Pertahanan Miliaran Dolar AS, Kenapa Saudi Masih Bisa Dibobol Houthi?

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 06:30 WIB
Kelompok Houthi juga terus mengembangkan strategi untuk membobol pertahanan udara Saudi.
Kelompok Houthi juga terus mengembangkan strategi untuk membobol pertahanan udara Saudi. (AFP/-)

Menurut Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Brigadir Jenderal Majed al-Nazili, Houthi juga telah memodifikasi senjata pertahanan udara Iran untuk menyerang pesawat dan rudal jelajah.

"Rudal-rudal ini bergerak selama periode hingga 25 menit per rudal dan beroperasi menggunakan sistem pelacakan termal," katanya pada bulan lalu.

Kelompok Houthi telah lama menjadi bagian dari "poros perlawanan" Iran. Ketika kelompok sekutu Teheran lainnya, seperti Hizbullah, Hamas, dan sejumlah milisi di Irak, mengalami pelemahan, Houthi justru semakin kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski memiliki hubungan erat dengan Iran, Houthi juga menjalankan agenda sendiri.

Konflik selama tujuh tahun melawan Saudi pada 2015-2022 menyebabkan penderitaan besar di wilayah Yaman yang dikuasai kelompok tersebut. Embargo ekonomi dan pembatasan transportasi juga terus berlanjut.

Pada Juli, Houthi menyatakan akan menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah. Kelompok tersebut kemudian melancarkan serangkaian serangan rudal yang awalnya menyasar kilang minyak Aramco di pesisir Laut Merah dan pangkalan udara Saudi.

Houthi menuntut penghentian serangan udara Saudi yang mendukung pasukan pemerintah Yaman. Mereka juga meminta kompensasi miliaran dolar dari Saudi.

Iran kemudian menawarkan diri menjadi mediator antara Saudi dan Houthi.

Pada Senin (12/10), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran siap memberikan bantuan untuk memfasilitasi dimulainya pembicaraan antara Saudi dan pihak Yaman, yang merujuk pada Houthi.

Anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, mengklaim Riyadh telah menerima tawaran mediasi tersebut. Namun, kelompoknya menolak usulan gencatan senjata selama dua minggu dan satu bulan.

Al-Bukhaiti memperingatkan pertempuran kali ini berbeda dari konflik sebelumnya.

"Setiap hari yang berlalu dalam pertempuran ini akan memperluas cakupannya dan memperdalam kerugiannya, dan penyelesaian yang mungkin dilakukan hari ini mungkin akan menjadi sulit atau bahkan mustahil di masa mendatang," katanya.

Di tengah eskalasi tersebut, Saudi berusaha mempertahankan kesan bahwa aktivitas bisnis tetap berjalan normal meski serangan Houthi meningkat.

Pekan lalu, otoritas pertahanan sipil Saudi sempat berhenti mengirimkan peringatan melalui telepon mengenai ancaman rudal dan drone. Penghentian itu terjadi sebelum serangkaian serangan mematikan di bandara Riyadh.

Peringatan via telepon

Sejumlah warga Riyadh mengatakan kepada CNN bahwa peringatan melalui telepon telah kembali diaktifkan. Pemerintah Saudi juga menyatakan berhasil mencegat tiga rudal balistik pada Senin (12/10).

Seorang warga ekspatriat yang tinggal di Riyadh mengatakan anak-anaknya mengikuti kegiatan sekolah dari rumah pada pekan ini.

Warga tersebut mengeluhkan tidak adanya peringatan otomatis ketika rudal mendekat dan minimnya informasi resmi mengenai serangan terhadap bandara Riyadh. Namun, ia menyebut sistem peringatan melalui telepon kembali berfungsi dengan baik pada Senin (12/10).

CNN telah meminta tanggapan otoritas Saudi mengenai tidak adanya peringatan tersebut.

Saudi kini menghadapi pilihan sulit. Berdamai dengan Houthi setelah belasan warga sipil tewas dalam serangan di bandara dapat menimbulkan tekanan politik. Namun, meningkatkan serangan udara juga berisiko memicu serangan balasan yang lebih besar.

Eskalasi tersebut dapat mengganggu ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menjadikan Saudi sebagai pusat investasi, teknologi, dan pariwisata kelas dunia.

Ancaman terhadap Saudi juga tidak terbatas pada industri minyak. Pusat data, fasilitas desalinasi untuk menghasilkan air bersih, dan bandara merupakan infrastruktur penting yang menopang transformasi ekonomi kerajaan.

Dampak konflik mulai terlihat pada kegiatan ekonomi. Sejumlah perusahaan besar dilaporkan menjauh dari Kongres Perminyakan Dunia yang berlangsung di Riyadh pada pekan ini.

Sementara itu, acara investasi utama yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini akan menjadi kesempatan bagi Saudi untuk meyakinkan investor internasional bahwa negara tersebut tetap aman untuk berbisnis.

Upaya mengalahkan Houthi melalui serangan darat bersama pasukan pemerintah Yaman juga dinilai sangat sulit. Kelompok itu telah lama bercokol di wilayah pegunungan, memiliki pengalaman tempur, dan mengenal medan dengan baik.

Dalam sebulan terakhir, mereka juga menimbulkan kerugian besar bagi pasukan pemerintah Yaman.

Tahun lalu, AS menghabiskan lebih dari US$1 miliar untuk melancarkan serangan udara selama tujuh minggu terhadap Houthi.

Operasi itu membuat Houthi akhirnya sepakat tidak menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah. Namun, kelompok tersebut tetap bertahan dan bahkan menembak jatuh sejumlah drone Reaper milik AS yang berteknologi canggih.

Serangan AS dan Israel juga tidak berhasil melenyapkan seluruh pimpinan Houthi, meskipun sejumlah komandan dan tenaga ahli mereka tewas.

Institut Studi Perang menyebut Houthi diperkirakan memiliki hingga 350.000 personel bersenjata. Mereka bahkan telah mengepung Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman yang dikuasai pemerintah dan menjadi pusat logistik penting.

Arab Saudi meminta dukungan

Menghadapi situasi tersebut, Saudi berusaha memperkuat dukungan internasional. Sejumlah sekutu regional menawarkan bantuan sistem pertahanan.

Pakistan dilaporkan telah mengirim ribuan pasukan untuk membantu mempertahankan kerajaan. Mesir juga menyatakan siap memberikan dukungan sesuai permintaan Saudi.

Saudi berpotensi memperoleh tambahan sistem pertahanan udara dari AS dan Eropa setelah sebelumnya mengurangi pengiriman persenjataan pada awal konflik dengan Iran. Namun, kemampuan sekutu untuk memenuhi kebutuhan tersebut juga terbatas.

Laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS menyebut operasi militer melawan Iran telah mengurangi persediaan strategis dan mengungkap hambatan industri pertahanan dalam memasok kembali amunisi.

Dengan pemilihan paruh waktu yang tinggal tiga minggu lagi, Presiden AS, Donald Trump, belum memberikan kepastian mengenai kemungkinan serangan langsung terhadap Houthi.

Mantan Duta Besar AS untuk Saudi, Michael Ratney, menilai keengganan Washington untuk terlibat dapat memunculkan persepsi bahwa AS meninggalkan mitranya ketika membutuhkan bantuan.

Ratney mengatakan Saudi secara politik berada di bawah tekanan untuk membalas serangan. Namun, ia menilai diplomasi kemungkinan tetap menjadi jalan untuk meredakan konflik, meskipun kesepakatan yang tercapai mungkin tidak sepenuhnya memuaskan semua pihak.

Jika jalur diplomasi kembali ditempuh, Houthi mungkin tetap bertahan di wilayah kekuasaannya dan keluar dari konflik dengan posisi yang lebih kuat di Yaman.

(mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2