Kunci Kursi PM, Kenapa Partai Arab Ditolak Netanyahu & Eisenkot?

CNN Indonesia
Kamis, 29 Okt 2026 18:45 WIB
Koalisi partai Arab, Joint List dan Ra'am di Israel, diprediksi bakal meraih 20 kursi parlemen dan berpeluang jadi penentu kursi perdana menteri. (AFP/AHMAD GHARABLI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Koalisi partai Arab, Joint List dan Ra'am di Israel, diprediksi bakal meraih 20 kursi parlemen dan berpeluang jadi penentu kursi perdana menteri.

Namun, calon terkuat Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot justru enggan menarik mereka ke koalisi.

Hingga saat ini, suara yang sudah terhitung Komite Pemilihan Pusat mencapai 90 persen dan blok Netanyahu maupun anti-Netanyahu belum ada yang mencapai suara mayoritas 61 dari 120 kursi.

Hasil perhitungan sementara menunjukkan Netanyahu memperoleh kursi 52 dan aliansi Eisenkoot meraih 48 kursi.

Lalu, mengapa Netanyahu dan Eisenkot menolak Partai Arab padahal mereka dianggap kunci untuk menentukan perdana menteri?

Netanyahu dan Eisenkot menolak gagasan bermitra dengan partai-partai Arab karena alasan perbedaan nilai.

[Gambas:Video CNN]

Analis politik Palestina Ahmed Najar menganggap keengganan kedua blok itu menarik partai Arab lantaran perbedeaan ideologis partai.

"Eisenkot telah memberlakukan uji loyalitas ke pertai-partai Arab dan menolak bergantung ke mereka, padahal perhitungan elektroal membuat dukungan mereka sangat diperlukan," kata Najar ke Al Jazeera, Rabu (28/10).

Eisenkot padahal berpeluang menguasai kursi parlemen jika bergabung dengan partai Arab dan menggulingkan Netanyahu, tujuan yang sama di kedua pihak ini. Kalau saja mereka bergabung, kursi parlemen yang diraih bisa mencapai 66.

Najar bahkan menilai kemitraan dengan partai Arab tak hanya memungkinkan tapi satu-satunya jalan yang "realistis" bagi Eisenkot.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Penolakan Netanyahu


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :