Alberta Gelar Referendum Kemerdekaan, Kenapa Pisah dari Kanada?

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 08:30 WIB
The Canadian flag in Shediac, New Brunswick, Canada.
Foto: Wikimedia Commons/Tony Webster

Sejumlah pengamat membandingkan referendum Alberta dengan pemungutan suara Brexit di Inggris pada 2016.

Saat itu, warga Inggris memilih keluar dari Uni Eropa setelah Perdana Menteri David Cameron menggelar referendum di tengah perpecahan politik di Partai Konservatif.

Namun, ilmuwan politik yang tumbuh di Alberta dan kini tinggal di Irlandia, Ian Cooper, menilai referendum Inggris pada 1975 menjadi pembanding yang lebih relevan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam referendum tersebut, mayoritas warga Inggris memilih tetap berada di Komunitas Ekonomi Eropa. Meski demikian, hasil itu tidak menghentikan para pendukung keluarnya Inggris dari organisasi tersebut.

Menurut Cooper, gerakan separatis Alberta berpotensi mengikuti pola serupa. Kekalahan dalam referendum saat ini tidak serta-merta membuat para pendukung kemerdekaan menghentikan perjuangan mereka.

"Para aktivis yang mendukung Brexit - ini sebelum ada yang menyebutnya Brexit - mereka benar-benar memainkan strategi jangka panjang. Butuh waktu 25 tahun, tetapi akhirnya mereka berhasil," kata Cooper.

Morgan juga mengatakan kelompok separatis akan mengevaluasi strategi mereka jika referendum gagal. Ia akan berupaya untuk membuat argumen lebih kuat untuk kemerdekaan di masa depan.

Di sisi lain, Carney berupaya memperbaiki hubungan Ottawa dengan Alberta di tengah perang dagang yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Pemerintah federal berkomitmen membangun jalur pipa baru menuju pantai barat Kanada dan mengembangkan sejumlah proyek infrastruktur besar.

Carney mengakui bahwa kekecewaan warga provinsi tersebut merupakan persoalan nyata. Ia mengatakan sebagian warga merasa sumber daya alam mereka "seolah-olah bukan milik mereka sendiri".

Morgan mengakui bahwa gerakan separatis telah mendorong pemerintah federal untuk lebih memperhatikan kepentingan Alberta. Namun, ia menilai perubahan tersebut belum cukup untuk memenuhi tuntutan kelompok yang menginginkan kemerdekaan penuh.

"Namun masalahnya, jika menyangkut orang-orang yang keras kepala dan pro-kemerdekaan seperti saya, tidak ada yang berubah dalam sistem ini," katanya.

Isu Lain dalam Referendum Alberta

Selain persoalan kemerdekaan, warga Alberta juga memberikan suara untuk sembilan usulan lainnya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pembatasan akses penduduk sementara terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, serta kewenangan provinsi untuk memilih hakim sendiri.

Smith mendorong warga mendukung sembilan usulan tersebut. Menurutnya, hasil pemungutan suara dapat memperkuat posisi tawar pemerintah Alberta dalam bernegosiasi dengan Ottawa.

Cooper menilai hasil pemungutan suara atas usulan-usulan tersebut juga dapat memengaruhi masa depan gerakan separatis.

Jika warga mendukung perubahan yang diusulkan, tetapi pemerintah federal menolak memberikan konsesi, kelompok separatis dapat menggunakan penolakan tersebut untuk memperkuat argumen bahwa kepentingan Alberta sulit diperjuangkan dalam sistem Kanada saat ini.

Wesley mengatakan pendukung pemisahan diri memiliki motivasi yang beragam. Jika kemerdekaan dianggap tidak realistis, sebagian dari mereka mungkin beralih memperjuangkan isu konservatif lainnya, seperti imigrasi.

Sejumlah ahli juga mempertanyakan apakah gerakan tersebut memiliki identitas budaya yang cukup kuat untuk bertahan dalam jangka panjang. Berbeda dengan Quebec yang memiliki identitas bahasa Prancis, gerakan separatis Alberta lebih banyak disatukan oleh keluhan ekonomi.

Morgan tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Ia menilai Alberta memiliki karakter tersendiri yang terbentuk dari generasi penduduk yang datang untuk mencari kemakmuran mereka sendiri.

Bagi Morgan, apa pun hasil referendum, perjuangan kemerdekaan Alberta telah berhasil meningkatkan perhatian pemerintah federal terhadap ketidakpuasan warga provinsi tersebut.

"Semoga sebagian orang memahami bahwa pada akhirnya sesuatu harus berubah. Jadi apa pun hasilnya, saya berharap, setidaknya, ini telah menjadi peringatan bagi banyak orang," ujarnya.

(mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2