Dukungan Anjlok, Trump-Netanyahu Teleponan Masih Bahas Serang Iran

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 10:20 WIB
Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan percakapan telepon Sabtu (31/10) membahas rencana serangan ke Iran.
Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan percakapan telepon Sabtu (31/10) membahas rencana serangan ke Iran. (GPO / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan percakapan telepon Sabtu (31/10) membahas rencana serangan ke Iran.

Media Axios mengutip seorang pejabat AS dan Israel yang mengatakan bahwa kedua pemimpin tersebut pada Sabtu membahas keadaan negosiasi dengan Republik Islam Iran. Netanyahu mendesak presiden untuk melancarkan serangan terhadap Iran segera setelah pemilihan paruh waktu AS, sementara Trump ingin membiarkan negosiasi berjalan sesuai rencana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sumber Israel menggambarkan panggilan itu sebagai "keras," sementara sumber Amerika mengatakan itu "langsung," menurut Axios.

Sepanjang perang delapan bulan itu, Trump telah menempuh dua jalur dengan Teheran: kampanye serangan udara dan serangan lainnya, sambil berupaya mencapai kesepakatan yang akan memulai kembali pembicaraan perdamaian dan sepenuhnya membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak dan gas yang vital.

Pada Sabtu, presiden menegaskan kepada wartawan bahwa negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang "berjalan lancar," dan masih ada satu atau dua target yang perlu "diselesaikan."

Ia juga menekankan bahwa Washington tidak terburu-buru untuk mengambil tindakan ofensif karena telah menghancurkan militer Iran dan program nuklirnya, dikutip dari The Arab News.

Dukungan menurun

Kedua pemimpin tersebut saat ini sedang menghadapi penurunan dukungan dari rakyatnya.

[Gambas:Video CNN]

Pemilu Israel yang sudah berlangsung 27 Oktober silam tidak otomatis membawa Netanyahu ke tempuk kursi Perdana Menteri untuk periode selanjutnya. Dalam pemilu itu, meski menang tipis, suara rakyat yang mendukung koalisinya tidak cukup membawanya jadi orang nomor satu di Israel.

Blok Netanyahu mengamankan 53 kursi di Knesset, sedangkan blok mantan panglima militer Israel Gadi Eisenkot mendapat 48 kursi.

Partai-partai Arab sementara itu memegang 19 kursi, jumlah yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Ini menunjukkan dukungan untuk blok Netanyahu menurun, dibandingkan pada 2022 yang meraih 68 kursi.

Pemilu pada Selasa (27/10) ini merupakan yang pertama sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya agresi ke Jalur Gaza.

Hasil tersebut membuat peluang Netanyahu untuk kembali memimpin Israel bergantung pada kemampuannya melobi dan membentuk koalisi dengan partai-partai lain.

Hasil pemilu ini juga menunjukkan partai-partai Arab bisa menjadi penentu arah pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.

Sementara di Amerika Serikat yang akan mengadakan pemilu sela (midterm election) yang akan digelar besok Selasa, (3/11), popularitas Donald Trump pun sedang anjlok.

Partai Demokrat diprediksi akan menang dalam pemilu ini. Partai pimpinan Presiden AS saat ini Donald Trump, Republik, berusaha menggunakan segala cara untuk mencegah Demokrat mendominasi suara di pemilihan kali ini.

LIHAT SELENGKAPNYA