Jakarta, CNN Indonesia -- Provinsi Alberta di Kanada menggelar referendum terkait kemerdekaan pada Senin (12/10).
Pemungutan suara ini menjadi momentum penting bagi gerakan separatis yang selama puluhan tahun mendorong Alberta keluar dari Kanada.
Alberta dikenal sebagai salah satu wilayah kaya minyak di Kanada. Namun, sebagian warganya merasa pemerintah federal di Ottawa mengambil terlalu banyak pendapatan dari sumber daya alam Alberta tanpa memberikan imbalan yang sepadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendiri organisasi advokasi Pathway to Independence, Cory Morgan, menjadi salah satu tokoh yang selama lebih dari 25 tahun memperjuangkan kemerdekaan Alberta. Ia mengatakan akan terus memperjuangkan gagasan tersebut meski warga menolak pemisahan diri dalam referendum.
"Saya akan menghormati kehendak para pemilih. Jika mereka memutuskan bahwa belum saatnya untuk menempuh jalan itu, maka biarlah. Tapi itu tidak berarti saya akan berhenti," kata Morgan kepada Al Jazeera.
Meski demikian, hasil jajak pendapat menunjukkan gerakan separatis masih menghadapi tantangan besar. Sekitar empat dari lima warga Alberta ingin provinsi tersebut tetap menjadi bagian dari Kanada.
Mengapa sebagian warga Alberta ingin memisahkan diri dari Kanada?
Referendum tersebut tidak secara langsung menentukan kemerdekaan Alberta. Warga dihadapi dua pilihan, yaitu tetap menjadi bagian dari negara tersebut atau memulai proses hukum untuk menggelar referendum kemerdekaan pada masa mendatang.
Jika mayoritas pemilih mendukung langkah kedua tersebut, Alberta tetap harus melalui proses panjang sebelum bisa menjadi negara merdeka.
Proses itu mencakup negosiasi dengan pemerintah federal di Ottawa, provinsi-provinsi lain, serta masyarakat adat yang tinggal di Alberta dan wilayah sekitarnya.
Profesor Ilmu Politik Universitas Alberta, Jared Wesley, mengatakan sebagian pendukung referendum sebenarnya tidak menginginkan kemerdekaan. Mereka menggunakan pemungutan suara tersebut untuk menyampaikan ketidakpuasan kepada Ottawa.
[Gambas:Video CNN]
Data yang dikumpulkan Viewpoint Alberta, sebuah inisiatif penelitian berbasis di Universitas Alberta, menunjukkan dua pertiga pemilih yang mendukung referendum melakukannya untuk mengirim pesan kepada Ottawa.
Morgan menyebut kelompok tersebut sebagai "separatis yang enggan", yakni warga yang merasa "sudah putus asa" dan ingin pemerintah federal lebih memperhatikan kepentingan Alberta.
Namun, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memperingatkan warga agar tidak menggunakan suara mereka sekadar untuk menyampaikan pesan.
"Jangan tertipu oleh anggapan bahwa Anda dapat 'mengirim pesan' dengan suara Anda," kata Carney dalam sebuah acara pro-Kanada di Calgary pada Kamis (15/10).
"Ini bukan poker. Suara menentang Kanada adalah gertakan berbahaya yang akan menyebabkan perpecahan mendalam dan ketidakpastian besar selama bertahun-tahun," ujarnya.
Alasan Alberta ingin merdeka
Keinginan Alberta untuk memisahkan diri dari Kanada berakar pada persoalan ekonomi dan kebijakan energi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Sebagai wilayah yang memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia, Alberta menjadi salah satu pusat industri energi Kanada. Namun, sebagian kelompok separatis menilai provinsi tersebut mengirim terlalu banyak uang kepada pemerintah federal dan tidak menerima manfaat yang sebanding.
Bagi Morgan, ketidakpuasan itu menguat sejak 1980-an ketika pemerintahan Perdana Menteri Kanada, Pierre Trudeau, memperkenalkan Program Energi Nasional.
Kebijakan tersebut mengatur harga, pajak, dan kepemilikan di sektor energi untuk menjaga keterjangkauan energi di Kanada. Namun, kebijakan itu juga mengarahkan lebih banyak pendapatan dari industri energi Alberta ke Ottawa.
Kebijakan tersebut menjadi simbol "keterasingan barat". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan rasa kehilangan hak di antara provinsi-provinsi paling barat Kanada.
Pada 2015, ketegangan kembali meningkat ketika pemerintahan Justin Trudeau menerapkan kebijakan iklim, termasuk pajak karbon nasional dan pembatasan emisi. Kebijakan tersebut menuai penolakan dari pelaku industri minyak di Alberta.
"Kita sudah berdebat tentang hal yang sama selama 50 tahun," kata Morgan.
Pandemi Covid-19 juga ikut mendorong kebangkitan gerakan separatis. Menurut sejumlah ahli, demonstrasi menentang pembatasan kesehatan memobilisasi kelompok konservatif baru yang kemudian mendukung gerakan tersebut.
Pada 2025, tekanan dari kelompok separatis semakin meningkat. Pemerintahan Perdana Menteri, Alberta Danielle Smith, kemudian mempermudah penyelenggaraan referendum, sehingga isu kemerdekaan kembali menjadi bagian dari agenda politik provinsi tersebut.
Meski mendukung penyelenggaraan referendum, Smith mengumumkan bahwa dirinya menolak pemisahan Alberta dari Kanada pada Rabu (14/10).
"Menurut saya, sekarang bukanlah waktu untuk menyerah pada harapan di negara kita, apalagi setelah kita berjuang begitu lama dan mencapai begitu jauh," kata Smith dalam video di media sosial.
Wesley menilai referendum tersebut juga berkaitan dengan dinamika internal Partai Konservatif Bersatu yang dipimpin Smith. Dukungan terhadap pemisahan diri di kalangan anggota partai itu dinilai lebih tinggi dibandingkan dukungan masyarakat Alberta secara keseluruhan.
"Kita mengadakan referendum karena Danielle Smith menginginkannya. Dia ingin menyelesaikan masalah internal partai dengan mengajukan pertanyaan kepada publik yang lebih luas," ujar Wesley.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Kekalahan Referendum Belum Tentu Mengakhiri Gerakan Separatis
Foto: Wikimedia Commons/Tony Webster
Sejumlah pengamat membandingkan referendum Alberta dengan pemungutan suara Brexit di Inggris pada 2016.
Saat itu, warga Inggris memilih keluar dari Uni Eropa setelah Perdana Menteri David Cameron menggelar referendum di tengah perpecahan politik di Partai Konservatif.
Namun, ilmuwan politik yang tumbuh di Alberta dan kini tinggal di Irlandia, Ian Cooper, menilai referendum Inggris pada 1975 menjadi pembanding yang lebih relevan.
Dalam referendum tersebut, mayoritas warga Inggris memilih tetap berada di Komunitas Ekonomi Eropa. Meski demikian, hasil itu tidak menghentikan para pendukung keluarnya Inggris dari organisasi tersebut.
Menurut Cooper, gerakan separatis Alberta berpotensi mengikuti pola serupa. Kekalahan dalam referendum saat ini tidak serta-merta membuat para pendukung kemerdekaan menghentikan perjuangan mereka.
"Para aktivis yang mendukung Brexit - ini sebelum ada yang menyebutnya Brexit - mereka benar-benar memainkan strategi jangka panjang. Butuh waktu 25 tahun, tetapi akhirnya mereka berhasil," kata Cooper.
Morgan juga mengatakan kelompok separatis akan mengevaluasi strategi mereka jika referendum gagal. Ia akan berupaya untuk membuat argumen lebih kuat untuk kemerdekaan di masa depan.
Di sisi lain, Carney berupaya memperbaiki hubungan Ottawa dengan Alberta di tengah perang dagang yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Pemerintah federal berkomitmen membangun jalur pipa baru menuju pantai barat Kanada dan mengembangkan sejumlah proyek infrastruktur besar.
Carney mengakui bahwa kekecewaan warga provinsi tersebut merupakan persoalan nyata. Ia mengatakan sebagian warga merasa sumber daya alam mereka "seolah-olah bukan milik mereka sendiri".
Morgan mengakui bahwa gerakan separatis telah mendorong pemerintah federal untuk lebih memperhatikan kepentingan Alberta. Namun, ia menilai perubahan tersebut belum cukup untuk memenuhi tuntutan kelompok yang menginginkan kemerdekaan penuh.
"Namun masalahnya, jika menyangkut orang-orang yang keras kepala dan pro-kemerdekaan seperti saya, tidak ada yang berubah dalam sistem ini," katanya.
Isu Lain dalam Referendum Alberta
Selain persoalan kemerdekaan, warga Alberta juga memberikan suara untuk sembilan usulan lainnya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pembatasan akses penduduk sementara terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, serta kewenangan provinsi untuk memilih hakim sendiri.
Smith mendorong warga mendukung sembilan usulan tersebut. Menurutnya, hasil pemungutan suara dapat memperkuat posisi tawar pemerintah Alberta dalam bernegosiasi dengan Ottawa.
Cooper menilai hasil pemungutan suara atas usulan-usulan tersebut juga dapat memengaruhi masa depan gerakan separatis.
Jika warga mendukung perubahan yang diusulkan, tetapi pemerintah federal menolak memberikan konsesi, kelompok separatis dapat menggunakan penolakan tersebut untuk memperkuat argumen bahwa kepentingan Alberta sulit diperjuangkan dalam sistem Kanada saat ini.
Wesley mengatakan pendukung pemisahan diri memiliki motivasi yang beragam. Jika kemerdekaan dianggap tidak realistis, sebagian dari mereka mungkin beralih memperjuangkan isu konservatif lainnya, seperti imigrasi.
Sejumlah ahli juga mempertanyakan apakah gerakan tersebut memiliki identitas budaya yang cukup kuat untuk bertahan dalam jangka panjang. Berbeda dengan Quebec yang memiliki identitas bahasa Prancis, gerakan separatis Alberta lebih banyak disatukan oleh keluhan ekonomi.
Morgan tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Ia menilai Alberta memiliki karakter tersendiri yang terbentuk dari generasi penduduk yang datang untuk mencari kemakmuran mereka sendiri.
Bagi Morgan, apa pun hasil referendum, perjuangan kemerdekaan Alberta telah berhasil meningkatkan perhatian pemerintah federal terhadap ketidakpuasan warga provinsi tersebut.
"Semoga sebagian orang memahami bahwa pada akhirnya sesuatu harus berubah. Jadi apa pun hasilnya, saya berharap, setidaknya, ini telah menjadi peringatan bagi banyak orang," ujarnya.