Gagal Raup Suara Mayoritas, Bagaimana Kekuatan Netanyahu di Pemilu?

CNN Indonesia
Sabtu, 31 Okt 2026 06:30 WIB
A combination picture shows Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu as he attends a memorial service held for Ran Gvili, an off-duty police officer who was killed fighting militants that had infiltrated Israel during the deadly October 7, 2023, att
PM Benjamin Netanyahu unggul dalam pemilu Israel, tetapi tetap gagal mengamankan ambang batas mayoritas suara untuk membentuk pemerintahan. (Foto: REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu unggul dalam pemilu Israel pada Selasa (27/10), tetapi tetap gagal mengamankan ambang batas mayoritas suara untuk membentuk pemerintahan.

Hasil penghitungan suara dalam pemilu Israel menunjukkan baik kubu Netanyahu atau rival terberatnya Gadi Eisenkot dan partainya Yashyar, tidak ada satu pun yang memperoleh suara mayoritas untuk membentuk pemerintahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Per Kamis (29/10) dengan lebih dari 99 persen suara telah dihitung mencatat, namun baik kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun blok oposisi tidak ada yang berhasil mengamankan 61 ambang batas suara.

Blok Netanyahu mengamankan 53 kursi di Knesset, sedangkan blok mantan panglima militer Israel Gadi Eisenkot mendapat 48 kursi. Partai-partai Arab sementara itu memegang 19 kursi, jumlah yang belum pernah diperoleh sebelumnya.

Pemilu pada Selasa (27/10) ini merupakan yang pertama sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya agresi ke Jalur Gaza.

Hasil tersebut membuat peluang Netanyahu untuk kembali memimpin Israel bergantung pada kemampuannya melobi dan membentuk koalisi dengan partai-partai lain.

Hasil pemilu ini juga menunjukkan partai-partai Arab bisa menjadi penentu arah pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.

Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai hasil pemilu tetap menunjukkan keberhasilan politik sang petahana meskipun gagal meraih suara mayoritas.

"Mungkin sulit untuk mengatakannya atau melihatnya, tetapi dialah pemenangnya," kata Bushinsky. Ia menggambarkan hasil tersebut sebagai kebangkitan politik Netanyahu.

Menurut Bushinsky, kegagalan Netanyahu memperoleh mayoritas parlemen justru dapat memperkuat kembali dominasinya dalam politik Israel.

Penilaian itu muncul setelah Netanyahu menghadapi tekanan besar akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan yang menewaskan 1.200 warga Israel itu memicu kritik terhadap kegagalan sistem keamanan Israel di bawah kepemimpinannya

Namun, Netanyahu tetap berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas pemilih Yahudi Israel dan membawa blok politiknya menjadi kekuatan terbesar dalam pemilu kali ini.

LIHAT SELENGKAPNYA