Misteri Keberadaan Black Box Pesawat Learjet yang Jatuh dan Meledak

CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 11:15 WIB
Pesawat Learjet 60 yang mengangkut sembilan orang termasuk kru jatuh dan meledak di Palm Beach County, Florida, pada Minggu (1/11). (Aki Kuusisto via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pesawat Learjet 60 yang mengangkut sembilan orang termasuk kru jatuh dan meledak di Palm Beach County, Florida, pada Minggu (1/11).

Badan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat (NTSB) saat ini masih berupaya mencari keberadaan black box atau kotak hitam yang belum ditemukan.

NTSB menyebutkan di tahap awal penilaian, penyelidik menduga ada bagian badan pesawat lepas sebelum menabrak tanah dan meledak.

Selain itu, dari laporan yang diterima pengontrol lalu lintas udara, kru sempat menyampaikan bahwa jet mengalami turbulensi dan ada pembentukan es.

Namun, sejauh ini belum ada kesimpulan apakah kedua hal tersebut berkontribusi terhadap kecelakaan. Otoritas penerbangan masih melakukan penyelidikan.

Penyelidik NTSB Tom Chapman menduga black box atau kotak hitam itu terpasang di Learjet 60.

"Yang tak kita ketahui apakah perekam [black box] itu masih ada di pesawat. Kadang hal-hal ini berubah seiring waktu, jadi kami masih berusaha menentukan apakah ada perekam," kata Champan saat konferensi pers pada Senin.

[Gambas:Video CNN]

"Dan kemudian, tentu saja, kami sangat berharap bisa memulihkannya. Terlalu dini untuk mengetahuinya, tapi itu akan jadi data yang sangat penting," imbuh dia.

Chapman lebih lanjut mengatakan tanpa rekaman kokpit, para penyelidik punya cara lain untuk merekonstruksi saat-saat terakhir pesawat sebelum jatuh dan meledak.

Cara-cara itu mencakup pemeriksaan puing-puing, mempelajari data penerbangan, dan merekonstruksi kondisi cuaca yang dihadapi pilot saat terbang.

Para penyelidik juga mengonfirmasi beberapa bagian jet terpisah sebelum menabrak. Ini menimbulkan pertanyaan apa yang terjadi saat penurunan yang sangat cepat terjadi.

Sementara itu, pakar penerbangan John Gagliono mengatakan transmisi radio terakhir menunjukkan para pilot mati-matian mendapat kembali atas jet tersebut.

"Yang paling menonjol bagi saya, khususnya dari transmisi audio pesawat ke pengontrol lalu lintas udara, adalah bahwa awak pesawat ini melakukan segala yang mereka bisa selama mungkin hingga detik terakhir untuk menyelamatkan pesawat, menyelamatkan diri mereka sendiri, dan membuat pesawat terbang sesuai dengan seharusnya," ujar Gagliono.

Pesawat itu dilaporkan turun dengan kecepatan melebihi 32.000 kaki per menit atau lebih dari 500 kaki per detik. Gagliano menyebut penurunan itu sebagai sesuatu yang luar biasa dan menakutkan.

Dia juga mengatakan bahwa pesawat yang mengalami kerusakan mesin biasanya akan turun dengan kecepatan yang jauh lebih rendah, tergantung pada kondisi dan konfigurasinya.

"Pesawat itu kehilangan kendali saat melakukannya, karena mereka menyadarinya dan mereka tidak bisa menghentikan. Dan itu mengerikan," kata Gagliono lagi.

Meski ada laporan turbulensi dan pembentukan es, dia menilai agar publik tak berasumsi bahwa kondisi itu menyebabkan kecelakaan.

Gagliono mengatakan para penyelidik perlu memeriksa berbagai kemungkinan, termasuk cuaca, autopilot, sistem kendali penerbangan, dan potensi masalah struktural.

"Kita mungkin tidak akan pernah tahu. Daftar kemungkinan penyebabnya sangat panjang," imbuh dia.

(isa/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK