Menteri Luar Negeri Rusia yang merupakan tangan kanan Presiden Vladimir Putin, Sergey Lavrov, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Teheran, Senin (19/10).
Mereka membahas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta upaya mengakhiri konflik tersebut.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lavrov tiba di ibu kota Iran pada Senin (19/10) sore. Kunjungan ini menjadi yang pertama ke Iran sejak Februari 2025. Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri membahas perkembangan keamanan regional, termasuk perang yang melibatkan AS-Israel, dan Iran.
Araghchi mengecam apa yang disebutnya sebagai "ekspansi berbahaya" Israel di kawasan. Ia menilai tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran menjadi penyebab utama ketidakamanan di sekitar Selat Hormuz.
"Ketidakamanan yang ada di sekitar Selat Hormuz adalah akibat langsung dari agresi militer AS dan Israel terhadap Iran, dan hal itu terus berlanjut dalam berbagai bentuk," kata Araghchi.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Iran berfokus pada diplomasi, karena masalah regional "tidak memiliki solusi militer".
Araghchi juga mengkritik kebijakan negara-negara Eropa yang dinilainya turut berkontribusi terhadap konflik internasional.
"Saya percaya Eropa juga harus membuka mata terhadap beberapa kebenaran," ujarnya, seperti dilaporkan Al Jazeera.
"Sama seperti Amerika, orang Eropa menderita akibat kesalahan perhitungan dan interpretasi yang salah, dan menyebabkan banyak perang dan masalah di seluruh dunia dengan kebijakan mereka yang keliru," lanjutnya.
Sementara itu, Lavrov menegaskan komitmen Rusia terhadap perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Iran, yang mulai berlaku pada 2 Oktober.
Ia juga menyampaikan bahwa para spesialis Rusia akan secara bertahap kembali bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr setelah meninggalkan lokasi tersebut selama perang.
Lavrov turut mengaitkan pemulihan pelayaran dengan upaya menjamin keamanan Iran dari kemungkinan serangan baru.
Selain bertemu Araghchi, Lavrov mengadakan pertemuan dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Senin (19/10) sore. Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa Rusia memiliki "pandangan dan pendekatan yang sejalan dengan Iran" mengenai pentingnya membangun hubungan internasional berdasarkan rasa saling menghormati.
Kremlin menyebut kunjungan Lavrov sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang berlangsung sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebelum tiba di Teheran, Lavrov mengunjungi Bahrain pada Minggu (18/10) untuk menghadiri dialog strategis antara Rusia dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota GCC meminta Moskow menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mendorong "dialog serius" dan memulihkan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu mengalami gangguan setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial.
Ketua GCC, Jasem Al Budaiwi, mengatakan negara-negara anggota telah menghadapi lebih dari 7.000 serangan rudal dan drone Iran sejak perang dimulai.
Dalam pernyataan penutup, enam negara Arab anggota GCC juga menyatakan keinginan agar program nuklir dan rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan menjadi bagian dari pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Analis yang meneliti hubungan Iran dan Rusia di Timur Tengah, Nikita Smagin, menilai rangkaian kunjungan Lavrov ke negara-negara Teluk dan Iran menunjukkan upaya Moskow mempertahankan hubungan dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik.
Menurut Smagin, Rusia ingin mempertahankan posisinya sebagai mediator di kawasan, meskipun perang di Ukraina turut memengaruhi reputasi globalnya.
"Waktu kunjungan ke monarki-monarki Teluk dan Iran, yang berlangsung hampir bersamaan, merupakan sinyal yang disengaja: Moskow ingin menunjukkan bahwa mereka mendekati hubungan dengan semua negara ini dengan syarat yang kurang lebih sama dan sama-sama tertarik untuk bekerja sama dengan masing-masing negara tersebut," kata Smagin.
Peran Rusia dalam upaya meredakan konflik
Lavrov mengatakan kepada para menteri GCC di Manama, Bahrain, bahwa Timur Tengah kembali berada di ambang perang skala penuh. Ia mengusulkan pembentukan arsitektur keamanan regional untuk "keamanan kolektif".
Menurut Lavrov, upaya tersebut dapat menggabungkan inisiatif negara-negara di kawasan dengan usulan Rusia dan China. Tujuannya adalah memulihkan lalu lintas maritim dan menciptakan perdamaian jangka panjang.
Ia juga mendorong negara-negara lain yang terdampak serangan Iran, termasuk Irak dan Yordania, untuk terlibat dalam upaya tersebut.
Lavrov menyatakan dukungan terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani Iran dan AS pada Juni sebagai salah satu kerangka untuk mengurangi ketegangan. Namun, kesepakatan itu kemudian gagal.
Iran menyatakan ingin kembali pada kesepakatan tersebut. Teheran juga meminta Washington menghormati kesepakatan bilateral antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan perairan teritorial di Selat Hormuz.
Namun, AS menentang pengaturan tersebut dan telah menetapkan jalur pelayarannya sendiri di perairan itu.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, laporan intelijen yang dikutip sejumlah media AS menyebut Rusia dan China memberikan dukungan militer kepada Iran. Dukungan yang dilaporkan mencakup citra satelit untuk membantu penentuan sasaran serta komponen senjata.
Presiden AS, Donald Trump, membantah laporan tersebut pada pekan lalu. Ia mengatakan Moskow dan Beijing akan menghadapi "terlalu banyak kehilangan" jika membantu Iran.
Di sisi lain, Washington telah memberikan pengecualian sanksi kepada Rusia dalam upaya menekan kenaikan harga bahan bakar yang dipicu perang dengan Iran.
(mge/bac)



