Slogan 'Bismillah Gelap' Muncul di Demo Prancis, Dinilai Janggal

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 12:30 WIB
Slogan berbahasa Arab dan Prancis, "Bismillah, c'est les ténèbres", menjadi populer di kalangan pelajar yang menggelar demonstrasi di Prancis. (REUTERS/Stephane Mahe)
Jakarta, CNN Indonesia --

Slogan berbahasa Arab dan Prancis, "Bismillah, c'est les ténèbres", menjadi populer di kalangan pelajar yang menggelar demonstrasi di Prancis.

Ungkapan yang berarti "Dengan nama Allah, ini kegelapan" tersebut muncul di sejumlah aksi protes sekolah dan ramai dibagikan di media sosial karena dianggap janggal.

Slogan itu terlihat pada papan kardus di depan sekolah-sekolah yang diblokade. Ungkapan tersebut juga muncul dalam video parodi yang telah dibagikan puluhan ribu kali dan diucapkan aktivis Swedia, Greta Thunberg.

Meski terdengar tidak lazim, para siswa justru menjadikan kejanggalan ungkapan tersebut sebagai bahan ejekan. Mereka menduga slogan itu berasal dari seseorang yang mencoba menggunakan bahasa anak muda, tetapi gagal menyampaikannya secara alami.

"Bismillah" sendiri merupakan ungkapan bahasa Arab yang berarti "dengan nama Allah". Umat Islam biasanya mengucapkannya sebelum memulai suatu kegiatan. Dalam bahasa gaul Prancis, kata tersebut juga dapat digunakan untuk mengajak seseorang memulai sesuatu.

Sementara itu, "c'est les ténèbres" berarti "ini kegelapan". Dalam bahasa gaul anak muda Prancis, ungkapan tersebut menggambarkan situasi yang buruk dan suram.

Ketika kedua ungkapan itu digabungkan, maknanya menjadi tidak lazim, yakni "Dengan nama Allah, ini kegelapan". Kejanggalan inilah yang kemudian memicu ejekan dan membuat slogan tersebut populer di kalangan pelajar.

[Gambas:Video CNN]

Asal-usul Slogan 'Bismillah, c'est les ténèbres'

Ungkapan tersebut bermula dari tangkapan layar percakapan Snapchat yang beredar pada awal Oktober. Saat itu, para siswa menggunakan aplikasi tersebut untuk berkoordinasi mengenai rencana blokade sekolah.

Dalam salah satu pesan, seorang pengguna bernama "Mamadou" meminta bergabung dengan sebuah grup. Pesan itu berbunyi, "Hai, demi Tuhan, ini kegelapan. Kapan blokadenya, Wallah, bro?"

Pesan tersebut disertai emoji bendera Aljazair.

Tangkapan layar lain juga memperlihatkan akun serupa yang menanyakan lokasi blokade serta informasi mengenai penjualan kembang api dan granat asap.

Sejumlah siswa menilai perpaduan bahasa Arab, bahasa gaul jalanan, dan simbol nasional dalam pesan tersebut terasa janggal. Mereka kemudian menduga akun-akun itu digunakan oleh polisi yang menyamar sebagai remaja untuk menyusup ke grup percakapan tertutup para demonstran.

Namun, dugaan penyusupan tersebut belum terbukti. Polisi dan Kementerian Dalam Negeri Prancis belum memberikan komentar mengenai tangkapan layar yang beredar.

Belum ada pula verifikasi independen mengenai identitas pemilik akun-akun tersebut. Klaim sejumlah pengguna internet yang menyebut akun itu terlacak ke lokasi dekat kantor polisi juga belum terkonfirmasi.

Selain itu, sebagian tangkapan layar yang beredar diduga merupakan tipuan atau parodi.

Protes mahasiswa Prancis meluas

Aksi protes pelajar ini bermula di Créteil, wilayah tenggara Paris, pada 18 September dan kemudian menyebar ke berbagai daerah di Prancis.

Para siswa memprotes sejumlah persoalan di sekolah, mulai dari jam belajar yang panjang, ruang kelas yang terlalu penuh, kondisi bangunan yang buruk, hingga ketidakhadiran guru.

Mereka juga menilai persoalan tersebut paling berdampak pada sekolah-sekolah di kawasan pinggiran kota yang dihuni masyarakat kelas pekerja dan komunitas minoritas.

Pada 2 Oktober, sekitar 400 sekolah dilaporkan ditutup akibat aksi blokade, lapor Euro News.

Gelombang protes pelajar itu kemudian beriringan dengan demonstrasi nasional menentang tingginya biaya hidup pada Sabtu (17/10). Aksi tersebut berujung pada kerusuhan dan penjarahan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Slogan menyebar ke negara lain

Popularitas slogan "Bismillah, c'est les ténèbres" tidak hanya terbatas di Prancis. Ungkapan tersebut juga muncul dalam demonstrasi di sejumlah negara Eropa.

Aktivis Swedia Greta Thunberg menggunakan slogan itu ketika mengunjungi para pelajar yang melakukan aksi mogok di Seine-Saint-Denis, wilayah utara Paris, pada 13 Oktober, menurut kantor berita Italia, ANSA.

Pada 9 Oktober, slogan serupa terlihat pada spanduk demonstrasi yang dipimpin serikat pekerja di Brussels, Belgia. Aksi tersebut menentang pemangkasan anggaran pemerintah.

Dalam demonstrasi itu, slogan tersebut digunakan sebagai bentuk solidaritas terhadap pelajar Prancis, bukan sebagai sindiran atas dugaan penyusupan polisi.

Di Italia, ANSA melaporkan slogan itu muncul dalam demonstrasi mahasiswa di Bologna pada 15 Oktober. Ungkapan tersebut kembali terdengar di Milan pada akhir pekan, 17-18 Oktober, ketika demonstrasi di Piazza del Duomo juga berujung pada penjarahan.

Sementara itu, sejumlah siswa dari sebuah sekolah Prancis di Berlin, Jerman, juga terlihat memegang spanduk bertuliskan slogan tersebut.

(mge/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK