Beda Sikap Trump & Vance soal Netanyahu dan Perang Iran, Ini Sebabnya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakilnya JD Vance beda sikap soal dukungan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilu 27 Oktober dan juga perang Iran.
Seperti diketahui Netanyahu akan menghadapi pemilu pada 27 Oktober mendatang.
Donald Trump dengan jelas memberikan dukungan. "Saya pikir Anda akan meraih kemenangan yang sangat besar," kata Trump, dikutip dari AFP.
"Anda adalah orang yang saya inginkan berada di sisi saya, Bibi," lanjutnya. Bibi adalah panggilan untuk Benjamin Netanyahu.
Sementara Vance justeru beda sikap. Dia menyatakan dengan jelas menolak memberikan dukungan kepada Netanyahu dan menegaskan dirinya "tidak ikut campur" dalam politik Israel dan memilih berfokus pada pemilihan paruh waktu AS. Netanyahu seperti juga Trump adalah aktor sekaligus pendukung perang dengan Iran.
Beda soal Iran
Menyikapi soal perang Iran yang tidak kunjung usai, Trump dan Vance juga tidak sejalan. Trump berkali-kali mengancam akan menghancurkan Iran. Sementara Vance sebaliknya.
"Anda tidak bisa hanya menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional yang Anda hadapi dengan cara membunuh," kata Vance, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Pernyataan yang disampaikan Juni itu untuk memperingatkan kabinet Netanyahu agar tidak merusak hubungannya dengan AS.
Vance menyebut Trump sebagai "satu-satunya sekutu kuat" yang masih dimiliki Israel.
Ini Alasannya
Presiden Donald Trump mengakui adanya perbedaan itu. Dia mengatakan "secara filosofis sedikit berbeda" dalam hal perang AS dengan Iran setelah ABC News sebelumnya melaporkan bahwa Vance secara internal menyatakan keberatan tentang serangan tersebut akhir bulan lalu.
Ketika ditanya selama konferensi pers Senin malamnya di Florida apakah ada perbedaan pendapat antara dia dan Vance mengenai tindakan terhadap Iran, Trump mengatakan dia "tidak berpikir demikian," dikutip dari ABC News.
"Saya pikir mungkin dia kurang antusias untuk pergi [berperang], tetapi dia cukup antusias. Saya merasa itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan," kata Trump tentang sikapnya yang berbeda.
Terlepas dari perbedaan apa pun, Trump membantah adanya perselisihan antara dirinya dan Vance mengenai aksi militer tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka "bergaul dengan sangat baik dalam hal ini."
Dalam penelusuran TIME, sikap Vance yang ogah perang sudah terlihat sejak beberapa tahun sebelumnya. Meski dia mendukung Trump, tapi tidak ingin perang terjadi.
Beberapa bulan sebelumnya, pada awal tahun 2023, Vance menulis sebuah opini untuk Wall Street Journal berjudul "Kebijakan Luar Negeri Terbaik Trump? Tidak Memulai Perang Apa Pun."
Mendukung kebijakan "America First" yang diusulkan Trump, Vance mengatakan bahwa "seluruh hidup dewasanya telah dibentuk oleh para Presiden yang menyeret Amerika ke dalam perang yang tidak bijaksana dan gagal memenangkannya."
Dia menyatakan dukungannya untuk Trump, dengan mengatakan: "Saya tahu dia tidak akan sembarangan mengirim orang Amerika untuk berperang di luar negeri."
Bahkan di tengah negosiasi antara pejabat AS dan Iran, Vance mengatakan kepada Washington Post bahwa ia masih menganggap dirinya sebagai "orang yang skeptis terhadap intervensi militer asing."
Namun, ia menekankan bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada Iran.
"Saya pikir kita semua lebih menyukai opsi diplomatik," kata Vance.
"Tetapi itu benar-benar bergantung pada apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Iran."
(imf/bac)