Media Asing Soroti Indonesia Pakai Dry Ice Atasi Karhutla

CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 08:30 WIB
Motorists drive through a main road as haze from wildfires shrouds the area in Palangka Raya, Central Kalimantan province, Indonesia, October 14, 2026. REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama
Langit jingga pekat tertutup kabut asap parah di Palangka Raya. Foto: REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah media internasional menyoroti langkah Indonesia menggunakan dry ice untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian parah.

Media Inggris The Guardian dalam laporannya menyebut bahwa Indonesia mencoba pendekatan baru "yang tidak biasa" untuk mengatasi karhutla, terutama kabut asap, yaitu dengan dry ice.

"Saat kebakaran melanda Indonesia, mengeluarkan asap beracun yang telah memicu kemarahan di negara-negara tetangga, pemerintah RI menguji pendekatan baru yang tidak biasa untuk mengatasi kabut asap: es kering (dry ice)," tulis The Guardian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dry ice adalah bentuk padat dari karbon dioksida. Teknik ini pertama kali diterapkan pada tahun 1940-an untuk mendorong pembentukan es di awan.

Profesor peneliti kebakaran hutan di Universitas New South Wales (UNSW), Rick McRae, mengatakan bahwa penggunaan dry ice kemungkinan hanya bisa membantu secara terbatas.

"Metode ini memiliki potensi untuk memberikan peredaan lokal yang mungkin efektif untuk sementara waktu," ujar Rick McRae

McRae menjelaskan sistem cuaca terus bergerak dari timur ke barat. Ketika asap di satu wilayah berhasil dihilangkan, asap dari wilayah lain akan berdatangan.

"Ini adalah kondisi yang terus-menerus terjadi... Situasinya tidak sederhana dan sama sekali bukan solusi permanen," ucapnya.

Media Singapura Channel News Asia (CNA) juga menyoroti penggunaan 1,5 ton dry ice untuk mengurai kabut asap.

CNA memahami bahwa operasi ini dilakukan guna meningkatkan kualitas udara dan jarak pandang, dengan cara menyebar asap yang terperangkap di lapisan atmosfer bawah agar bisa naik ke atas.

"Berbeda dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) Indonesia yang bertujuan untuk mendatangkan hujan guna membantu memadamkan kebakaran, uji coba dry ice ini dimaksudkan untuk mengurangi konsentrasi kabut asap," tulis CNA.

CNA juga mencermati bahwa metode ini akan dilakukan bersamaan dengan OMC, dengan uji coba pertama dilakukan di Sumatra Selatan.

"Operasi ini akan dievaluasi untuk menentukan seberapa efektif teknik tersebut dalam menghilangkan kabut asap dan apakah dapat diterapkan di wilayah lain yang terkena dampak," tulis CNA.

Media Australia ABC Net juga mewartakan upaya RI mengurangi kabut asap menggunakan es kering. ABC News memahami bahwa langkah ini diambil setelah kabut asap parah membekap Indonesia serta sejumlah negara di Asia Tenggara.

"Sebanyak 1,5 ton es kering sedang disiapkan untuk didistribusikan menggunakan pesawat Cessna di wilayah Palembang," tulis ABC Net.

Media Malaysia New Straits Times (NST) juga menyoroti keputusan penggunaan karbon dioksida padat ini.

NST menggarisbawahi bahwa laporan awal metode ini menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang di sekitar area penyemaian, dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.

NST memahami bahwa pemerintah Indonesia akan menguji coba teknik ini pertama-tama di Sumatra Selatan.

"Sumatera Selatan merupakan salah satu dari enam provinsi prioritas Indonesia untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan, bersama dengan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan," tulis NST.

"Uji coba dijadwalkan berlanjut hingga 18 Oktober, setelah itu hasilnya akan dievaluasi dan diskusi lebih lanjut akan diadakan dengan pihak-pihak terkait mengenai apakah teknik ini akan diperluas ke daerah lain yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan," tutup NST.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) berupa penyemaian dry ice untuk mengurangi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Sumatra Selatan. Penerbangan pertama penyemaian dry ice dilakukan pada Kamis (15/10).

Metode ini ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga konsentrasinya berkurang dan visibility meningkat.

(blq/dna)