Ancaman bom palsu mengganggu puluhan penerbangan di sejumlah negara Eropa pada Kamis (5/11). Teror ini memaksa sejumlah pesawat melakukan pendaratan darurat.
Dilansir Reuters, serangkaian ancaman bom tersebut berdampak pada hampir 30 penerbangan, setelah pada Selasa (3/11) lalu tujuh penerbangan dan sebuah kapal pesiar juga menerima ancaman bom palsu.
Salah satu ancaman diterima sejumlah pihak di Bandara Fiumicino, Roma, dan Bandara Malpensa, Milan, Italia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber di bandara Italia mengatakan kepada Reuters bahwa surel (surat elektronik/email) berjudul "Threat Report" dikirimkan ke sejumlah alamat milik maskapai penerbangan, operator bandara, dan penyedia layanan bandara.
Pengirim email tersebut mengeklaim berasal dari kelompok yang menyebut diri mereka "fighters of the Male State". Pesan itu menyebut sejumlah perangkat berbahaya telah ditempatkan di pesawat yang terbang dari Helsinki dan Dublin.
Perangkat tersebut diklaim akan meledak dalam waktu 60 menit. "Hari ini langit kalian akan berubah menjadi merah," tulis pesan tersebut.
Namun, Reuters tidak dapat memastikan siapa pengirim surel tersebut maupun keterkaitannya dengan ancaman lain di Eropa.
Seorang blogger asal Rusia, Vladislav Pozdnyakov, yang mendirikan gerakan anti-feminis bernama "Male State" pada 2016, membantah keterlibatan kelompoknya. Gerakan tersebut telah dilarang di Rusia.
Pozdnyakov mengatakan kelompok Male State sudah tidak ada lagi dan tidak terlibat dalam rangkaian ancaman tersebut.
"Siapa pun yang saat ini mendalangi provokasi di negara-negara Uni Eropa dengan mengatasnamakan 'merek' ini sebenarnya hanya bertindak demi kepentingan pribadi-ibarat mengibarkan bendera pihak lain," tulisnya melalui Telegram.
Di Prancis, kantor Menteri Pertahanan Sebastien Lecornu menyatakan militer mengerahkan jet tempur untuk mencegat penerbangan Aer Lingus dari Dublin menuju Roma.
Pesawat tersebut kemudian dikawal menuju pangkalan angkatan udara di Evreux. Langkah itu diambil setelah pilot pesawat dinilai tidak bekerja sama dengan pihak berwenang sebagaimana mestinya.
Sementara itu, Angkatan Udara Bulgaria mengerahkan jet tempur untuk mengawal tiga pesawat penumpang hingga mendarat. Salah satu penerbangan Ryanair dari London menuju Sofia bahkan dialihkan ke Plovdiv, kota terbesar kedua di Bulgaria.
Di Rumania, badan intelijen melaporkan adanya ancaman bom terhadap penerbangan KLM tujuan Tel Aviv yang sempat singgah di Bukares.
Kepolisian Spanyol juga menerima tiga ancaman melalui surel dalam kurun waktu 20 menit. Ancaman tersebut menyasar dua penerbangan Air Europa dari Madrid menuju Paris serta empat penerbangan Iberia yang tiba dari Roma dan Milan.
Akibatnya, sejumlah pesawat di Madrid dihentikan atau diarahkan kembali ke area parkir. Para penumpang juga diminta turun, sementara petugas melakukan pemeriksaan terhadap pesawat.
Di Warsawa, Polandia, sebuah penerbangan maskapai LOT tujuan Paris dihentikan ketika sedang bergerak di landasan pacu menuju titik lepas landas. Para penumpang kemudian dipindahkan ke pesawat lain.
Sementara itu, kepolisian Denmark melaporkan dua pesawat menjalani pemeriksaan di Bandara Kopenhagen.
Sejumlah penerbangan lain dari maskapai EasyJet, Finnair, LOT, Wizz Air, Ryanair, dan Air Serbia juga menerima ancaman. Penerbangan tersebut memiliki tujuan antara lain Praha, Sofia, Wina, Brussel, Bukares, Roma, dan Milan.
Meski demikian, pesawat-pesawat tersebut tetap mendarat sesuai jadwal. Beberapa di antaranya mendapatkan pengawalan dari militer sebagai langkah pengamanan.
Hingga Kamis (5/11) malam waktu setempat, belum ada pemerintah yang mengungkap pihak di balik rangkaian ancaman tersebut. Belum ada klaim tanggung jawab yang dapat diverifikasi.
Sejumlah pakar keamanan menilai ancaman tersebut bisa dilakukan oleh individu yang memiliki motif pribadi atau pihak yang sekadar meniru aksi sebelumnya. Namun, mereka juga tidak mengesampingkan kemungkinan serangan hibrida yang lebih terkoordinasi.
"Dalam situasi seperti ini, atau dalam kasus serangan sabotase lainnya, sangat sulit untuk membuktikan keterlibatan negara tertentu. Namun, pola ini sesuai dengan modus operandi yang ada," ujar kepala kelompok keamanan penerbangan Dyami, Eric Schouten.
(mge/dna)

