Horor Drone Serang Pasar, 153 Orang Tewas
Serangan pesawat tak berawak atau drone menghantam sebuah pasar di wilayah Abyei yang disengketakan Sudan dan Sudan Selatan.
Sebanyak 153 orang tewas dalam serangan tersebut, sementara jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.
Menteri Informasi sementara Abyei, Yohana Akol Ngor, mengatakan serangan terjadi pada Senin (19/10) di Pasar Amiet, wilayah kaya minyak yang terletak di perbatasan Sudan dan Sudan Selatan.
Ngor mengatakan proses evakuasi korban masih berlangsung karena kebakaran belum sepenuhnya padam. Sejumlah jenazah bahkan dilaporkan hangus terbakar akibat serangan tersebut.
"Api masih berkobar, jadi proses evakuasi korban meninggal masih berlangsung. Situasinya mengerikan," kata Ngor, seperti dilaporkan ABC News.
Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan bangunan yang rusak, kendaraan hangus, serta kobaran api yang masih membubung saat warga kembali untuk memeriksa kondisi pasar.
Seorang saksi mata mengatakan dirinya mendengar lima ledakan besar sebelum depot bahan bakar di pasar tersebut terbakar. Ia juga melihat sejumlah korban mengalami luka akibat pecahan peluru di bagian perut dan kaki.
"Di satu lokasi, saya melihat 28 mayat yang terbakar," kata saksi tersebut kepada Reuters. Ia meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Saksi itu mengatakan tidak melihat anggota Pasukan Pendukung Cepat (RSF) Sudan maupun pejuang berseragam lainnya di pasar saat serangan terjadi. Pasar tersebut menjadi tempat warga membeli kebutuhan pokok, seperti gula, tepung, dan biskuit.
Dikutip dari Reuters, tiga sumber diplomatik, seorang pekerja bantuan, dan seorang ahli konflik mengatakan serangan drone itu menghantam depot bahan bakar yang sebelumnya digunakan RSF untuk memasok kebutuhan mereka.
Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF juga belum segera menanggapi permintaan komentar terkait insiden tersebut.
Ngor mengatakan serangan itu memaksa sekitar 8.000 orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Kebakaran yang masih berlangsung turut menghambat petugas darurat dalam mengevakuasi jenazah korban.
Organisasi kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF) mengatakan pihaknya merawat lebih dari 20 korban luka di Rumah Sakit Ameth Bek yang berada di dekat lokasi serangan. Beberapa korban mengalami luka bakar dan membutuhkan penanganan medis.
Foto-foto yang dibagikan MSF memperlihatkan para korban terbaring di lantai rumah sakit dengan tubuh dibalut perban saat petugas medis memberikan perawatan.
Pemerintah Sudan Selatan mengecam serangan tersebut dan memanggil Duta Besar Sudan untuk menyampaikan keberatan. Langkah itu diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap meluasnya dampak perang saudara Sudan ke wilayah perbatasan.
Sudan telah dilanda perang sejak April 2023, ketika Angkatan Bersenjata Sudan berperang melawan RSF.
Meski pemerintah Sudan Selatan menyatakan tidak memihak dalam konflik di negara tetangganya, para ahli menilai Abyei menjadi jalur transit penting bagi logistik RSF.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengutuk serangan drone tersebut. Serangan di Abyei menambah jumlah korban tewas akibat serangan drone dalam beberapa hari terakhir menjadi lebih dari 250 orang.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan pihaknya tetap mengkhawatirkan serangan drone yang terus terjadi di berbagai wilayah Sudan, terutama karena serangan tersebut merusak infrastruktur penting dan memperburuk kondisi masyarakat yang terdampak perang.
"Kami tetap prihatin dengan serangan pesawat tak berawak yang tiada henti di seluruh Sudan, serta kerusakan yang ditimbulkannya pada infrastruktur penting," kata Dujarric.
"Serangan-serangan ini menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi komunitas yang sudah berjuang mengatasi konsekuensi dari konflik yang berlangsung lebih dari tiga tahun," lanjutnya.
(mge/bac)