Rival Netanyahu Endus Manipulasi Suara di TPS Israel
Rival terkuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di pemilu Israel, Gadi Eisenkot, mengeklaim ada dugaan kecurangan di tempat pemungutan suara (TPS) pemilu hari ini, Selasa (27/10).
Partai Eisenkot, Partai Yashar menyatakan telah menerima laporan mengenai dugaan manipulasi dan pencurian surat suara di sejumlah TPS di berbagai wilayah Israel.
Partai itu mengatakan antrean panjang terjadi di sejumlah TPS yang banyak didatangi pendukung Yashar. Mereka menambahkan bahwa ada alasan untuk menduga situasi tersebut sengaja diciptakan.
"Kami akan segera mengajukan pengaduan resmi kepada Komite Pemilihan Umum Pusat," kata Partai Yashar melalui unggahan di X seperti dikutip Al Jazeera.
Partai Yashar juga meminta masyarakat terus melaporkan setiap dugaan pelanggaran pemilu selama pemungutan suara berlangsung hingga pukul 22.00 waktu lokal.
"Kami tidak akan membiarkan siapa pun menggagalkan perubahan yang kami perjuangkan," ucap Yashar lagi.
Kejadian tidak biasa juga dilaporkan dialami oleh warga Arab Israel yang merupakan keturunan Palestina.
Partai Likud pimpinan Netanyahu dilaporkan mengerahkan sejumlah tim untuk merekam warga Palestina berkewarganegaraan Israel saat memberikan suara di luar tempat pemungutan suara
Menurut laporan media Israel, Haaretz, Likud telah menghabiskan jutaan shekel untuk merekrut dan membayar petugas yang bertugas memantau TPS di kota-kota mayoritas warga Arab Israel. Mereka akan ditugaskan merekam para pemilih, serta melaporkan perkembangan secara langsung kepada markas partai.
Sekitar 7,3 juta orang di Israel memiliki hak untuk memberikan suara dalam pemilu hari ini,termasuk 1,2 juta warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel atau biasa disebut warga Arab Israel.
Warga Arab Israel merupakan keturunan Palestina yang selamat dalam perang Arab-Israel pada 1948. Perang itu menjadi awal mula pembentukan Israel sebagai sebuah negara. Lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dari wilayah mereka yang kini diduduki Israel.
Mereka yang pergi kemudian menetap di sebelah perbatasan Israel di Tepi Barat dan Gaza, maupun di kamp-kamp pengungsi di sekitarnya.
Sedangkan yang bertahan di Israel menamakan diri mereka sebagai orang Arab Israel atau orang Palestina Israel. Mereka yang telah menetap di Israel pun mendapat kewarganegaraan Israel dan otomatis memiliki hak sebagai warga negara Zionis tersebut.
Namun, sekitar tiga juta warga Palestina dewasa yang tinggal di wilayah Palestina seperti Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur yang diduduki tidak memiliki hak suara dalam pemilu hari ini meski mereka berada dalam pendudukan Israel.
Dikutip Al Jazeera, militer Israel menyatakan bahwa seluruh perlintasan darat antara wilayah Israel dan Tepi Barat Palestina akan ditutup selama pemungutan suara berlangsung hari ini.
Pemilu Israel kali ini menjadi sorotan karena menjadi yang pertama digelar sejak Tel Aviv melancarkan agresi brutalnya ke Jalur Gaza Palestina sejak 2023 lalu imbas serangan Hamas pada 7 Oktober.
Pemilu ini juga berlangsung ketika Israel terus dikritik hingga kehilangan dukungan dari negara-negara Barat imbas agresi brutalnya ke Palestina.
(rds)