Ini Partai-partai Arab yang Bisa Bantu Oposisi Tumbangkan Netanyahu
Partai-partai Arab Israel kini berpeluang memegang peran penting dalam menentukan kursi Perdana Menteri baru setelah pemilihan umum Israel 27 Oktober lalu.
Sejumlah partai tersebut bisa membantu blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot menumbangkan Netanyahu.
Hal itu karena tidak ada partai yang memegang suara mayoritas di parlemen (Knesset).
Untuk pertama kalinya, partai-partai Arab meraih jumlah kursi terbanyak sepanjang sejarah mereka (20 kursi) yang diperoleh oleh Joint List (Daftar Gabungan) sebanyak 12 kursi dan Ra'am sebanyak 8 Kursi. Mereka kini berpotensi memengaruhi perebutan kekuasaan antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oposisi.
Lihat Juga :KILAS INTERNASIONAL Hasil Netanyahu di Pemilu Israel sampai PBB Minta RI Mundur dari BoP |
Dalam sistem parlementer Israel, sebuah pemerintahan membutuhkan dukungan setidaknya 61 dari 120 anggota Knesset. Karena itu, perolehan kursi partai-partai Arab dapat menjadi faktor penting dalam proses pembentukan koalisi.
Lalu, siapa saja partai-partai Arab Israel itu?
Ada dua kelompok partai Arab. Pertama yang disebut Joint List (daftar gabungan atau aliansi) terdiri dari tiga partai kecil yaitu Hadash (Arab-Yahudi, komunis), Balad (nasionalis Palestina), Ta'al (nasionalis Arab).
Joint List pertama kali dibentuk pada tahun 2015 dan dipimpin oleh Ayman Odeh (Hadash), seorang pengacara dari Haifa.
Meskipun telah ada seruan lama agar faksi-faksi Arab bersatu, dorongan awal untuk pembentukan Joint List adalah undang-undang baru yang diberlakukan pada Maret 2014 yang menaikkan ambang batas pemilihan Israel dari 2 persen menjadi 3,25 persen. Aturan itu sengaja dirancang sebagian untuk menyelaraskan partai-partai Arab yang lebih kecil untuk masuk ke Knesset.
Pada Januari 2019, Daftar Gabungan bubar menyusul kedatangan Ahmad Tibi dan partainya, Ta'al, menjelang pemilihan umum Israel April 2019.
Pada saat itu, Daftar Gabungan tersebut terpecah menjadi dua yang bersaing: Balad-Ra'am dan Hadash-Ta'al. Namun, Daftar Gabungan dibentuk kembali untuk bersaing dalam pemilihan umum September 2019 dan Maret 2020.
Kini, Daftar Gabungan dipimpin oleh Ahmad Tibi. Dalam rilis resmi, Joint List juga menyatakan siap bergabung dengan partai lain untuk melengserkan kursi Netanyahu dari kekuasaan.
"Joint List akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu," demikian pernyataan itu.
"Kami siap untuk kerja sama politik guna membentuk pemerintah alternatif, pemerintahan yang menghadirkan alternatif sejati dan berkomitmen untuk perubahan mendasar dari kebijakan rasis pemerintah saat ini," lanjut mereka.
Kemudian Partai Ra'am (Daftar Arab Bersatu) yang dipimpin oleh Mansour Abbas. Partai ini adalah partai politik kecil di Israel dengan basis pemilih Muslim Arab. Partai ini terkait erat dengan Islamisme, sebuah gerakan politik luas yang mengambil inspirasi dari simbol dan tradisi Islam dalam membentuk kebijakan.
Selama beberapa tahun, fokusnya adalah pada isu-isu sosial ekonomi yang dihadapi warga Arab Israel.
Pada tahun 2025, pemimpinnya, Mansour Abbas, mengumumkan bahwa partai tersebut akan memutuskan hubungan formal dengan organisasi-organisasi Islam dalam upaya untuk membuatnya lebih dapat diterima oleh mayoritas Yahudi Israel.
Pada tahun 2026, para pemimpin partai menempatkan Yoav Segalovitz, yang beragama Yahudi dan merupakan pendukung utama Zionisme, sebagai kandidat kedua dalam daftar pemilu mereka, dikutip dari Britannica.
(imf/bac)