Israel Semena-mena Rebut Rumah Warga di Tepi Barat untuk Pos Militer
Pasukan militer Israel (IDF) dilaporkan mengusir paksa warga Palestina dari kediamannya sendiri di Kota Hebron, Tepi Barat, untuk mengalihfungsikan bangunan rumah tersebut menjadi barak dan pos pengawasan militer.
Pengusiran dan penyitaan rumah ini terjadi di tengah pengetatan blokade total serta operasi militer skala besar yang digelar tentara Israel di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, melansir laporan kantor berita Palestina, Wafa.
Sumber setempat mengonfirmasi bahwa pasukan Israel mengambil alih pemukiman warga di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun untuk dijadikan barak tempur, serta memaksa warga di sejumlah lingkungan lain keluar dari rumah mereka untuk dijadikan menara pemantau.
Langkah invasif ini dipicu oleh pengetatan keamanan usai insiden penyerangan ke pangkalan militer cadangan Israel pada Jumat (23/10) lalu yang menewaskan dua tentara Israel. Dua pria Palestina yang dituduh sebagai pelaku serangan turut tewas di lokasi kejadian.
Berdasarkan data Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS), militer Negeri Zionis telah menahan sedikitnya 47 warga Palestina dan mengusir paksa 293 keluarga yang mencakup sekitar 2.200 jiwa dari Hebron sejak Jumat lalu.
"Warga yang terusir dari Hebron mencakup 127 bayi, 81 wanita hamil, 26 penyandang disabilitas, 134 penderita penyakit kronis, serta 265 lansia di atas usia 60 tahun," ungkap lembaga swadaya masyarakat tersebut, seperti dilansir Al Jazeera.
Di saat yang bersamaan, pemukim ilegal Israel dilaporkan mulai mendirikan dua pos pemeriksaan baru di atas tanah milik warga Palestina di kota Yatta, sebelah selatan Hebron.
Aktivis lokal Osama Makhamra membeberkan bahwa para pemukim Israel mendatangkan buldoser, alat berat, serta mendirikan tenda-tenda konstruksi di kawasan Khallet al-Fara dan gurun Yatta guna menginstalasi jaringan air dan listrik secara ilegal.
Sementara itu di dekat Bethlehem, pasukan Israel terus menutup jalan-jalan utama serta akses penghubung antar desa selama tiga hari berturut-turut hingga Minggu (25/10).
Pasukan Israel bahkan menutup jalur-jalur tanah alternatif menuju kota Tuqu dan menembakkan gas air mata serta granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang mencoba melintas.
Eskalasi ketegangan di Tepi Barat ini meletus hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Israel, di tengah maraknya aksi kekerasan pemukim ilegal Israel yang menyasar para petani Palestina saat musim panen zaitun.
(wiw)