja yang berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan fisik dan mental mereka," tulis warganet lain.

(blq/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK