Kolombia Buka Kedubes untuk Israel di Yerusalem, Tuai Kecaman

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 18:15 WIB
A Colombian flag waves during the closing campaign rally of Colombia's presidential candidate Abelardo de la Espriella, of the Defensores de la Patria party, in Medellin, Colombia on May 24, 2026. Colombia will hold presidential elections on May 31.
Foto: AFP/JAIME SALDARRIAGA
Jakarta, CNN Indonesia --

Kolombia buka Kedutaan Besar untuk Israel di Yerusalem pada Rabu (14/10) dan menuai kecaman dari komunitas internasional.

Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula Escobar mengatakan hubungan kedua negara seharusnya tak pernah terputus. Dia menyebut Bogota tengah mengambil langkah konkret menuju pemulihan hubungan diplomatik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Israel adalah mitra strategis. Selalu demikian, dan mulai sekarang, akan menjadi mitra yang lebih kuat lagi," kata dia dalam upacara membuka Kedubes, dikutip Al Jazeera.

Kolombia menjadi negara ke-10 yang membuka Kedubes Israel di Yerusalem. Namun, beberapa negara membuka kantor diplomatiknya di Tel Aviv.

Langkah Kolombia membuka Kedubes di Yerusalem menuai kecaman dari komunitas internasional.

Negara-negara Arab seperti Yordania, Arab Saudi, dan Aljazair mengutuk keras pembukaan kantor diplomatik itu.

Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut setiap tindakan atau keputusan yang bertujuan mengubah status atau kedudukan hukum Yerusalem adalah "batal demi hukum, tidak sah, dan tanpa kekuatan hukum."

Yordania juga meyakini satu-satunya cara mencapai perdamaian yang adil dan menyeluruh adalah dengan mendirikan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Saudi juga mengeluarkan kecaman serupa. Mereka menyebut tindakan itu bertolak belakang dengan posisi internasional soal status hukum dan sejarah Yerusalem.

"Ini pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan resolusi internasional yang relevan," demikian menurut Kemlu Saudi, dikutip Anadolu Agency.

Israel menduduki Yerusalem sejak Perang Enam Hari pada 1967 dan mengeklaim secara sepihak wilayah tersebut. Mebumbuka di sini dianggap melegetimasi pendudukan Negeri Zionis.

(isa/rds/bac)
placeholder