Albania Negara Pertama di Dunia yang Mendeklarasikan Atheis

CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 08:15 WIB
Nama Albania kini mencuat setelah sekelompok demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.
Nama Albania kini mencuat setelah sekelompok demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. (REUTERS/Florion Goga)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Albania kini mencuat setelah sekelompok demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.

Namun, Edi menolak tuntutan para demonstran yang berunjuk rasa dengan ricuh, dalam beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sebuah siaran video yang berlangsung lebih dari satu jam, Rama menegaskan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri. Ia menyebut aksi demonstrasi tersebut sebagai "ulah pihak luar".

Aksi demonstrasi yang berlangsung ricuh telah mengguncang Tirana sejak Selasa pekan lalu. Para demonstran menuntut perbaikan kondisi universitas yang buruk, penurunan biaya kuliah yang tinggi, serta pemberantasan korupsi di Albania.

Ratusan demonstran kembali berkumpul pada Minggu (18/10) di depan Kementerian Pendidikan sambil meneriakkan, "Rama, mundur!"

[Gambas:Video CNN]

Ketegangan sempat meningkat ketika para demonstran berhadapan langsung dengan aparat kepolisian yang berjaga.

Setelah polisi berupaya membubarkan massa, para demonstran menyebar ke berbagai titik di pusat kota. Situasi kemudian memburuk dan berujung pada bentrokan sengit yang berlangsung selama berjam-jam.

Dikutip AFP, sejumlah kelompok demonstran terlihat ada yang membakar tempat sampah di jalanan, memecahkan kaca jendela-termasuk di kantor pusat Partai Sosialis yang berkuasa, serta membakar sebuah kantor polisi dan pintu masuk Kementerian Dalam Negeri.


Deklarasikan negara atheis

Albania yang terletak di wilayah Tenggara Eropa, tepatnya semenanjung Balkan, pernah secara resmi mendeklarasikan diri sebagai negara atheis alias tidak mengakui agama.

Perjalanannya terentang sejak 1945, ketika kaum komunis berkuasa di Albania. Pada Desember 1945, puluhan rohaniwan (termasuk ulama muslim) dan umat Katolik ditangkap, 39 di antaranya dinyatakan bersalah dalam persidangan yang dipimpin militer, dengan hukuman berat yang dijatuhkan. Pada Maret 1946, tujuh umat dieksekusi.

Kampanye melawan agama semakin intensif setelah Enver Hoxha, pimpinan Partai Komunis Albania dan juga presiden, menyampaikan pidato pada 6 Februari 1967 yang secara resmi meluncurkan pertempuran melawan "ideologi agama".

Pidato Hoxha diikuti oleh surat dari komite pusat Partai Buruh yang dimaksudkan untuk memandu serangan terhadap agama di seluruh negeri.

"Agama adalah candu bagi rakyat. Kita harus melakukan yang terbaik untuk membuat semua orang memahami hal ini, bahkan mereka yang telah diracuni (yang jumlahnya tidak sedikit). Kita harus menyembuhkan mereka. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil," demikian isi surat tersebut.

Retorika politik dan propaganda media yang intensif mendorong kaum muda untuk menargetkan situs-situs keagamaan. Menurut Museum Memori, sebuah proyek daring oleh Institut Studi Politik Albania mencatat 2.169 lembaga keagamaan ditutup, termasuk 740 masjid, 608 gereja Ortodoks, 157 gereja Katolik, dan 530 turbe (makam Ottoman) dan teke (situs keagamaan Sufi). Warisan budaya dan sejarah hancur bersamaan dengan itu, dikutip dari Balkan Insight.

Bukan hanya deklarasi, keyakinan agama sepenuhnya dilarang dalam konstitusi Republik Rakyat Albania pada tahun 1976, sembilan tahun setelah pidato Hoxha.

Pasal 37 konstitusi menyatakan: "Negara tidak mengakui agama apa pun dan mendukung serta mengembangkan propaganda ateistik untuk melibatkan masyarakat dalam pandangan dunia ilmiah materialistis."

Sementara itu, Pasal 55 melarang pendirian organisasi apa pun yang bersifat keagamaan. Namun, partai komunis akhirnya gugur.

Hoxha meninggal pada 1985 dan Albania perlahan keluar dari diktator komunisme dan perlahan membangun negara demokrasi yang dilaluia dengan sangat berat.

(imf/bac)
placeholder