Dari Mana Sumber Dana Milisi Houthi Yaman?
Kelompok milisi Houthi Yaman menyita perhatian setelah melancarkan serangan mematikan ke bandara Arab Saudi sepanjang akhir pekan kemarin, hingga menewaskan 13 orang.
Serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh tersebut menghantam bangunan bandara hingga ratusan orang turut terluka.
Houthi telah menyerang Arab Saudi dan situs-situs pentingnya sejak Juli, usai menuduh Riyadh dalang di balik serangan di bandara Sanaa, Yaman, yang dikuasai Houthi.
Masifnya serangan Houthi ini memicu pertanyaan dari mana sumber dana mereka berasal.
Dilansir dari BBC, Saudi dan negara-negara Barat meyakini bahwa Iran telah menjadi salah satu sumber dana utama bagi operasional Houthi.
Iran dipercaya menyelundupkan senjata, mulai dari drone, rudal jelajah, serta rudal balistik selama perang saudara Yaman yang melanggar embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebuah panel ahli PBB pada 2024 menyimpulkan bahwa Houthi telah menjadi organisasi militer yang kuat karena transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Garda Revolusi Iran, gerakan Hizbullah Lebanon, dan spesialis Irak.
Sementara itu, sebuah laporan pada Mei 2026 oleh Conflict Armament Research (CAR) juga menyebutkan bahwa Teheran telah memasok komponen rakitan kepada proksinya di Timur Tengah serta membagikan teknologi rudal canggih, setelah dahulu memberikannya dalam bentuk senjata jadi.
Menurut laporan Al Jazeera, Houthi juga mengumpulkan uang dari penarikan pajak, bea cukai, zakat, dan pungutan lainnya kepada masyarakat Yaman. Pendapatan-pendapatan ini diamankan setelah kelompok itu berhasil merebut ibu kota Sanaa pada September 2014.
Sebuah laporan oleh Mokha Center for Strategic Studies pada Juli menggambarkan hal ini sebagai "ekonomi paralel". Lembaga tersebut memperkirakan sistem ini telah menghasilkan sumber daya dan biaya keuangan langsung dan tidak langsung bagi Houthi senilai sekitar US$2,5 miliar setiap tahun.
Rinciannya, US$800 juta berasal dari pajak dan bea cukai, US$600 juta dari tambahan biaya dan pungutan, dan US$300 juta dari kontribusi tunai dan non-tunai untuk upaya perang.
Lebih lanjut, sekitar US$100 juta terkait dengan kegiatan mobilisasi dan US$700 juta lainnya dalam biaya tidak langsung yang ditanggung oleh bisnis akibat tingginya biaya transportasi, layanan, dan berbagai pungutan.
Selain itu, pemerintah AS juga menyebutkan bahwa perdagangan minyak ilegal telah menjadi salah satu sumber pembiayaan eksternal terpenting bagi Houthi.
Kementerian Keuangan AS pada Januari menuduh Houthi menghasilkan lebih dari US2 miliar setiap tahun melalui penjualan minyak ilegal.
(blq/dna)