Warga Austria Demo Larangan Hijab Bagi Perempuan 14 Tahun ke Bawah
Warga Austria memprotes aturan pemerintah yang melarang penggunaan jilbab bagi anak perempuan berusia di bawah 14 tahun menyusul tahun ajaran baru dimulai.
Ratusan siswa melangsungkan protes di sekolah hingga jalanan menolak mematuhi aturan tersebut.
Pemerintah Austria yang dipimpin kelompok konservatif bersikeras bahwa larangan yang mulai berlaku pada 1 September itu bertujuan mendorong kesetaraan gender dan melindungi anak perempuan Muslim dari "segregasi dan penindasan".
Undang-undang baru tersebut merupakan upaya kedua Austria untuk membatasi penggunaan jilbab di sekolah. Sebelumnya, pada 2019, koalisi antara kelompok konservatif dan Partai Kebebasan memberlakukan larangan jilbab bagi murid sekolah dasar.
Namun, undang-undang 2019 itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi dengan alasan bahwa peraturan yang secara khusus menyasar umat Muslim tidak sesuai dengan prinsip netralitas agama.
Para pengkritik menilai aturan tersebut secara tidak proporsional menyasar umat Muslim, melanggar kebebasan beragama, serta memaksa anak perempuan untuk berpakaian dengan cara yang membuat mereka tidak nyaman.
Sejak aturan baru berlaku per September kemarin, otoritas pendidikan di seluruh Austria telah mengadakan 127 pertemuan dengan orang tua dan mengajukan 52 laporan terkait dugaan pelanggaran hukum tersebut.
Dikutip AFP, dalam sebuah demonstrasi di Wina, Zehra, 37 tahun, yang tidak bersedia menyebutkan nama belakangnya, mengatakan bahwa kedua putrinya yang berusia sembilan dan 13 tahun merasa "sedih dan marah" atas larangan tersebut.
"Kami membesarkan anak-anak dengan mengajarkan bahwa mereka bisa menentukan ingin menjadi siapa. Namun, undang-undang ini justru bertolak belakang dengan hal itu," ujarnya.
Sementara itu, Seham, 12 tahun, mengatakan bahwa ia merasa "takut" melepas jilbabnya di sekolah.
"Saya sudah memakainya selama dua tahun dan rasanya jilbab itu sudah menjadi bagian dari diri saya," katanya.
Setelah berdiskusi dengan pihak sekolah, ia mengatakan bahwa dirinya diizinkan menutup rambut menggunakan penutup kepala alternatif yang bukan merupakan bagian dari tradisi keagamaan. Meski demikian, ia mengaku tetap "lebih memilih mengenakan jilbab secara utuh".
Menurut statistik pemerintah pada 2021, sekitar delapan persen dari sembilan juta penduduk Austria beragama Islam.
Berdasarkan laporan badan hak asasi Uni Eropa, FRA, pada 2024, umat Muslim di Austria mengalami tingkat rasisme dan diskriminasi anti-Muslim tertinggi di Uni Eropa.
Peningkatan rasisme dan diskriminasi ini terjadi sejak Partai Kebebasan Austria (FPÖ) yang berhaluan kanan jauh untuk pertama kalinya meraih kemenangan dalam pemilihan umum 2024 lalu, meskipun gagal membentuk pemerintahan.
(rds/bac)