Apakah Dukungan Trump ke Netanyahu Bikin Israel Lebih Baik?

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 05:45 WIB
Presiden AS Donald Trump sudah memberi isyarat mendukung Benjamin Netanyahu untuk kembali jadi Perdana Menteri Israel dalam pemilu 27 Oktober.
Presiden AS Donald Trump sudah memberi isyarat mendukung Benjamin Netanyahu untuk kembali jadi Perdana Menteri Israel dalam pemilu 27 Oktober. (AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah memberi isyarat mendukung Benjamin Netanyahu untuk kembali jadi Perdana Menteri Israel dalam pemilu 27 Oktober.

"Mungkin saya sedang mengerjakan sesuatu," katanya ketika ditanya tentang pemilu Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia tidak mengatakan siapa yang mungkin akan dia dukung. Tapi sejarah hubungannya dengan Benjamin Netanyahu membuat Perdana Menteri Israel itu makin percaya diri.

Namun menurut Dan Perry, analis Timur Tengah dan mantan pemimpin redaksi AP untuk Eropa, Afrika dan Timur Tengah mengatakan, ada perbedaan antara mendukung Netanyahu dan Israel.

Beberapa warga Israel memandang Netanyahu lebih positif karena mereka percaya Trump juga demikian. Dukungan akan berpengaruh, begitu pula sebaliknya.

[Gambas:Video CNN]

Pada 25 Maret 2019, Trump mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, dua minggu sebelum pemilihan umum Israel. Secara luas ditafsirkan sebagai hadiah politik, hal itu memperkuat klaim Netanyahu bahwa hanya dialah yang dapat memberikan konsesi luar biasa dari Washington.

Hal itu membantu Netanyahu mempertahankan kekuasaannya dan dia membalas budi, secara tidak langsung mendukung pemilihan kembali Trump setahun kemudian.

Namun pertanyaannya, apakah Israel akan mendapat dampak positif?

"Pemilu ini sangatlah krusial. Saya yakin pemilu ini akan menentukan apakah Israel tetap menjadi negara demokrasi yang makmur dan berfungsi dengan baik, atau terus menempuh jalan menuju kemerosotan institusional, isolasi internasional, dan penurunan ekonomi," tulis Dan.

Netanyahu masih diadili atas tuduhan korupsi.

Para kritikus juga menunjuk pada pengeluaran publik yang boros terkait dengan gaya hidup pribadinya. Namun, tuduhan yang lebih besar bukanlah masalah pribadi: ketergantungannya pada kepentingan koalisi yang sempit telah membuat reformasi nasional yang penting hampir mustahil dilakukan.

Koalisi yang dipimpin Netanyahu, kecuali jika oposisi bergabung dengannya, akan kembali bergantung pada partai-partai sayap kanan yang bersikeras pada pembangunan pemukiman jauh di Tepi Barat, sebuah isu yang menyebabkan keresahan besar di Amerika Serikat, dan melindungi kaum radikal Yahudi yang meneror warga Palestina di sana.

Hal itu telah menyebabkan kematian dan berisiko memicu intifada Palestina ketiga, menurut para pejabat keamanan Israel. Trump, yang membanggakan diri karena konon telah mengakhiri delapan perang, tentu tidak senang dengan hal itu.

Jadi, dukungan Trump ke Netanyahu tidak akan mengubah negara itu ke arah lebih baik.

(imf/bac)
placeholder