Sentimen Negatif Warga Brasil ke Israel-AS Penentu Lula Menang Pilpres
Calon presiden Brasil Flavio Bolsonaro dari Partai Liberal kalah dari pesaingnya, Lula da Silva yang berusia 80 tahun, dalam pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu (25/10).
Padahal, Bolsonaro mendapat dukungan dari dua pemimpin dunia yaitu Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Bahkan, saat Lula diumunkan menang, Trump tidak terima. Donald Trump menuduh pemilihan umum di Brasil telah dicurangi, usai kandidat yang didukungnya Flávio Bolsonaro kalah.
Dalam pernyataan kepada media pada Senin (26/10), Trump mengatakan hasil pemungutan suara di Brasil "terlihat mengerikan" dan "seperti pemilu yang dicurangi lainnya".
Sementara Netanyahu sudah memberikan dukungan sejak pemilu putaran pertama. Setelah hasil putaran pertama pemilu diumumkan, Netanyahu secara terbuka memberikan ucapan selamat kepada Flávio dan mendoakan kemenangannya di putaran kedua.
Negatif ke Israel
Awalnya, Bolsonaro sangat antusias mendapat dukungan dari Trump dan Netanyahu. Maka saat kampanye bersama dengan Partai Liberal di Sao Paulo, 18 Oktober 2026, bendera Amerika Serikat, bendera Israel, dan memorabilia Trump juga ikut tampil.
Namun, akhir pekan lalu sebelum pencoblosan, penyelenggara meminta pendukung Flavio Bolsonaro untuk "menyingkirkan" bendera dari "negara lain".
Hasil riset dari laporan Spring 2026 Global Attitudes Survey dari Pew Research Center, lebih dari setengah warga Brasil memang memiliki sentimen negatif terhadap Israel. Survei Juni itu menemukan bahwa 52 persen warga Brasil memiliki pandangan negatif terhadap Israel, sementara hanya 33 persen yang positif. Padahal, Zionisme Kristen merupakan kelompok politik yang berkembang pesat di sana.
Gejala bahwa Brazil tidak lagi menyukai Israel terlihat dari perdagangan minyak kedua negara. Menurut laporan Middle East Eye (MEE) Brasil mencatatkan nol ekspor minyak langsung ke Israel pada tahun 2025, dan para aktivis mengklaimnya sebagai kemenangan bagi kampanye boikot.
Menurut Buku Tahunan Statistik 2026 dari Badan Perminyakan Nasional (ANP) yang dirilis pada akhir Juni, Brasil tidak mengekspor minyak secara langsung ke Israel pada tahun 2025.
Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) mengatakan langkah tersebut merupakan hasil dari tekanan yang diberikan kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan Brasil.
"Kami menyambut baik penghentian ekspor langsung sebagai langkah konkret untuk mengurangi keterlibatan, dan sebagai tanda bahwa tekanan dari akar rumput dan serikat pekerja dapat membuat Brasil mengakui kewajiban internasionalnya," tulis mereka di media sosial.
Menurut kelompok kampanye energi bersih Oil Change International, hingga pertengahan tahun 2024 Brasil masih menjadi pemasok minyak mentah terpenting kelima bagi Israel, memasok 9 persen dari impor minyak mentah negara tersebut.
Pada Februari 2024, Israel menyatakan Presiden Brasil Lula sebagai "persona non grata", setelah ia menuduh Israel melakukan genosida dan membandingkan tindakan Israel dengan pembantaian Yahudi oleh Nazi.
(imf/bac)