Trump Tuduh Ada 'Niat Terselubung' Houthi Serang Infrastruktur Saudi

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 09:55 WIB
U.S. President Donald Trump walks after exiting Air Force One in Morristown, New Jersey, U.S., September 4, 2026. REUTERS/Eric Lee
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: REUTERS/Eric Lee
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding milisi Houthi di Yaman sengaja memiliki niat terselubung menargetkan infrastruktur di Arab Saudi, untuk menaikkan harga minyak dunia menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) AS.

Trump pada Selasa (12/10) mengatakan Houthi telah bertindak "sangat buruk". Dia juga kembali mengulangi ancaman bahwa AS bisa meningkatkan serangan militer di seluruh Timur Tengah setelah pemilu sela November nanti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka (Houthi) sudah lama diam, namun kini muncul kembali kemungkinan atas perintah Iran, sebuah negara yang sedang gagal, tanpa angkatan laut, tanpa angkatan udara, dengan ekonomi terburuk di dunia serta inflasi 301 persen dengan cara yang sangat keji, menyerang Arab Saudi dan sengaja berusaha mendongkrak harga minyak, mungkin menjelang pemilu AS," tulis Trump di sosial media Truth Social.

Pada Selasa (12/10), Trump mengatakan dia "tidak akan pernah melupakan" serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Pernyataan ini seolah mengisyaratkan ancaman serangan militer AS lanjutan setelah pemilu sela. 

"Harus ada yang menjelaskan kepada mereka (Houthi) bahwa saya tidak sedang mencalonkan diri dalam Pemilu. Saya sudah menang, dengan kemenangan telak yang luar biasa, tetapi saya akan tetap ada setelah pemilu dan saya tidak akan pernah melupakannya," ujar Trump.

Sebelumnya serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak Februari lalu telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang turut menyebabkan lonjakan biaya hidup di AS dan dunia.

Lonjakan biaya hidup tersebut menguji kemampuan Partai Republik pimpinan Trump, untuk tetap mempertahankan mendominasi posisi mayoritasnya di DPR dan Senat pada pemilu sela nanti.

Partai Demokrat selaku oposisi berharap dapat memanfaatkan merosotnya popularitas Trump di pemilu kali ini.

Dilansir Al Jazeera, berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa hampir 70 persen pemilih di AS menganggap perang AS dan Iran tidak layak untuk dilakukan.

Trump selama ini menepis hasil jajak pendapat yang tidak menguntungkan dirinya, dengan menyebutnya "palsu". Dia lebih merujuk pada besarnya massa yang hadir dalam rapat umum partai sebagai bukti popularitasnya.

(dna)