Kepulauan Batanes Jadi Titik Panas Baru antara Filipina, China, dan AS

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 13:05 WIB
Philippine outgoing President Gloria Macapagal Arroyo (C-bottom) holds the rope during the flag raising ceremony on its 112th anniversary of the proclamation of Philippine Independence in Manila on June 12, 2010.  Arroyo will transfer her power to ne
Ilustrasi bendera Filipina. Foto: AFP PHOTO / NOEL CELIS

Respons historis dan kehadiran di lapangan

Kepulauan Batanes dihuni oleh sekitar 19.000 jiwa. Masyarakat lokal suku Ivatan menuturkan bahasa yang mirip dengan masyarakat adat di Taiwan.

Joseph Cultura, Wali Kota Itbayat, wilayah paling utara di rantai pulau tersebut, menegaskan posisi warganya bahwa "Kami tahu betul bahwa Batanes adalah milik kami. Batanes bukan bagian dari China."

Komisi Sejarah Nasional Filipina memaparkan bukti sejarah yang kuat: kepulauan ini adalah bagian dari landas kontinen yang bersambung dari Luzon utara; tidak ada catatan tata kelola China ketika penjelajah Inggris tiba pada tahun 1600-an; Spanyol secara resmi mengklaimnya pada tahun 1783; dan Batanes selalu terwakili dalam setiap badan legislatif nasional Filipina sejak akhir 1800-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati demikian, aktivitas maritim China di sekitar wilayah ini terus meningkat. Dalam 1,5 tahun terakhir, Filipina mendeteksi beberapa kapal penjaga pantai dan kapal riset China yang beroperasi di dekat pulau-pulau tersebut, di mana terdapat kabel bawah laut yang vital.

Baru-baru ini, penjaga pantai Filipina mengerahkan kapal terbesar dan pesawatnya untuk mengusir kapal survei laut China yang dikawal oleh kapal penjaga pantai Beijing.

Pemerintah Filipina menyatakan bahwa kapal tersebut berada jauh di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka tanpa izin.

Sebaliknya, Kedutaan Besar China di Manila berdalih bahwa kapal mereka beroperasi di perairan yurisdiksi China dan meminta Filipina untuk "berhenti mengganggu serta mempolitisasi aktivitas navigasi dan penelitian ilmiah normal China."

Kalkulasi politik dan masa depan pertahanan

Bagi Beijing, diskusi akademis semacam ini merupakan instrumen yang sangat berguna untuk mengukur respons internasional terhadap argumen-argumen baru. Sebelumnya, akademisi China juga pernah mempertanyakan kendali Jepang atas Kepulauan Ryukyu (termasuk Okinawa) dan Kepulauan Senkaku di timur laut Taiwan.

Publikasi pandangan para akademisi di China ini juga berfungsi sebagai sarana untuk menekan negara saingan. Diskusi mengenai Batanes mengemuka setelah Filipina dan Jepang memulai perundingan mengenai batas maritim di perairan sebelah timur Taiwan, wilayah yang juga diklaim oleh Beijing.

Sejumlah analis menilai klaim atas Batanes memberikan pembenaran bagi kapal-kapal China untuk beroperasi di luar First Island Chain yang membentang dari Jepang hingga Filipina dan menjadi garis pertahanan utama AS di Pasifik.

"Aturan hukum, yang terkadang kita anggap sebagai sesuatu yang dianggap tidak penting bagi China, tetapi kini dianggap penting oleh mereka," kata Ray Powell, Direktur Eksekutif SeaLight Foundation.

"Mereka kini ingin memiliki landasan pembenaran, bahkan jika pihak di luar China tidak mempercayainya," sambung dia.

Filipina sendiri terus memperkuat kehadiran militer di Batanes, termasuk pembukaan pangkalan operasi depan (forward operating base) baru tahun lalu. Rommel Jude Ong, pensiun Laksamana Muda Angkatan Laut Filipina yang kini bergabung di Stratbase Institute, berpendapat bahwa Filipina perlu berbuat lebih banyak untuk memperkuat wilayah tersebut.

"Mungkin itu akan mengacaukan kalkulasi China terhadap Taiwan. Dan jika tidak mencegah, setidaknya dapat menunda gagasan gila apa pun dari Tiongkok untuk menginvasi Taiwan," tutur Ong.

Bagi sebagian besar warga lokal, seperti Mark Anthony Castillo (34), seorang pemandu wisata di Basco, kekhawatiran utamanya hanyalah keselamatan daerah mereka dari ancaman konflik. "Semoga mereka menghormati batas wilayah yang kami miliki," pungkasnya. "Kami hanya ingin hidup sederhana dan normal di sini," pungkasnya.

(dna)

HALAMAN:
1 2