Sekjen PBB Singgung Karhutla RI saat Bahas Krisis Iklim
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyinggung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia saat bicara mengenai krisis iklim.
Dalam pernyataan di acara Foreign Policy Circle Talks yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), Guterres menyampaikan bahwa saat ini ada sejumlah negara yang menghadapi bencana terkait perubahan iklim.
Negara-negara tersebut umumnya negara berkembang yang tak banyak terwakilkan dalam institusi global.
"Kita menyaksikan kenaikan suhu dan bencana-bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim yang menghantam negara-negara berkembang, dengan dampak paling awal dan paling parah, sementara negara-negara tersebut hanya mendapat sedikit bantuan," kata Guterres di acara bertajuk Eight Decades of the United Nations: What's Next?, Senin (19/10).
Guterres melanjutkan bahwa beberapa negara saat ini juga sedang bergulat untuk mengantisipasi risiko dari bencana tersebut dan berupaya bertahan terhadap bencana berulang, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang sedang dialami Indonesia.
"Kita juga menyaksikan negara-negara berjuang untuk mengantisipasi risiko dan membangun ketahanan dalam menghadapi bencana yang terus berulang, seperti banjir, gempa bumi, naiknya permukaan laut, dan sebagaimana yang sangat dipahami Indonesia, kehancuran akibat kebakaran hutan serta letusan gunung berapi yang terjadi berulang kali," kata Guterres.
Guterres bicara demikian saat menyinggung tentang lemahnya peran institusi global dalam mencerminkan kebutuhan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Menurut Guterres, hal tersebut memiliki sederet konsekuensi, yakni sulitnya negara-negara berkembang untuk tumbuh karena tingginya lilitan utang hingga sulitnya mereka menangani bencana.
Lihat Juga : |
Selain itu, negara-negara berkembang juga sulit untuk lepas dari dampak perang dan perpecahan geopolitik.
"Pesannya jelas: kita tidak boleh mengambil risiko menghadapi dunia yang terfragmentasi. Sebaliknya, kita perlu berupaya mewujudkan multipolaritas yang saling terhubung, dengan berbagai pusat kekuatan yang ditopang oleh jalinan hubungan ekonomi, politik, sosial, dan teknologi yang erat," kata Guterres.
"Saya melihat Indonesia sebagai salah satu pusat dalam jejaring tersebut, dan kita harus mengakui satu kenyataan lain: dunia yang semakin multipolar menuntut adanya lembaga-lembaga multilateral yang efektif dan representatif," imbuhnya.
(blq/bac)