4 Taktik Trump Coba Jegal Demokrat Menang di Pemilu Sela AS

CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 09:05 WIB
Recording artist Nicki Minaj speaks, as US President Donald Trump stands nearby, during a rally, in support of Republican US Senate candidate, former US Representative Mike Rogers, ahead of the midterm elections, at an entertainment complex in Port H
Presiden Donald Trump berupaya memenangkan Republik di pemilu sela dengan terang-terangan mau memberi 'serangan fajar' Rp90 juta per orang & berbagai cara lain. (Foto: REUTERS/Jonathan Erns)
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai Republik dan Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump kalang kabut dan berupaya keras menjegal Partai Demokrat yang tampak bangkit dan mendulang banyak suara di pemilihan sela atau paruh waktu (midterm election) yang digelar besok, Selasa (3/11).

Pemilu sela bukan hanya untuk memilih senat dan dewan perwakilan (DPR), tetapi untuk memilih berbagai posisi pemerintahan di tingkat federal, negara bagian, hingga lokal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah jajak pendapat dan para pengamat memprediksi Demokrat akan menang dalam pemilihan ini. Survei yang dilakukan RealClearPolling menunjukkan partai dengan logo biru itu memimpin 51,5 persen dan lawannya ada di angka 43,1 persen.

Lalu, bagaimana taktik Trump dan partainya untuk mengalahkan Demokrat di pemilu sela ini?

Ancam pejabat lokal

Menurut laporan situs lembaga think tank, Atlantic, Trump berupaya menggunakan kekuatan negara untuk mengamankan kemenangan elektoral bagi partainya.

Mereka telah mencoba melemahkan penggunaan pemungutan suara melalui pos secara luas; menuntut agar negara bagian menyerahkan daftar pemilih; mengancam akan menuntut pejabat pemilihan negara bagian dan lokal; menolak untuk mengesampingkan gagasan mengerahkan pasukan atau agen federal ke tempat pemungutan suara; dan mempublikasikan penangkapan dramatis sejumlah kecil orang yang dituduh memilih atau mendaftar untuk memilih sebagai bukan warga negara.

The Guardian mencatat upaya yudisial paling agresif pemerintahan Trump untuk mencampuri pemilihan sejauh ini terjadi di Alaska pada Oktober lalu.

Saat itu, mereka mengambil langkah luar biasa dengan meminta pengadilan federal untuk turun tangan sebelum hari pemilihan dan memblokir pengesahan jika kandidat Republik kalah.

LIHAT SELENGKAPNYA