Singapura Beri Subsidi Berobat Buat Warga yang Sakit Imbas Kabut Asap

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 13:35 WIB
People walk along the bayfront with the city skyline shrouded in haze as smoke from regional forest fires reduces visibility across the island city-state, in Singapore, September 14, 2026. REUTERS/Suhaimi Abdullah
Ilustrasi. Singapura siapkan subsidi berobat di klinik bagi warganya yang sakit akibat kabut asap. Foto: REUTERS/SUHAIMI ABDULLAH
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Singapura memberikan subsidi pengobatan kepada warganya yang mengalami masalah gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lewat kebijakan ini, warga akan mendapatkan subsidi di klinik dokter umum dan poliklinik.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengumumkan pengaktifan kembali skema subsidi tersebut pada Minggu (11/10). Kebijakan ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh perawatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sekaligus mengurangi beban unit gawat darurat (UGD) rumah sakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh warga negara Singapura berhak mendapatkan subsidi di poliklinik. Sementara itu, subsidi di Klinik Kesiapsiagaan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Preparedness Clinics (PHPC) hanya tersedia bagi kelompok tertentu, termasuk anak-anak dan lansia.

Penerima Bantuan Publik akan mendapatkan perawatan yang disubsidi penuh. Lansia yang tergabung dalam Generasi Perintis dan Generasi Merdeka hanya perlu membayar maksimal S$5 (sekitar Rp69 ribu). Sementara itu, biaya perawatan bagi warga Singapura lainnya yang memenuhi syarat dibatasi maksimal S$10 (sekitar Rp140 ribu).

Di klinik PHPC yang berpartisipasi, subsidi tersedia bagi warga Singapura berusia 18 tahun ke bawah atau 65 tahun ke atas. Kelompok penerima lainnya mencakup pemegang kartu CHAS Biru dan Oranye, penerima Bantuan Publik, anggota Generasi Perintis dan Generasi Merdeka, serta pemegang Kartu Pembebasan Biaya Medis.

Kondisi kesehatan yang ditanggung dalam skema ini meliputi rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas, dan komplikasinya.

Dokter akan menilai apakah kondisi pasien berkaitan dengan kabut asap sebelum menentukan kelayakan penggunaan subsidi. Skema ini tidak menanggung pemeriksaan maupun pengobatan untuk penyakit yang tidak berkaitan dengan kabut asap.

Obat-obatan juga hanya akan diberikan sesuai kebutuhan selama perawatan tersebut.

Masyarakat dapat memeriksa daftar klinik PHPC yang berpartisipasi melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura. Klinik peserta juga dapat dikenali melalui stiker PHPC atau poster skema subsidi kabut asap.

Ong mengatakan terdapat sekitar 1.370 klinik dalam jaringan PHPC. Dari jumlah tersebut, hampir 1.000 klinik telah menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam skema subsidi kabut asap.

Skema ini terakhir kali diaktifkan pada 2015, ketika Singapura mengalami salah satu kabut asap terburuk akibat kebakaran hutan di Indonesia yang menyelimuti kawasan tersebut selama berminggu-minggu.

Ong mengatakan pihaknya mengamati peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan di UGD dari minggu ke minggu. Poliklinik juga mencatat kenaikan jumlah pasien dengan keluhan serupa.

Ia meminta masyarakat dengan gangguan pernapasan yang masih dapat ditangani di tingkat perawatan primer untuk mengunjungi klinik, bukan langsung mendatangi UGD. Namun, pasien dengan kondisi serius tetap harus mencari pertolongan di UGD.

"Jika tidak ada masalah besar, Anda tidak perlu mengunjungi unit gawat darurat. Pergilah ke klinik PHPC; mereka seharusnya dapat menangani Anda," kata Ong kepada wartawan dalam sebuah acara di Bukit Canberra pada Minggu, seperti dilaporkan Channel News Asia.

Ong mengatakan pemerintah ingin menjaga kapasitas UGD agar tetap tersedia bagi pasien dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa.

Ia juga ingin memastikan masyarakat merasa yakin bahwa dokter keluarga dapat menangani gangguan kesehatan yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Selain mengaktifkan subsidi, rumah sakit di Singapura telah menerapkan sejumlah langkah antisipasi kabut asap. Langkah tersebut meliputi penggunaan ventilator dan pembersih udara serta penutupan jendela di bangsal rumah sakit.

Di tengah pemberlakuan subsidi, kualitas udara Singapura masih berada dalam kategori tidak sehat pada Minggu (11/10).

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) sebelumnya memperkirakan Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam akan berada dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat selama 24 jam berikutnya.

Pada Jumat (9/10), PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 192 pada pukul 17.00 waktu setempat, menjadi angka tertinggi pada musim kabut asap tahun ini.

Satuan Tugas Kabut Asap Singapura yang terdiri dari 28 lembaga menyatakan siap menerapkan langkah tambahan jika PSI 24 jam melampaui 200.

Langkah tersebut mencakup pembagian masker N95 kepada warga yang memenuhi syarat serta penyediaan tempat perlindungan kabut asap berpendingin udara di sejumlah fasilitas komunitas.

Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit umum, poliklinik, dan panti jompo, juga telah mengaktifkan langkah kesiapsiagaan. Selain menggunakan pembersih udara dan menutup jendela di bangsal serta koridor, fasilitas tersebut dapat menurunkan suhu ruangan menggunakan pendingin udara portabel jika diperlukan.

[Gambas:Video CNN]

(mge/dna)