Rusia Bantu Iran Pulihkan Pembangkit Tenaga Nuklir yang Dibom AS

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 17:35 WIB
Rusia akan bantu mengoperasikan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr yang rusak diserang tentara Amerika Serikat dan Israel Maret lalu. (AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kedatangan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Teheran, Senin (19/10) membicarakan banyak hal.

Selain upaya perdamaian di Timur Tengah, Rusia juga akan bantu mengoperasikan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr yang rusak diserang tentara Amerika Serikat dan Israel Maret lalu.

Lavrov menegaskan komitmen Rusia terhadap perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Iran, yang mulai berlaku pada 2 Oktober.

Ia juga menyampaikan bahwa para spesialis Rusia akan secara bertahap kembali bekerja di PLTN Bushehr setelah meninggalkan lokasi tersebut selama perang.

Lavrov turut mengaitkan pemulihan pelayaran dengan upaya menjamin keamanan Iran dari kemungkinan serangan baru.

Serangan Israel yang dibantu Amerika Serikat di sekitar PLTN Bushehr, terjadi pada pada Selasa (17/3/2026) malam. Meski tak ada kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut, karena berupa proyektil, namun insiden ini membuat Rusia marah.

Lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zarakhova, Rusia mengecam serangan tersebut.

"Tel Aviv dan Washington harus menahan diri dari serangan sembrono," katanya. Tak hanya itu, Maria juga menyoroti sejumlah tenaga kerja di PLTN tersebut yang berasal dari Rusia. "Nyawa dan keselamatan warga Rusia yang jadi tenaga kerja di sana," ujarnya.

Proyek kerjasama Iran-Rusia

Menurut Dr Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique, Prancis yang mendalami masalah dunia Arab kontemporer, PLTN Busher adalah program nuklir Iran yang pada awal tahun 1990-an kekurangan dana, tapi kurang mendapat dukungan negara-negara Barat.

"Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi," kata Bichara dalam laman European Institute of Mideterranean.

[Gambas:Video CNN]

Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama Pembangkit Listrik Bushehr. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahun 1999. Perjanjian kerja sama dengan China, pada bagian lainnya, ditandatangani lebih awal, pada tahun 1990, untuk "transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir."

Kerjasama teknologi Iran dengan Rusia dan China ini, justru membangkitkan kemarahan AS yang memberlakukan serangkaian sanksi antara tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.

Ancaman terhadap PLTN ini bukan yang pertama. Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, memperingatkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran menghadapi ancaman karena serangan AS-Israel yang terus berlanjut di seluruh negeri.

"Stasiun tersebut jelas berada dalam ancaman, karena ledakan sudah terdengar beberapa kilometer dari garis pertahanan stasiun, garis pertahanan fisiknya," kata CEO Rosatom Alexei Likhachyov kepada media Rusia The Moscow Times.

Likhachyov mengatakan, serangan rudal "tidak ditujukan ke stasiun itu sendiri, tetapi ke fasilitas militer, yang tampaknya terletak di sana. Namun ancaman tersebut jelas meningkat seiring dengan eskalasi konflik."

Dia memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas tersebut dapat menyebarkan kontaminan radioaktif ke daerah sekitarnya.

Likhachyov juga mengatakan bahwa pembangunan dua unit baru di Bushehr, satu-satunya pembangkit nuklir Iran yang beroperasi, ditangguhkan karena serangan udara yang sedang berlangsung, tetapi menambahkan bahwa spesialis Rusia akan tetap berada di lokasi dan melanjutkan pekerjaan.

Rosatom membantu Iran membangun Bushehr, yang terhubung ke jaringan listrik nasional pada tahun 2011 dengan kapasitas 1.000 megawatt. Moskow dan Teheran sepakat untuk membangun dua reaktor tambahan di Bushehr, dengan konstruksi dimulai pada tahun 2017.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK