India mengerahkan pasukan paramiliter di sejumlah wilayah Arunachal Pradesh, India timur laut, menyusul protes warga setempat terhadap rencana pembangunan bendungan raksasa di dekat perbatasan China.
Pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air tersebut memicu penolakan dan kekhawatiran warga setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengerahan pasukan dilakukan setelah demonstrasi pekan lalu di Lembah Siang, wilayah yang berbatasan dengan Tibet. Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi dalam aksi tersebut menyebabkan empat perempuan terluka.
Warga menolak pembangunan Proyek Multiguna Siang Upper (SUMP) yang direncanakan memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar 11.200 megawatt (MW). Mereka khawatir proyek tersebut akan menenggelamkan desa-desa leluhur, merusak lahan pertanian, menggusur penduduk dalam jumlah besar, hingga mengancam mata pencaharian masyarakat.
Polisi menyebut sejumlah pengunjuk rasa merusak kendaraan kepolisian dan melempari petugas keamanan dengan batu.
Proyek apakah ini?
Proyek Sungai Siang pertama kali diusulkan sebagai proyek nasional oleh pemerintah India yang dipimpin Partai Kongres pada 2008. Sejak saat itu, rencana pembangunan bendungan tersebut menjadi salah satu proyek infrastruktur paling kontroversial di Arunachal Pradesh.
Pemerintah India menilai proyek ini memiliki kepentingan strategis, terutama di tengah rencana China membangun pembangkit listrik tenaga air berskala besar di bagian hulu sungai yang sama. India memandang bendungan tersebut sebagai fasilitas penyimpanan air utama untuk mengatur aliran sungai sekaligus memperkuat ketahanan air dan energi nasional.
Pada Desember 2024, China mengumumkan rencana pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air yang diklaim akan menjadi terbesar di dunia. Proyek tersebut dikenal sebagai Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Medog dan berlokasi di bagian hulu Sungai Siang.
Rencana pembangunan bendungan China turut memicu kekhawatiran di Arunachal Pradesh. Pemerintah negara bagian menyebut proyek tersebut sebagai "ancaman eksistensial" bagi wilayah mereka.
Persoalan ini juga berkaitan dengan sengketa wilayah antara India dan China. Kedua negara mengeklaim Arunachal Pradesh, yang disebut Zangnan oleh Beijing dan dianggap sebagai bagian dari Tibet selatan.
Sungai Siang sendiri mengalir dari Tibet menuju Arunachal Pradesh. Di wilayah Tibet, sungai tersebut dikenal dengan nama Yarlung Zangbo.
Mengapa ada protes?
Penolakan terhadap proyek SUMP sebagian besar datang dari masyarakat lokal di Lembah Siang, khususnya komunitas suku Adi. Warga khawatir pembangunan bendungan akan menenggelamkan desa-desa leluhur, menggusur komunitas, serta mengganggu kehidupan sosial dan budaya mereka.
Kelompok Pemuda Adi Bane Kebang (ABKU), sebuah gerakan akar rumput lokal atau gerakan yang dimulai dari tingkat masyarakat bawah, memperingatkan pembangunan bendungan berpotensi menenggelamkan sejumlah desa dan menyebabkan kerugian besar.
Pekan ini, kelompok tersebut menuntut pembebasan segera para anggotanya yang ditahan terkait aksi demonstrasi menolak pembangunan bendungan.
Mantan Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Gegong Apang, menyerukan agar pemerintah segera membatalkan rencana pembangunan proyek tersebut.
Penolakan warga juga mendapat perhatian Partai Kongres di New Delhi. Partai oposisi utama itu mengaitkan demonstrasi tersebut dengan gerakan anak muda yang lebih luas untuk melindungi hak-hak "lingkungan dan masyarakat setempat".
"Generasi Z di seluruh negeri turun ke jalan. Di Delhi, mereka menuntut pendidikan. Di Arunachal Pradesh, mereka menuntut perlindungan hutan, sungai, dan ekosistem yang telah menjadi sandaran masyarakat Adi selama berabad-abad," tulis pemimpin Partai Kongres Pawan Khera melalui platform X.
Tanggapan pemerintah
Pemerintah Arunachal Pradesh meningkatkan pengamanan untuk mengantisipasi demonstrasi lanjutan. Pemerintah daerah juga menilai meningkatnya kekhawatiran masyarakat dipengaruhi oleh "informasi yang salah dan kesalahpahaman" mengenai proyek tersebut.
Wakil Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Chowna Mein, menjelaskan manfaat pembangunan bendungan India melalui platform X. Ia menilai proyek tersebut dapat membantu mengantisipasi risiko yang muncul dari rencana pembangunan bendungan China berkapasitas 60.000 MW di bagian hulu sungai.
Mein menjelaskan kapasitas pembangkit listrik dalam satuan megawatt (MW) tidak sama dengan kapasitas penyimpanan air. Menurut Mein, bendungan Medog milik China dirancang untuk menghasilkan pembangkit listrik tenaga air.
Proyek tersebut diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 2.000 meter dan kapasitas penyimpanan air mencapai 5,5 miliar meter kubik.
Sementara itu, bendungan yang direncanakan India memiliki ketinggian sekitar 280-300 meter dengan kapasitas penyimpanan aktif sekitar 9,2 miliar meter kubik.
Mein mengatakan bendungan tersebut tidak hanya dirancang untuk menghasilkan listrik, tetapi juga menyimpan, mengatur, dan mengelola aliran air.
"Jika terjadi pelepasan air secara tiba-tiba atau aliran ekstrem di hulu, waduk ini dapat membantu mengatur debit air di hilir dan mengurangi risiko banjir di cekungan Siang dan daerah hilir Arunachal Pradesh dan Assam," kata Mein.
(mge/dna)


